Kamis, 18 Jun 2026
light_mode

Surat Tulak-tulak

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Rabu, 20 Apr 2011
  • print Cetak


(MANDAILING DALAM LINTASAN SEJARAH (I)
Oleh : Z.Pangaduan Lubis)

SuratTulak-Tulak.

Masyarakat Mandailing memiliki aksara etnisnya sendiri yang dinamakan Surat Tulak-Tulak (bukan aksara Batak). Zaman sejarah ditandai oleh penggunaan aksara. Zaman sebelum adanya penggunaan sejarah dinamakan zaman pra-sejarah. Kita belum mengetahui sejak kapan masyarakat Mandailing menggunakan aksara Surat Tulak-Tulak dalam kehidupan.

Oleh karena itu, kita dengan sendirinya pula tidak mengetahui sejak kapan Masyarakat Mandailing memasuki zaman sejarahnya. Yang kita ketahui, meskipun masyarakat Mandailing memiliki aksara etnnis ini, tapi boleh dikatakan aksara tersebut pada masa lalu tidak dipergunakan untuk mencatat atau menulis sejarah. Kalaupun aksara etnis tersebut dipergunakan buat menuliskan hal-hal yang berhubungan dengan masa lalu, ia hanya dipergunakan buat menuliskan Tarombo.

Selain itu lebih banyak dipergunakan buat mencatat ilmu pengobatan tradisional dan ilmu peramalan. Oleh karena itu hingga sekarang tidak ditemukan catatan sejarah Mandailing yang dituliskan dengan surat Tulak-Tulak. Hal-hal yang berkaitan dengan masa lalu Mandailing boleh dikatakan hanya terekam sebagai “Sejarah Lisan” berupa kisah-kisah Mandailing pada masa lalu yang kadang-kadang dituturkan oleh orang-orang yang masih mengingatnya dan sama sekali tidak dituliskan meskipun masyarakat Mandailing mempunyai aksara etnisnya sendiri.

Peninggalan Zaman Pra Sejarah

Meskipun tidak melalui penelitian arkeologis dapat kita ketahui bahwa diberbagai tempat di Mandailing terdapat berbagai peninggalan zaman pra-sejarah. Sebagai contoh, ditengah hutan yang tidak jauh letaknya dari desa Runding di sebarang sungai Batang Gadis, terdapat penginggalan zaman pra-sejarah berupa lumpang-lumpang batu berukuran besar. Karena lumpang-lumpang batu tersebut berasal dari masa megalithicum (masa kebudayaan batu besar di zaman pra-sejarah) .

Kita tidak tahu buat pasti buat apa lumpang-lumpang batu yang besar itu dipergunakan orang. Tapi dengan adanya peninggalan tersebut diperoleh bukti bahwa pada zaman pra-sejarah ditempat sekitar desa Runding sudah terdapat penduduk. Selain itu, di dalam suatu gua yang terletak tidak jauh dari desa Pastap, Muara Mais, pernah juga ditemukan kapak genggam yang terbuat dari batu (Sumatera Lith), keadaannya masih sangat kasar.

Hal ini menunjukkan bahwa kapak genggam tersebut berasal dari zaman batu tua (Palaeolithicum) yang juga merupakan zaman pra-sejarah. Ditempat lain yaitu Padang Mardia dekat Hutasiantar, Panyabungan, terdapat pula satu tugu yang dinamakan Menhir. Menhir juga merupakan peninggalan zaman pra-sejarah yaitu zaman megalithicum.

Adanya peninggalan- peninggalan zaman pra-sejarah ini membuktikan bahwa di kawasan Mandailing Godang sudah terdapat penduduk sejak zaman pra sejarah. Meraka hidup pada zaman Megalithicum dan di Mandailing Julu di sekitar gua dekat Pastap juga sudah terdapat penduduk pada zman pra sejarah yaitu pada zaman batu tua (Palaeolithicum) . Pernah pula orang menceritakan bahwa dahulu dibeberapa tempat di Mandailing Julu seperti di desa Hutapungkut orang pernah menemukan beberapa perhiasan yang terbuat dari timah dan perunggu pada waktu melakukan penggalian kuburan.

Semua bukti-bukti yang dituliskan di atas menunjukkan bahwa penduduk sudah terdapat di kawasan Mandailng Godang dan Mandailing Julu sejak zaman pra-sejarah (zaman batu tua) sampai pada zaman logam. Denga kata lain, sejak ribuan tahun yang lalu penduduk sudah terdapat di wilayah Mandailing. Apakah mereka itu merupakan leluhur orang Mandailing atau bukan, belum bisa dipastikan. Yang dapat dipastikan berdasarkan bukti-bukti yang ada ialah sejak ribuan tahun yang lalu wilayah yang bernama Mandailing yang subur dan banyak mengandung emas.

Emas

Kita tahu bahwa bangsa Hindu menyebut pulau Sumatera: Swarna Dwipa (Pulau Emas) yang menjadi tujuan bangsa orang Hindu dari India pada waktu mereka berusaha mencari emas. Di pulau Sumatera wilayah Mandailing (yang pada masa dahulu termasuk di dalamnya kawasan Pasaman) kaya dengan emas. Mandailing pada jaman dahulu dinamakan Tano Omas Sigumorsing.

Banyaknya emas di Mandailing dapat dibuktikan bahwa pada jaman Belanda di Mandailing Julu terdapat tambang emas kepunyaan Belanda yang dinamakan Tombang Ubi. Tambang emas tersebut merupakan tambang emas Belanda yang ke dua di Indonesia . Yang pertama tambang emas Belanda adalah di Pasaman yang bernama tambang Manggani. Dengan bukti yang demikian ini, cukup logis dan masuk akal kalau dikatakan orang Hindu pada awal abad Masehi mulai datang ke Mandailing buat mencari emas.

