Selasa, 27 Okt 2026
light_mode

Dr. Radjamin Nasution Walikota Pertama Surabaya

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Selasa, 24 Mei 2022
  • print Cetak

dr Radjamin Nasution

Namanya dr. Radjamin Nasution, gelar Sutan Kumala Pontas, lahir di Barbaran Julu, Panyabungan Barat, Mandailing Natal, Sumatera Utara tanggal 15 Agustus 1892.

Di Surabaya, Radjamin Nasution termasuk bumiputera yang berpendidikan tinggi. Naluri dan jalan pikirannya bangkit. Apalagi ia menyadari bahwa tinggal dan berkeluarga di tempat kelahiran sobatnya, dr. Soetomo. Radjamin mulai menyingsingkan lengan baju, memulai babak baru bertarung berhadapan dengan kaum Belanda di parlemen Kota Surabaya. Karir Radjamin di parlemen makin menguat hingga terpilih menjadi wakil Jawa Timur mewakili Kota Surabaya ke Volksraad (parlemen pusat) dari Partai Parindra. Posisi Radjamin menjadi “double gardan”, di satu tangan menjadi anggota senior Dewan Kota Surabaya (wethouder), dan di tangan lainnya sebagai anggota Volksraad.

Dari kampung ke kampung, Radjamin Nasution melihat kondisi masyarakat dan menampung aspirasi rakyatnya. Dalam hal tertentu, Radjamin tidak segan-segan menegur dan menggertak Walikota Surabaya, Fuchter yang berkebangsaan Belanda jika ada pembangunan yang dijalankan jauh menyimpang dari kebutuhan rakyat.

Figur Radjamin galak terhadap Belanda, sebaliknya santun terhadap rakyatnya. Karakter yang lengkap ini juga disukai pasukan Jepang. Ketika datang pertama kali ke Surabaya, militer Jepang mengangkatnya sebagai walikota, menggantikan kedudukan Fuchter yang saat itu sibuk mengurusi soal deportasi bangsa Eropa dari Surabaya. Bahkan di masa pendudukan Jepang, Radjamin kerap bersinggungan dengan kebijakan pemerintah dari negeri sakura itu.

Saat pemerintahan Jepang menyatakan “kalah” dalam Perang Dunia II, setelah bom atom dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki, tepat pada tanggal 17 Agustus 1945 Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, Takahashi Ichiro kemudian menyerahkan sepenuhnya kepala pemerintahan Kota Surabaya kepada wakilnya, Radjamin Nasution.

Ketika Jepang takluk atas sekutu, pimpinan Republik di Jakarta mengangkatnya menjadi walikota. Konon, pengangkatan Radjamin sebagai walikota incumbent itu atas penilaian Ir. Soekarno sendiri. Soekarno adalah putra daerah Surabaya (lahir dan dibesarkan di Surabaya). Ini berarti, Radjamin tidak memerlukan rekomendasi Amir Sjarifoeddin dan M. Hatta untuk penunjukannya, karena Soekarno sendiri yang merekomendasikan.

Soekarno, Hatta dan Amir adalah tiga founding father negara Republik Indonesia. Sedangkan Amir Sjarifoeddin (Harahap) adalah adik sekampung halaman Radjamin di Tapanuli Selatan.

Radjamin Nasution yang bertempat tinggal di Jalan Alun-alun Rangkah, Surabaya itu, memerintah Kota Surabaya dalam suasana perang. Saat menjadi walikota, Radjamin lebih banyak disibukkan dengan urusan perang. Ketika terjadi pertempuran sengit antara Arek-arek Suroboyo melawan Sekutu yang dikendalikan oleh tentara Inggris, banyak korban berjatuhan. Ratusan dan mungkin ribuan orang gugur di medan perang Surabaya. Patriot bangsa ini kemudian dikuburkan di berbagai tempat.

Atas gagasan Walikota Surabaya Radjamin Nasution, kemudian pemakaman para pejuang yang gugur itu dipindahkan ke lapangan “Canna” (Sekarang TMP Kusuma Bangsa). Untuk pertama kalinya dimakamkan 26 orang pejuang. Upacara pemakaman ini dipimpin langsung oleh Radjamin Nasution selaku kepala pemerintahan Kota Surabaya. Salah satu putranya ialah Irsan Radjamin, suami dari wanita pejuang Surabaya, Hj. Lukitaningsih Irsan Radjamin yang pernah menjabat Ketua Umum Wirawati Catur Panca (Ibu-ibu Kelasyakaran Pejuang Eksponen Angkatan 45).

Ketika menjadi walikota, Radjamin bersama stafnya sibuk mengurusi pengungsian. Radjamin yang seorang dokter juga mengambil posisi sebagai Kepala Dinas Kesehatan Surabaya dan mengkoordinasikan save and rescue terhadap pejuang-pejuang yang terluka dari medan perang. Radjamin berinisiatif mengumpulkan pakaian bekas dan karung goni untuk bahan pakaian para pejuang di Surabaya. Radjamin mondar mandir antara markas pemerintahan Kota Surabaya di pengungsian (Mojokerto dan Tulungagung) dan front pertempuran di Kota Surabaya. Namun setelah pengakuan kedaulatan RI, Radjamin yang bertindak sebagai walikota di pengungsian dan belum pernah dipecat, tak dinyana haknya diambil alih alias dirampas. Radjamin lebih memilih berjuang kembali lewat parlemen untuk bisa tetap dekat dengan rakyatnya.

