TANO BATO; JEJAK SUNYI REVOLUSI PENDIDIKAN WILLEM ISKANDER
- account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
- calendar_month 1 menit yang lalu
- print Cetak

Oleh: Moechtar Nasution*
Coba bayangkan dulu sebuah pagi di pedalaman Mandailing pas medio abad ke-19. Suatu wilayah yang terkunci di antara rimbunnya hutan tropis. Jalannya berlumpur, cuma dilewati pedati dan derap kaki kuda para pejabat kolonial yang angkuh. Di sana, sunyi itu bukan sekadar ketiadaan bunyi, tapi isolasi yang terstruktural secara rapi. Di bawah atap rumbia rumah panggung, masyarakat agraris hidup dalam kepasrahan tradisi lisan. Benar-benar sangat terisolasi. Dunia luar rasanya jauh sekali, terhalang jajaran Bukit Barisan dan dinding tebal kebijakan Batavia yang sengaja membiarkan tanah ini buta huruf. Tapi, di tengah bentang alam yang beku, kaku dan terjajah itulah, sebuah kegelisahan yang ganjil mulai tumbuh dari kepala seorang anak muda setempat yang bernama Sati Nasution—kelak dunia menamainya Willem Iskander. Ari-arinya ditanam tahun 1840, tak lama setelah perang Paderi berakhir. Saat itu, wilayah ini berada dalam kondisi pasca perang yang getir. Invasi Paderi ke tanah Mandailing tidak hanya menghancurkan tatanan sosial namun juga memorak-porandakan “huta” demi “huta”, memicu kelaparan dan menyisakan trauma sosial berkepanjangan.
Willem tumbuh besar menyaksikan peradaban lokal yang sedang “sekarat” dan kehilangan generasi terdidiknya. Mandailing harus sembuh dan obatnya bukan perang fisik yang baru melainkan pendidikan dengan harapan melahirkan generasi baru yang terdidik sehingga keagungan peradaban itu bisa dipulihkan kembali. Begitulah kira-kira yang tersimpan di hati Sati Nasution muda, motivasi luhur yang menjadi penyemangat dalam kehidupan sehari-hari.
Kondisi tanah Mandailing kontradiktif jika dibenturkan dengan garis waktu sejarah di Jawa. Pas Kweekschool Tano Bato resmi berdiri tahun 1862, Jepara masih sangat sunyi dari hiruk pikuk pendidikan, bahkan Raden Ajeng Kartini belum lahir ke dunia (ia baru lahir tahun 1879). Pun dengan Yogyakarta, masih sangat teduh untuk urusan pencerahan melalui pendidikan. Ki Hadjar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional baru mengembuskan napas pertamanya pada tahun 1889 – atau sekitar tiga belas tahun setelah Willem Iskander meninggal dunia. Begitu juga dengan Muhammad Syafei (INS Kayutanam) baru bergerak di tahun 1926 ketika arus nasionalisme mulai ramai diperbincangkan. Artinya, ketika pergerakan emansipasi perempuan di Jepara belum menjadi coretan surat-surat, atau konsep merdeka belajar Taman Siswa di Yogyakarta belum menjelma jadi angan-angan, atau saat para pendiri Budi Utomo memikirkan pentingnya organisasi dan pendidikan modern bagi bumiputera di tahun 1908, revolusi pendidikan Willem Iskander di Mandailing sudah berjalan hampir setengah abad sebelumnya. Willem bergerak sendirian di abad ke-19, menembus pekatnya era kolonial yang paling represif.
Dia melakukan revolusi radikal dalam pendidikan dengan mencetak para guru bumiputera sendirian, sekali lagi bergerak sendiri tanpa menunggu fajar abad ke-20 menyingsing. Visi, dedikasi, dan pengabdiannya melampau zamannya. Bukan hanya puluhan tahun tapi ratusan tahun yang dilewatinya.