Peninggalan Hindu yang tertua di Sumatera terdapat di desa Simangambat dekat Panyabungan berupa Candi Ciwa. Menurut pakar arkeologi berkebangsaan Jerman, Schnitger candi tersebut berasal dari abad 8. Selain itu, di Pidoli Lombang, Panyabungan terdapat kawasan yang bernama Saba Biara, di tempat itu terdapat banyak bekas Candi. Di Padang Mardia, Panyabungan terdapat Lingga dan Yoni yang merupakan lambang kesuburan bagi orang Hindu.

Masih banyak terdapat di Mandailing peninggalan Hindu dan Budha yang selama ini diabaikan. Ada dugaan, orang Hindu yang datang ke Mandailing banyak yang berasal dari kerajaan Kalingga di India Timur. Oleh sebab itulah mereka disebut orang Holing. Mereka berpusat di Mandailing sebelum tersebar ke tempat-tempat lain di Sumatera. Dalam bahan Sansekerta wilayah yang dijadikan sebagai pusat sesuatu, misalnya pusat pemukiman dinamakan Mandala. Jadi pusat orang Hindu atau orang Holing di Sumatera dinamakan Mandala Holing. Lama kelamaan nama ini barubah menjadi Mandailing. Demikianlah suatu hipotesis mengenai asal nama Mandailing.

Sumber : (Tabloid Sinondang Mandaling, Edisi Agustus 2007
dari: M.Syurbainy Nasution beny_nasution@ …

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Cara AS Membangun Pertanian

    Cara AS Membangun Pertanian

    • calendar_month Jumat, 20 Feb 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Oleh: Winarno Tohir Ketua Umum KTNA Nasional   Kemajuan pertanian Amerika Serikat (AS) terutama di bidang tanaman biji-bijian seperti jagung, kedelai, wheat, sorghum, dan padi, tidak terlepas dari kebijakan dan dukungan pemerintah yang konsisten terhadap petani.  Kebijakan dan dukungan  diberikan dan dinikmati langsung oleh petani dengan tujuan utama adalah untuk menjaga agar usaha pertanian […]

  • Harun Mustafa Dukung Kemajuan Olah Raga Otomotif Madina

    Harun Mustafa Dukung Kemajuan Olah Raga Otomotif Madina

    • calendar_month Senin, 23 Sep 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN ( Mandailing Online) : Sebagai bentuk dukungan terhadap olah raga otomotif handal, Harun Mustafa Nasution selaku ketua Ikatan Motor Indonesia ( IMI) Sumut terus mendukung kegiatan kegiatan olah raga otomotif. Supergasstrack Open di Raja Batu piala Bobby Nasution dan Harun Mustafa Nasution yang berlangsung 21-22 september semalam sukses di gelar. Supergasstrack itu didukung penuh […]

  • Membangun Desa Yang Madani Optimalisasi Pemuda Melalui Dana Desa

    Membangun Desa Yang Madani Optimalisasi Pemuda Melalui Dana Desa

    • calendar_month Selasa, 5 Sep 2023
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: Ahmad Husein Dana desa yang dialokasikan dari pemerintahan pusat untuk daerah menjadi gerbong menuju desa yang maju, itulah tujuan dari alokasi dana desa. Tetapi dalam praktek di lapangan dana desa tidak dioptimalkan dalam melakukan pembangunan, akan tetapi sering dipergunakan dalam hal yang tidak produktif sehingga dana desa tidak berdampak begitu banyak terhadap kemajuan desa […]

  • Pemagaran TPU Belum Selesai

    Pemagaran TPU Belum Selesai

    • calendar_month Senin, 29 Jul 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Pembangunan pagar Tempat Pemakaman Umum (TPU) dari Badan Lingkungan Hidup Kebersihan dan Pertamanan (BLHKP) Kabupaten Mandailing Natal (Madina) hingga sampai sekarang ini masih banyak yang belum selesai. Padahal, diduga proyek tersebut sudah habis masa kontraknya.(MB)

  • Pemukulan Terhadap Polisi di Sipolu-polu Merupakan Sisi Kearifan Lokal

    Pemukulan Terhadap Polisi di Sipolu-polu Merupakan Sisi Kearifan Lokal

    • calendar_month Senin, 23 Sep 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 9Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Peristiwa penangkapan dan pemukulan oleh warga terhadap oknum polisi yang diduga berbuat mesum di Kelurahan Sipolu-polu, Panyabungan, Mandailing Natal (Madina) harus dilihat dari esensi kearifan lokal Mandailing. Itu dikatakan Camat Panyabungan, Hafizuddin pada acara silaturrahim Kapolres Madina, AKBP Mardiaz Kusin Dwihananto dengan tokoh-tokoh masyarakat Sipolu-polu, Munggu (22/9/2013) di rumah makan Paranginan […]

  • Front Ulama Madina Dukung Prabowo-Hatta

    Front Ulama Madina Dukung Prabowo-Hatta

    • calendar_month Jumat, 4 Jul 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Front Ulama Kabupaten Mandailing Natal (Fuma) mencuatkan dukungan kepada Prabowo-Hatta pada Pilpres ini. Dukunngan itu dicuatkan pada acara safari Ramadhan yang bertempat di Masjid Agung Nur Ala Nur, Panyabungan, Rabu (2/7/2014). Front Ulama ini menyerukan masyarakat Madina agar memilih dan memenangkan pasangan Capres dan Cawapres Prabowo-Hatta pada tanggal 9 Juli mendatang, […]

expand_less