Rabu, 15 Apr 2026
light_mode

Surat Tulak-tulak

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Rabu, 20 Apr 2011
  • print Cetak


(MANDAILING DALAM LINTASAN SEJARAH (I)
Oleh : Z.Pangaduan Lubis)

SuratTulak-Tulak.

Masyarakat Mandailing memiliki aksara etnisnya sendiri yang dinamakan Surat Tulak-Tulak (bukan aksara Batak). Zaman sejarah ditandai oleh penggunaan aksara. Zaman sebelum adanya penggunaan sejarah dinamakan zaman pra-sejarah. Kita belum mengetahui sejak kapan masyarakat Mandailing menggunakan aksara Surat Tulak-Tulak dalam kehidupan.

Oleh karena itu, kita dengan sendirinya pula tidak mengetahui sejak kapan Masyarakat Mandailing memasuki zaman sejarahnya. Yang kita ketahui, meskipun masyarakat Mandailing memiliki aksara etnnis ini, tapi boleh dikatakan aksara tersebut pada masa lalu tidak dipergunakan untuk mencatat atau menulis sejarah. Kalaupun aksara etnis tersebut dipergunakan buat menuliskan hal-hal yang berhubungan dengan masa lalu, ia hanya dipergunakan buat menuliskan Tarombo.

Selain itu lebih banyak dipergunakan buat mencatat ilmu pengobatan tradisional dan ilmu peramalan. Oleh karena itu hingga sekarang tidak ditemukan catatan sejarah Mandailing yang dituliskan dengan surat Tulak-Tulak. Hal-hal yang berkaitan dengan masa lalu Mandailing boleh dikatakan hanya terekam sebagai “Sejarah Lisan” berupa kisah-kisah Mandailing pada masa lalu yang kadang-kadang dituturkan oleh orang-orang yang masih mengingatnya dan sama sekali tidak dituliskan meskipun masyarakat Mandailing mempunyai aksara etnisnya sendiri.

Peninggalan Zaman Pra Sejarah

Meskipun tidak melalui penelitian arkeologis dapat kita ketahui bahwa diberbagai tempat di Mandailing terdapat berbagai peninggalan zaman pra-sejarah. Sebagai contoh, ditengah hutan yang tidak jauh letaknya dari desa Runding di sebarang sungai Batang Gadis, terdapat penginggalan zaman pra-sejarah berupa lumpang-lumpang batu berukuran besar. Karena lumpang-lumpang batu tersebut berasal dari masa megalithicum (masa kebudayaan batu besar di zaman pra-sejarah) .

Kita tidak tahu buat pasti buat apa lumpang-lumpang batu yang besar itu dipergunakan orang. Tapi dengan adanya peninggalan tersebut diperoleh bukti bahwa pada zaman pra-sejarah ditempat sekitar desa Runding sudah terdapat penduduk. Selain itu, di dalam suatu gua yang terletak tidak jauh dari desa Pastap, Muara Mais, pernah juga ditemukan kapak genggam yang terbuat dari batu (Sumatera Lith), keadaannya masih sangat kasar.

Hal ini menunjukkan bahwa kapak genggam tersebut berasal dari zaman batu tua (Palaeolithicum) yang juga merupakan zaman pra-sejarah. Ditempat lain yaitu Padang Mardia dekat Hutasiantar, Panyabungan, terdapat pula satu tugu yang dinamakan Menhir. Menhir juga merupakan peninggalan zaman pra-sejarah yaitu zaman megalithicum.

Adanya peninggalan- peninggalan zaman pra-sejarah ini membuktikan bahwa di kawasan Mandailing Godang sudah terdapat penduduk sejak zaman pra sejarah. Meraka hidup pada zaman Megalithicum dan di Mandailing Julu di sekitar gua dekat Pastap juga sudah terdapat penduduk pada zman pra sejarah yaitu pada zaman batu tua (Palaeolithicum) . Pernah pula orang menceritakan bahwa dahulu dibeberapa tempat di Mandailing Julu seperti di desa Hutapungkut orang pernah menemukan beberapa perhiasan yang terbuat dari timah dan perunggu pada waktu melakukan penggalian kuburan.