Di pedalaman Sumatera yang dikelilingi hutan tropis yang lebat dan hamparan kebun kopi di kaki pegunungan Bukit Barisan dengan puncaknya gunung Sorik Marapi itulah pemberontakan aksara dimulai; sebuah gerakan yang sunyi tapi teramat berarti. Tano Bato, suatu ‘huta’ yang mungkin di peta kolonial pun tidak pernah tercatat, justru menjadi tempat di mana perjuangan pendidikan itu bermula. Bermodalkan kegigihan dan kesungguhan, dengan papan tulis seadanya dan kapur yang hanya terbilang, Willem meretas kebodohan. Ia bergerak membebaskan belenggu kemiskinan, semata-mata untuk memanusiakan manusia supaya menjadi manusia seutuhnya.
Gelisah di Amsterdam
Membayangkan Sati Nasution itu sebetulnya membayangkan kegetiran seorang anak muda pribumi di abad ke-19. Waktu itu, jangan harap anak kampung bisa gampang masuk sekolah. Hindia Belanda sengaja mengunci rapat pintu pengetahuan bagi kaum bumiputera. Bagi Batavia, membiarkan orang Sumatra pandai itu sama saja memelihara bahaya. Sekolah, kalaupun diizinkan berdiri, didesain sekadar melahirkan kuli-kuli administrasi yang murah dan patuh. Cuma jadi penjinak angka-angka perkebunan kopi dan tembakau milik tuan tanah Belanda.
Tapi ya namanya hidup, selalu ada celah yang tak terduga. Kecerdasan Sati yang ganjil menarik perhatian Alexander Philippus Godon, asisten residen Mandailing yang kebetulan masih punya sisa-sisa kemanusiaan di hatinya. Atas lobi dan sokongan ekonomi Godon, di tahun 1857 dalam usia yang belia, dia naik geladak kapal. Menyeberangi samudra dengan mental sekokoh karang di lautan menuju Negeri Belanda untuk belajar jadi guru.
Berdirilah dia di Amsterdam dan Arnhem. Di hadapan berjejer ribuan buku perpustakaan yang tersusun rapi dan ruang kelas yang hangat, dia melihat sendiri bagaimana bangsa Barat bisa bergerak maju karena mereka merawat teks, belajar sains, sastra, filsafat dan yang lainnya. Disitulah letak tragedi batin seorang Sati. Dia tak silau oleh gemerlap Eropa. Di malam-malam yang beku, hatinya justru patah oleh bayang-bayang gubuk reyot di Mandailing. Dia tiba pada sebuah kesimpulan sosiologis yang pedih: bangsanya melarat bukan karena kutukan langit, melainkan karena sengaja dipenjara dalam kebodohan oleh sistem.
Pas Sati lulus, dia langsung memegang ijazah hulpakte. Di Eropa pula dia dibaptis dan namanya berubah jadi Willem Iskander. Sebuah keputusan yang di kemudian hari kerap digugat dengan sinisme yang picik, seolah-olah dia telah menukar jiwanya menjadi Londo tiruan. Padahal sejarah mencatat hal yang sebaliknya. Willem pulang ke Sumatra bukan untuk bersolek dengan gaya parlente; dia pulang membawa api untuk membakar kebekuan berpikir bangsanya.
Kweekschool Tano Bato: cinta yang mewujud di ruang kelas
Waktu menapakkan kembali kakinya di Mandailing pada 1861, Willem punya seribu alasan untuk memilih hidup nyaman. Dengan ijazah Eropa di saku, dia bisa saja melamar menjadi birokrat kolonial, menerima gaji melimpah, dan menikmati privilese kelas atas. Tapi dia membuang kenyamanan egois itu. Atas bantuan pengajuan dana dari sahabatnya, Alexander Philippus Godon, ia lebih memilih pulang ke Tano Bato untuk mendirikan Kweekschool (Sekolah Guru) Bumiputera pada tahun 1862.
Langkah nekat ini adalah sebuah loncatan kuantum. Tano Bato bukanlah sekolah dasar biasa. Tempat ini adalah rahim bagi para pendidik pertama di seluruh Pulau Sumatra, bahkan mendahului berbagai pergerakan formal yang kelak ramai di Jawa.
