Minggu, 1 Nov 2026
light_mode

Surat Tulak-tulak

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Rabu, 20 Apr 2011
  • print Cetak


(MANDAILING DALAM LINTASAN SEJARAH (I)
Oleh : Z.Pangaduan Lubis)

SuratTulak-Tulak.

Masyarakat Mandailing memiliki aksara etnisnya sendiri yang dinamakan Surat Tulak-Tulak (bukan aksara Batak). Zaman sejarah ditandai oleh penggunaan aksara. Zaman sebelum adanya penggunaan sejarah dinamakan zaman pra-sejarah. Kita belum mengetahui sejak kapan masyarakat Mandailing menggunakan aksara Surat Tulak-Tulak dalam kehidupan.

Oleh karena itu, kita dengan sendirinya pula tidak mengetahui sejak kapan Masyarakat Mandailing memasuki zaman sejarahnya. Yang kita ketahui, meskipun masyarakat Mandailing memiliki aksara etnnis ini, tapi boleh dikatakan aksara tersebut pada masa lalu tidak dipergunakan untuk mencatat atau menulis sejarah. Kalaupun aksara etnis tersebut dipergunakan buat menuliskan hal-hal yang berhubungan dengan masa lalu, ia hanya dipergunakan buat menuliskan Tarombo.

Selain itu lebih banyak dipergunakan buat mencatat ilmu pengobatan tradisional dan ilmu peramalan. Oleh karena itu hingga sekarang tidak ditemukan catatan sejarah Mandailing yang dituliskan dengan surat Tulak-Tulak. Hal-hal yang berkaitan dengan masa lalu Mandailing boleh dikatakan hanya terekam sebagai “Sejarah Lisan” berupa kisah-kisah Mandailing pada masa lalu yang kadang-kadang dituturkan oleh orang-orang yang masih mengingatnya dan sama sekali tidak dituliskan meskipun masyarakat Mandailing mempunyai aksara etnisnya sendiri.

Peninggalan Zaman Pra Sejarah

Meskipun tidak melalui penelitian arkeologis dapat kita ketahui bahwa diberbagai tempat di Mandailing terdapat berbagai peninggalan zaman pra-sejarah. Sebagai contoh, ditengah hutan yang tidak jauh letaknya dari desa Runding di sebarang sungai Batang Gadis, terdapat penginggalan zaman pra-sejarah berupa lumpang-lumpang batu berukuran besar. Karena lumpang-lumpang batu tersebut berasal dari masa megalithicum (masa kebudayaan batu besar di zaman pra-sejarah) .

Kita tidak tahu buat pasti buat apa lumpang-lumpang batu yang besar itu dipergunakan orang. Tapi dengan adanya peninggalan tersebut diperoleh bukti bahwa pada zaman pra-sejarah ditempat sekitar desa Runding sudah terdapat penduduk. Selain itu, di dalam suatu gua yang terletak tidak jauh dari desa Pastap, Muara Mais, pernah juga ditemukan kapak genggam yang terbuat dari batu (Sumatera Lith), keadaannya masih sangat kasar.

Hal ini menunjukkan bahwa kapak genggam tersebut berasal dari zaman batu tua (Palaeolithicum) yang juga merupakan zaman pra-sejarah. Ditempat lain yaitu Padang Mardia dekat Hutasiantar, Panyabungan, terdapat pula satu tugu yang dinamakan Menhir. Menhir juga merupakan peninggalan zaman pra-sejarah yaitu zaman megalithicum.

Adanya peninggalan- peninggalan zaman pra-sejarah ini membuktikan bahwa di kawasan Mandailing Godang sudah terdapat penduduk sejak zaman pra sejarah. Meraka hidup pada zaman Megalithicum dan di Mandailing Julu di sekitar gua dekat Pastap juga sudah terdapat penduduk pada zman pra sejarah yaitu pada zaman batu tua (Palaeolithicum) . Pernah pula orang menceritakan bahwa dahulu dibeberapa tempat di Mandailing Julu seperti di desa Hutapungkut orang pernah menemukan beberapa perhiasan yang terbuat dari timah dan perunggu pada waktu melakukan penggalian kuburan.

Semua bukti-bukti yang dituliskan di atas menunjukkan bahwa penduduk sudah terdapat di kawasan Mandailng Godang dan Mandailing Julu sejak zaman pra-sejarah (zaman batu tua) sampai pada zaman logam. Denga kata lain, sejak ribuan tahun yang lalu penduduk sudah terdapat di wilayah Mandailing. Apakah mereka itu merupakan leluhur orang Mandailing atau bukan, belum bisa dipastikan. Yang dapat dipastikan berdasarkan bukti-bukti yang ada ialah sejak ribuan tahun yang lalu wilayah yang bernama Mandailing yang subur dan banyak mengandung emas.

Emas

Kita tahu bahwa bangsa Hindu menyebut pulau Sumatera: Swarna Dwipa (Pulau Emas) yang menjadi tujuan bangsa orang Hindu dari India pada waktu mereka berusaha mencari emas. Di pulau Sumatera wilayah Mandailing (yang pada masa dahulu termasuk di dalamnya kawasan Pasaman) kaya dengan emas. Mandailing pada jaman dahulu dinamakan Tano Omas Sigumorsing.

Banyaknya emas di Mandailing dapat dibuktikan bahwa pada jaman Belanda di Mandailing Julu terdapat tambang emas kepunyaan Belanda yang dinamakan Tombang Ubi. Tambang emas tersebut merupakan tambang emas Belanda yang ke dua di Indonesia . Yang pertama tambang emas Belanda adalah di Pasaman yang bernama tambang Manggani. Dengan bukti yang demikian ini, cukup logis dan masuk akal kalau dikatakan orang Hindu pada awal abad Masehi mulai datang ke Mandailing buat mencari emas.