Semua bukti-bukti yang dituliskan di atas menunjukkan bahwa penduduk sudah terdapat di kawasan Mandailng Godang dan Mandailing Julu sejak zaman pra-sejarah (zaman batu tua) sampai pada zaman logam. Denga kata lain, sejak ribuan tahun yang lalu penduduk sudah terdapat di wilayah Mandailing. Apakah mereka itu merupakan leluhur orang Mandailing atau bukan, belum bisa dipastikan. Yang dapat dipastikan berdasarkan bukti-bukti yang ada ialah sejak ribuan tahun yang lalu wilayah yang bernama Mandailing yang subur dan banyak mengandung emas.

Emas

Kita tahu bahwa bangsa Hindu menyebut pulau Sumatera: Swarna Dwipa (Pulau Emas) yang menjadi tujuan bangsa orang Hindu dari India pada waktu mereka berusaha mencari emas. Di pulau Sumatera wilayah Mandailing (yang pada masa dahulu termasuk di dalamnya kawasan Pasaman) kaya dengan emas. Mandailing pada jaman dahulu dinamakan Tano Omas Sigumorsing.

Banyaknya emas di Mandailing dapat dibuktikan bahwa pada jaman Belanda di Mandailing Julu terdapat tambang emas kepunyaan Belanda yang dinamakan Tombang Ubi. Tambang emas tersebut merupakan tambang emas Belanda yang ke dua di Indonesia . Yang pertama tambang emas Belanda adalah di Pasaman yang bernama tambang Manggani. Dengan bukti yang demikian ini, cukup logis dan masuk akal kalau dikatakan orang Hindu pada awal abad Masehi mulai datang ke Mandailing buat mencari emas.

Peninggalan Hindu yang tertua di Sumatera terdapat di desa Simangambat dekat Panyabungan berupa Candi Ciwa. Menurut pakar arkeologi berkebangsaan Jerman, Schnitger candi tersebut berasal dari abad 8. Selain itu, di Pidoli Lombang, Panyabungan terdapat kawasan yang bernama Saba Biara, di tempat itu terdapat banyak bekas Candi. Di Padang Mardia, Panyabungan terdapat Lingga dan Yoni yang merupakan lambang kesuburan bagi orang Hindu.

Masih banyak terdapat di Mandailing peninggalan Hindu dan Budha yang selama ini diabaikan. Ada dugaan, orang Hindu yang datang ke Mandailing banyak yang berasal dari kerajaan Kalingga di India Timur. Oleh sebab itulah mereka disebut orang Holing. Mereka berpusat di Mandailing sebelum tersebar ke tempat-tempat lain di Sumatera. Dalam bahan Sansekerta wilayah yang dijadikan sebagai pusat sesuatu, misalnya pusat pemukiman dinamakan Mandala. Jadi pusat orang Hindu atau orang Holing di Sumatera dinamakan Mandala Holing. Lama kelamaan nama ini barubah menjadi Mandailing. Demikianlah suatu hipotesis mengenai asal nama Mandailing.

Sumber : (Tabloid Sinondang Mandaling, Edisi Agustus 2007
dari: M.Syurbainy Nasution beny_nasution@ …

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • BPN Bebaskan Puluhan Hektare Lahan Bandara Madina

    BPN Bebaskan Puluhan Hektare Lahan Bandara Madina

    • calendar_month Rabu, 8 Des 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Bupati Mandailing Natal (Madina) H. M. Ja’far Sukhairi Nasution menerima sertifikat tanah pembebasan lahan bandara Mandailing Natal dari Badan Pertanahan Nasional Madina. Penyerahan sertifikat dilaksanakan di kantor Bupati, Selasa (07/12). Adapun luas lahan yang akan dibebaskan sebanyak 28 hektare ditambah 5 hektare untuk akses menyusul yang tertinggal. Bupati Sukhairi mengatakan […]

