Rabu, 9 Sep 2026
light_mode

Rapper Asal Amerika Ini Temukan Kedamaian dalam Islam

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Jumat, 4 Okt 2013
  • print Cetak

“Aku memiliki segalah hal, ketenaran, uang, wanita , rumah mewah dan semua yang diinginkan dalam hidup. Tapi aku masih saja tidak senang. Aku tak dapat menemukan kedamaian jiwa,” ujar Mutah Beale Wassin Shabazz, seorang anggota grup hip-hop Outlaw binaan rapper ternama Amerika,Tupac Shakur.

Ketenaran dan kekayaan tak membuat rapper dengan nama panggung Naopleon itu bahagia. Islam lah yang kemudian menjadi kunci kebahagiannya.

Mutah sebenarnya lahir di tengah keluarga muslim. Sang ayah merupakan Amerika-Afrika Muslim bernama Salek Beale. Ibunya, Aquilleh Beale, merupakan muslimah asal Poerto Rico. Namun keduanya meninggal saat Mutah baru berusia tiga tahun. Nahas, Mutah dan seorang adiknya menyaksikan kematian orangtua mereka yang ditembak mati kelompok garis keras. Mutah pun seketika menjadi yatim piatu yang kemudian dibesarkan oleh sang nenek dalam lingkungan nasrani.

Bersama keluarga besar, Mutah hidup dalam kemiskinan. Tak adanya pendidikan yang memadai membuat Mutah menjadi pemuda liar. Ia bahkan pernah menghisap narkoba dan sepat ditangkap aparat. Hingga kemudian Mutah ingin merubah nasibnya karena merasa iba dengan sang nenek yang mengurus banyak cucu dengan membanting tulang.

Ia pun mengejar karirnya menjadi penyanyi rap. Bermula menjadi rapper jalanan selama bertahun-tahun, Mutah kemudian dipertemukan dengan Tupac Shakur. “Tupac mengajakku untuk bergabung dengan grup Outlawz dan dari grup itulah aku langsung menjadi seleb,” ujarnya dikutip dari Majalah Weekend Trust.

Hidup glamor di dunia hiburan pun menjadi rutinitas Mutah. Inilah cita-cita Mutah sejak merintis karir dari jalanan. Ia pu tak lagi diliputi kemiskinan dan dapat memberikan hidup layak bai sang nenek. Namun apa yang terjadi, Mutah justru tak merasa bahagia. “Apakah ini adalah tujuan akhir hidupku,” pertanyaan yang selalu menjadi beban benak pria kelahiran New Jersey tersebut.

Hingga suatu hari, sang nenek yang mengurusnya dari kecil meninggal dunia. Mutah diliputi kesedihan yang sangat. Tak lama kemudian, Tupac yang menaungi grup rapnya pun meninggal dunia dengan targis. Makin berlipat gandalah kesedihan Mutah. “Aku bertanya-tanya, mengapa segala sesuatu pergi satu per satu? Mengapa semua orang yang memberiku harapan pergi satu per satu. Aku bertanya pada diri sendiri, Apakah ini benar-benar kehidupan? Apakah semua kekerasan dan sakit yang kurasa selalu ada dalam hidup?” ujar Mutah mengenang masa lalunya saat dilanda kegalauan hidup yang sangat.

Setelah berbagai peristiwa pilu, hidup Mutah tak karuan. Ia pergi dari klub malam satu ke klub lain. Ia kehilangan semangat hidupnya. Hingga suatu hari ia pernah memukuli adiknya hingga nyaris tewas. Saat itu Mutah dalam kondisi mabuk berat. Saat itulah terdapat seorang muslim berada di lokasi.

“Suatu hari aku terlibat perkelahian dengan adikku. Aku terus memukul kepalanya hingga darah tak berhenti mengucur. Lalu kami ditarik terpisah dan salah seorang bertanya, bagaimana jika saat aku sadar esok hari, aku mendapati adiikku terbunuh dengan tanganku sendiri. Sontak aku pun sadar dan sedih. Orang itu lah yang kemudian mengenalkan saya pada Islam,” kisah Mutah.

Itulah awal Mutah mengenal Islam. Ia pun kemudian mempelajari Islam dengan rasa pensaran yang sangat. “Aku tak tahu apa-apa tentang agama. Tapi aku penasaran danmencari tahu tentang Islam. Menariknya, saat mempelajarinya, aku menyadari bahwa Islam adalah cara hidup yan saya inginkan selama ini,” ujar Mutah menceritakan manisnya hidayah yang ia dapat.

Mutah pun kemudian bersyahadat. Tak tanggung-tanggung, ia ingin menjdi muslim sejati, seorang muslim yang kaffah. Tak hanya perkara wajib yang ia taati. Namun Sunnah Rasulullah pun ia jalani. Mutah begitu semangat berislam. Sejak mengenal Islam, ia mendapati ketenangan hidup yang selama ini ia inginkan.

Pensiun dan Menuntut Ilmu ke Haramain
Setelah berislam, Mutah meninggalkan profesinya sebagai rapper. Tentu pilihannya tersebut merupakan perkara yang berat. Namun dengan mengikhlaskan diri kepada Allah, Mutah pun meninggalkan dunia musik.

“Tantangan paling sulit yang harus aku hadapi adalah meninggalkan industri (musik). Bagiku, industri musik adalah way of life. Ini adalah cara hidup dan aku tahu ini adalah cara saya mendapatkan uang. Namun atas rahmat Allah , Dia membuatnya mudah bagi saya untuk pergi meninggalkan ini semua,” ujarnya.