Peninggalan Hindu yang tertua di Sumatera terdapat di desa Simangambat dekat Panyabungan berupa Candi Ciwa. Menurut pakar arkeologi berkebangsaan Jerman, Schnitger candi tersebut berasal dari abad 8. Selain itu, di Pidoli Lombang, Panyabungan terdapat kawasan yang bernama Saba Biara, di tempat itu terdapat banyak bekas Candi. Di Padang Mardia, Panyabungan terdapat Lingga dan Yoni yang merupakan lambang kesuburan bagi orang Hindu.

Masih banyak terdapat di Mandailing peninggalan Hindu dan Budha yang selama ini diabaikan. Ada dugaan, orang Hindu yang datang ke Mandailing banyak yang berasal dari kerajaan Kalingga di India Timur. Oleh sebab itulah mereka disebut orang Holing. Mereka berpusat di Mandailing sebelum tersebar ke tempat-tempat lain di Sumatera. Dalam bahan Sansekerta wilayah yang dijadikan sebagai pusat sesuatu, misalnya pusat pemukiman dinamakan Mandala. Jadi pusat orang Hindu atau orang Holing di Sumatera dinamakan Mandala Holing. Lama kelamaan nama ini barubah menjadi Mandailing. Demikianlah suatu hipotesis mengenai asal nama Mandailing.

Sumber : (Tabloid Sinondang Mandaling, Edisi Agustus 2007
dari: M.Syurbainy Nasution beny_nasution@ …

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Waspadalah Menjatuhkan Vonis, Wahai Para Hakim!

    Waspadalah Menjatuhkan Vonis, Wahai Para Hakim!

    • calendar_month Rabu, 4 Agt 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: Nandoh Fikriyyah Islam Dosen dan Pengamat Politik Kasus Taipan Djoko Tjandra atau Djoksan Mujur dan Jaksa Pinangki sedang ramai dibincangkan. Pasalnya, masa hukumannya mendapat korting dari hakim Pengadilan Tinggi Jakarta. Pada peradilan tingkat pertama, Djoksan yang bertatus terpidana kasus pengecekan status red notice dan penghapusan namanya dari DPO di Ditjen Imigrasi Kemenkumham, divonis penjara […]

  • Dua Pendeta Jadi Korban

    Dua Pendeta Jadi Korban

    • calendar_month Rabu, 15 Des 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    * Termakan Isu Penculikan, Warga Pancurbatu Mengamuk * Poldasu Lacak Penebar Isu, 15 Tahun Penjara untuk Penganiaya MEDAN-Aksi main hakim sendiri terkait isu penculikan anak kembali terjadi. Kali ini di Kecamatan Pancurbatu, Selasa (14/12) sekitar pukul 11.00 WIB. Keluarga pendeta dari Gereja Gerakan Pentakosta (GGP) nyaris meninggal sia-sia dibakar warga yang tak percaya mereka pelayan […]

  • Golkar pasca Amru “Mau dibawa kemana”

    Golkar pasca Amru “Mau dibawa kemana”

    • calendar_month Sabtu, 28 Agt 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    Perjalanan Pilkada madina telah usai namun bagi Golkar selama ini sebagai partai pendukung incumbent masih terus menyisakan banyak pertanyaan. Mungkin persoalannya masih agak sedikit mengambang, artinya memang perlu waktu tetapi kalau kritikan itu justru sangat mendasar dan disampaikan maka sudah semestinya perlu di terima, di evaluasi dan dikerjakan dengan lebih baik. Dari awal Partai golkar […]

  • Pencairan Dana Desa Menunggu Peraturan Bupati

    Pencairan Dana Desa Menunggu Peraturan Bupati

    • calendar_month Jumat, 8 Mei 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

      PANYABUNGAN  (Mandailing Online) – Pencairan Dana Desa di Kabupaten Mandailing Natal (Madina) masih menunggu Peraturan Bupati (Perbub).  “Saat ini masih persiapan Perbub,  dan kalau Perbub-nya sudah selesai Dana Desa akan dicairkan,”  ujar Kepala Bagian Pemerintahan Pemkab Madina, Zulhairi Pulungan menjawab Mandailing Online,  Jumat (8/5). Dana Desa (DD) berbeda dengan Anggaran Dana Desa (ADD). Jika […]

  • PN Panyabungan Jangan Main-main

    PN Panyabungan Jangan Main-main

    • calendar_month Kamis, 25 Nov 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan, Pengadilan Negeri Panyabungan diminta tidak main-main dalam menyidangkan kasus pengisap ganja dengan terdakwa Heriansyah Hanzali Dalimunte (PNS), Dedek Ispansyah Siregar (PNS), Edi Syahputra (wiraswasta) dan Samsuddin Batubara (wiraswasta). Hal itu disampaikan Anggota DPRD Mandailing Natal Binsar Nasution di Gedung DPRD Madina, Rabu (24/11/2010). Dia meminta PN Panyabungan tidak main-main menyidangkan kasus ini karena kasus […]

  • KOPINTA Mandheling Coffee Wakili Produk Madina di Mandalika

    KOPINTA Mandheling Coffee Wakili Produk Madina di Mandalika

    • calendar_month Rabu, 2 Mar 2022
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Masyarakat Mandailing Natal (Madina) patut berbangga dengan produk KOPINTA Mandheling Coffee. Pasalnya brand ini akan mewakili Madina pada ajang MotoGP Mandalika tahun ini. Hal itu sesuai dengan surat Kementerian Pariwisata Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif nomor: B/UM.07.01/52/DP.6/2022 tentang Pengumuman Lulus Seleksi Event Planogram Goes to Mandalika 2022. Produk KOPINTA Mandheling […]

expand_less