  • Pegawai Honorer Jadi Kades. Ini Kata PMD Madina

    Pegawai Honorer Jadi Kades. Ini Kata PMD Madina

    • calendar_month Kamis, 20 Feb 2025
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    MADINA ( Mandailing Online ): Terkait Kepala Desa Batang Gadis yang masih ber status honorer di Kecamatan Panyabungan Utara, Kabupaten Mandailing Natal ( Madina ). Kepala Bidang Pemerintahan Desa Dinas PMD Madina Anjur Brutu mengatakan. Tidak ada aturan yang melanggar hal tersebut selagi Kades itu diberhentikan dari statusnya tenaga honorer apabila ia menang dalam pemilihan […]

  • Pembantaian Sugiono Diusut

    Pembantaian Sugiono Diusut

    • calendar_month Selasa, 14 Des 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    STM Hilir, Polsek Talun Kenas masih melakukan pemeriksaan terhadap saksi-saksi terkait pembantaian Sugiono (30) warga Dusun Kampung Tengah, Desa Jati Sari, Kecamatan Tinggi Raja, Asahan yang terjadi di Dusun Kampung Tanjung, Desa Limau Mungkur, Kecamatan STM Hilir, Kabupaten Deli Serdang, Ahad (12/12/2010). Hal itu dikatakan Kanit Reskrim Polsek Talun Kenas Iptu Andi Alfian di ruang […]

  • Atika Sambut Kepulangan Jamaah Haji di Medan

    Atika Sambut Kepulangan Jamaah Haji di Medan

    • calendar_month Kamis, 27 Jun 2024
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MEDAN (Mandailing Online) –  Sebanyak 360 jamaah haji tergabung dalam Kelompok Terbang (Kloter) 3 Debarkasi Medan, Rabu (26/06/2024) sekira pukul 19.13 wib tiba di Bandara Kualanamu Internasional Airport. Adapun jamaah haji tergabung dalam Kloter 3 berjumlah 360 orang terdiri dari 350 jamaah haji asal Kabupaten Mandailing Natal, 2 jamaah haji asal Langkat (Mutasi) yaitu Erlis Afriyanti Binti Muclis […]

  • Korban Sipil Meningkat, KontraS Sumut Desak Kapoladsu Usut Peredaran Senjata Api Ilegal

    Korban Sipil Meningkat, KontraS Sumut Desak Kapoladsu Usut Peredaran Senjata Api Ilegal

    • calendar_month Selasa, 29 Jun 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      MEDAN (Mandailing Online) – KontraS Sumut mendesak Poldasu segera memutus mata rantai peredaran senjata api ilegal di Sumatera Utara. Desakan itu menyusul maraknya kasus penembakan warga sipil yang dilakukan OTK akhir-akhir ini di Sumut. Kasus terkini adalah peristiwa penembakan terhadap satu pemimpim redaksi suatu media di Simalungun, Sumut. Kejahatan ini disokong oleh adanya peredaran […]

  • Narkoba Sudah Menggerogoti Kampung Halamanku

    Narkoba Sudah Menggerogoti Kampung Halamanku

    • calendar_month Kamis, 6 Mei 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh : Siti Khadijah Sihombing, S.Pd Pemerhati generasi muda Baru-baru ini kita dikejutkan dengan begitu banyaknya kasus tindak pidana narkoba yang melanda kota Barus. Bukan 1 orang saja yang menjadi tersangka tetapi banyak sekali tersangka yang beruntun tertangkap di tanggal yang sama. Mulai dari bapak-bapak sampai anak muda menjadi pengguna dan pengedar. Menurut keterangan Kapolres […]

expand_less