Sesungguhnya Radjamin Nasution bergelar Sutan Kumala Pontas jauh sebelum dinobatkan rakyat Surabaya sebagai “Arek Soerabaya”. Radjamin sudah menganggap Kota Surabaya sebagai kampung halamannya sendiri.

Radjamin meninggal dunia pada 10 Februari 1957 dan dimakamkan di Surabaya. Saat jenazah disemayamkan di rumah duka ada yang mengusulkan agar almarhum dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kusuma Bangsa. Sebab, dalam kegiatannya menjelang dan setelah Kemerdekaan RI selalu berada di garis perjuangan. Namun atas “wasiat” almarhum yang disampaikan oleh anak-anaknya, ia ingin dimakamkan di tengah-tengah warga Surabaya. Radjamin Nasution dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Rangkah, di Jalan Kenjeran.

Dan diakhir hayatnya beliau sempat tidak diakui sebagai Walikota Surabaya.

Pengurus Besar Ikatan Pemuda Mandailing (PB IPM) meminta kepada Pemerintah Indonesia untuk mengangkat Rajamin Nasution gelar Sutan Kumala Pontas menjadi Pahlawan Nasional Republik Indonesia.***

Naskah ini dikirim Pengurus Besar Ikatan Pemuda Mandailing

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Seni Etnik Mandailing Juara I di Culture Fest of North Sumatra 2024

    Seni Etnik Mandailing Juara I di Culture Fest of North Sumatra 2024

    • calendar_month Rabu, 8 Mei 2024
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MEDAN (Mandailing Online) – Kolaborasi Gordang Sambilan, Gondang dan Tor-tor Mandailing meraih juara I di Culture Fest of North Sumatra 2024. Culture Fest of North Sumatra 2024 diselenggarakan Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Sumatera Utara tanggal 6 hingga 7 Mei 2024 di halaman UPT Musium Negeri Sumut, Medan. Grup yang menyabet juara I […]

  • Tangani Stunting, Atika Bentuk Dua Tim

    Tangani Stunting, Atika Bentuk Dua Tim

    • calendar_month Selasa, 19 Apr 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) –  Wakil Bupati Mandailing Natal (Madina) Atika Azmi Utammi Nasution mengatakan pihaknya akan membentuk dua tim untuk menangani masalah stunting di Madina. Dua tim yang dibentuk akan bekerja dua arah, tetapi satu tujuan. “Dua arah satu tujuan itu, menyiapkan tim koreksi (data) dan tim penurunan stunting. Kemudian update, aksi kompetensi di […]

  • Pendidikan Gratis dan Kesehatan Gratis Sudah Mulai Sejak 2012  Apakah Pengunjukrasa Pura-pura Tidak Tahu

    Pendidikan Gratis dan Kesehatan Gratis Sudah Mulai Sejak 2012 Apakah Pengunjukrasa Pura-pura Tidak Tahu

    • calendar_month Kamis, 17 Jan 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 3Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Aliansi yang berunjukrasa menurunkan bupati ke DPRD Madina, tadi siang, Kamis (17/1) dinilai kurang mengetahui program pendidikan gratis dan kesehatan gratis yang sudah dimulai Pemkab Madina sejak tahun 2012 lalu sebagai implementasi visi misi Hidayat-Dahlan. “Pendidikan Gratis dan Kesehatan Gratsi di Madina sudah digulirkan bupati Madina sejak tahun 2012, kok pengunjukrasa […]

  • Sosok Amin Nasution di Mata Prof. Zulkarnain Lubis

    Sosok Amin Nasution di Mata Prof. Zulkarnain Lubis

    • calendar_month Kamis, 18 Jul 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      MEDAN (Mandailing Online) – Ketua LBH Al-Amin, HM Amin Nasution dinilai sebagai sosok yang memiliki visi kerakyatan. Itu diutarakan Prof. DR. Zulkarnain Lubis menjawab Mandailing Online via telefon seluler, Kamis (18/7/2019). HM Amin Nasution,SH.MA dinilai sebagai seorang praktisi hukum yang telah banyak memberikan bantuan hukum kepada rakyat yang kurang mampu. “Jiwa sosialnya sangat tinggi,” […]

  • Dianggap Berjasa, Warga Banjar Malayu Janji Menangkan Harun – Ichwan di Pilkada Madina

    Dianggap Berjasa, Warga Banjar Malayu Janji Menangkan Harun – Ichwan di Pilkada Madina

    • calendar_month Selasa, 8 Okt 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    Banjar Malayu ( Mandailing Online) : Tim Harun – Ichwan kali ini menelusuri  daerah Desa Banjar Malayu di Kecamatan Batang Natal, Kabupaten Mandailing Natal ( Madina). Dengan mengendarai kendaraan khusus Of Road, tim ini akhirnya bisa sampai ke lokasi dan disambut hangat masyarakat sekitar. ” Terimakasih atas kedatangan Mudir Ponpes Mustafawiyah beserta tim On Ma […]

  • Pesantren Pertanyakan Pendidikan Gratis

    Pesantren Pertanyakan Pendidikan Gratis

    • calendar_month Rabu, 25 Jul 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Kotanopan (MO) – Program pendidikan gratis yang sudah berlangsung untuk tingkat SLTA di Kabupaten Mandailing Natal (Madina) menuai protes dari kalangan pesantren. Pasalnya program pasangan Hidayat-Dahlan ini tak mengikutkan pesantren dan Madrastah Aliyah. Pimpinan Pesantren Subulussalam, Kotanopan, Esmin Pulungan, S. Ag menilai Pemkab Madina tidak adil dalam memberlakukan program pendidikan gratis tersebut karena hanya diperuntukkan […]

expand_less