Kemudahan itu didapatkan Mutah saat ia menunaikan ibadah haji untuk kali pertaa. Saat itu ia merasa hidupnya hanya bersama Allah. Sepulang haji, Mutah pun amat kehilangan persaan dekat itu. Ia kemudian enggan kembali ke kehidupan lamanya. Ia ingin hidupnya dipenuhi kedamaian jiwa sebagaimana saat menunaikan ibadah haji. Itulah yang benar-benar ia inginkan.

Ia kemudian pindah ke Arab Saudi dan belajar Islam disana. Sejumlah ulama dan masyayikh Saudi menjadi gurunya. Mutah bahkan seringkali menjadi motivator untuk para mualaf. Kisahnya juga difilmkan dalam sebuah dokumenter bertajuk “The Life of an Outlaw”. Saat ini Mutah sangat bahagia menjadi muslimin dan hidup di tanah kelahiran Islam. “Saudi merupakan rumah saya sekarang,” pungkasnya.(rmol)

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ramadhan Meraih Ketakwaan Hakiki

    Ramadhan Meraih Ketakwaan Hakiki

    • calendar_month Jumat, 9 Apr 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: Sri Handayani ST Guru tinggal di Padangsidempuan Ramadhan tiba semua bahagia Tua dan muda bersuka cita Bulan ampunan bulan yang berkah Bulan terbebas api neraka Andaikan saja Ramadhan semua Bulan yang tiba bulan yang ada Karena besarnya setiap pahal (lirik lagu opick) Tak terasa ramadhan tinggal menghitung hari. Setiap muslim tentunya mempersiapkan diri secara […]

  • Sapma PP Madina Bantu Ringankan Beban Nenek Ana

    Sapma PP Madina Bantu Ringankan Beban Nenek Ana

    • calendar_month Senin, 20 Jun 2022
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    LONGAT (Mandailing Natal) – Ketua Sapma PP Madina Ahmad Sarqawi menyambangi kediaman Nenek Ana (72 tahun) yang merawat 3 anak yatim piatu di Kelurahan Longat, Panyabungan Barat. Kedatangan Sarqawi yang didampingi Adian Ricky Nugraha pada Senin (20/6) dalam rangka meringankan beban Nenek Ana dengan menyerahkan bantuan atau tali asih berupa sembako dan uang tunai. Sarqawi […]

  • Dibuka Penerimaaan 20 Ribu CPNS Pemerintah Pusat dan 40 Ribu CPNS Pemda

    Dibuka Penerimaaan 20 Ribu CPNS Pemerintah Pusat dan 40 Ribu CPNS Pemda

    • calendar_month Senin, 22 Jul 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Jakarta, — Pemerintah akan melakukan seleksi penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) mulai September mendatang untuk merekrut sekitar 60 ribu pegawai baru. Menteri PAN-RB Azwar Abubakar mengemukakan, dari total 60 ribu CPNS baru itu, sebanyak 20 ribu CPNS direkrut oleh instansi pusat dan 40 ribu CPNS akan direkrut oleh pemerintah daerah. Deputi SDM Aparatur Kementerian […]

  • Irigasi Batang Gadis “Sekarat”, 11 Desa Krisis Air di Madina

    Irigasi Batang Gadis “Sekarat”, 11 Desa Krisis Air di Madina

    • calendar_month Jumat, 18 Jun 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Volume air di Saluran Kanan Irigasi Batang Gadis di Mandailing Natal telah bertahun-tahun “sekarat”. Akibatnya, petani di dua kecamatan menjerit. Yaitu Kecamatan Panyabungan dan Panyabungan Utara. Para petani dari dua kecamatan ini yang diwawancarai dalam dua pekan terakhir (tanggal 3 hingga 17/6/2021) mengungkapkan kesulitan ini telah berlangsung hampir 10 tahun, lalu […]

  • Mantan Sekretaris Panwaslu Medan Dituntut 18 Bulan

    Mantan Sekretaris Panwaslu Medan Dituntut 18 Bulan

    • calendar_month Sabtu, 12 Feb 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Medan, Mantan Sekretaris Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Kota Medan Fairuddin Madjrul, dituntut 18 bulan penjara denda Rp 50 juta subsidair 2 bulan kurungan oleh Jaksa Penuntut Umum Durpa Rajagukguk SH dalam sidang lanjutan kasus korupsi penyalahgunaan dana operasional dan honor Panwascam dan PPL se Kota Medan di Pengadilan Negeri Medan, Rabu (09/02/2010). Jaksa dalam tuntutannya […]

  • Tertib Ibadah Tanpa Campur Aduk, Arti Toleransi Sesungguhnya

    Tertib Ibadah Tanpa Campur Aduk, Arti Toleransi Sesungguhnya

    • calendar_month Selasa, 27 Des 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: Mariani Siregar, M.Pd.I Dosen Pendidikan Islam Bulan Desember kembali lagi, menandakan tahun baru mendekati. Seperti tahun-tahun sebelumnya, bulan Desember memiliki satu hari yang sakral bagi kaum Kristiani, yaitu hari Natal sebagai wujud keimanan mereka. Kemudian akan dilanjutkan dengan perayaan tahun baru yang juga merupakan bagian dari ibadah mereka. Meskipun untuk tahun baru sendiri kini […]

expand_less