Willem mengelola institusi ini dengan cara yang luar biasa progresif. Pertama, dia mencopot bahasa Belanda dari dinding kelas. Ilmu alam, matematika, dan geografi diajarkan dalam bahasa Mandailing dan Melayu. Ini adalah sebuah upaya dekolonisasi mental. Pengetahuan tidak lagi mewujud sebagai hantu asing yang menakutkan, melainkan sesuatu yang membumi dan karib bagi anak-anak kampung.
Kedua, dia mengawinkan sains Barat dengan kearifan lokal. Willem tidak ingin sekolahnya melahirkan manusia cerdas yang ketika lulus malah asing sama tanah leluhurnya sendiri,- tercerabut dari akar sejarah, filosofi, kearifan adat budayanya sendiri. Ketiga, dia tak mencetak buruh. Target Tano Bato adalah melahirkan guru. Willem Iskander tidak hanya sekedar mengajari beberapa orang untuk membaca akan tetapi langsung menjadi “pabrik” yang mencetak para pendidik. Selama berdiri, sekolah ini cuma sempat melahirkan 23 lulusan. Tapi bayangkan, 23 orang ini bergerak seperti gerilyawan budaya, berdiaspora ke pelosok Tapanuli hingga pesisir Sumatra, mendirikan sekolah-sekolah baru, dan memicu efek domino literasi yang tak mampu lagi ditiup padam oleh kolonial.
Senjata Puisi: sastra yang menggugat
Willem Iskandar paham kalau mengubah pola pikir masyarakat agraris itu tak bisa dilakukan dengan titah yang kaku. Di luar pagar sekolah, masyarakat adat memandangnya dengan curiga. Apakah sekolah ini bagian dari pembaratan? Ataukah taktik halus kompeni untuk mencuci otak anak-anak mereka? Willem menembus dinding kecurigaan itu lewat jalur yang paling dekat dengan jiwa Mandailing: puisi lisan.
Tahun 1871, lahirlah karya monumentalnya, sebuah buku kumpulan puisi berbahasa Mandailing berjudul Si Bulus-Bulus Si Rumbuk-Rumbuk. Lewat bait-baitnya yang liris, ritmis, dan menggunakan metafora alam yang biasa didengar di kedai kopi atau pematang sawah, Willem menjelma menjadi intelektual organik. Dia tak mengeluh dengan cengeng. Sastra dijadikan alat advokasi yang tajam. Dia merayu para orang tua lewat larik-larik sastranya yang menggugah, seperti yang tertulis dalam bait terkenalnya “tinggal ma ho jolo ale, anta piga taon nada huboto, muda huida ho mulak buse, ulang be nian sai ma oto”
Dia mengingatkan dengan getir kalau kebodohan adalah ibu kandung dari penindasan. Puisi-puisinya menyebar dari mulut ke mulut, meruntuhkan penolakan masyarakat tradisional terhadap dunia modern dan yang paling terpenting dia menolak penindasan kolonial.
Willem menggunakan sastra sebagai tameng perlawanan sosiologis. Melalui metafora yang liris, dia menggugat kesewenang-wenangan sistem perkebunan dan rodi kolonial yang menjepit leher rakyatnya. Baginya, kebodohan yang dipelihara Belanda adalah rantai tak terlihat untuk menjaga pribumi tetap miskin. Puisinya menjadi alat komunikasi massa untuk menyulut kesadaran kritis bahwa mereka sedang dijajah.
Akhir yang Sepi di Taman Amsterdam
Tapi sejarah sering kali kejam kepada mereka yang berjalan terlalu cepat di depan zamannya. Pada tahun 1874, Willem berangkat kembali ke Belanda untuk mendapatkan ijazah kepala sekolah (hoofdakte). Perjalanan kedua ini berjalan di bawah langit yang muram. Kehidupan pribadinya remuk; pernikahan barunya karam dalam perceraian yang konon hanya bertahan 103 hari. Sendirian, dirongrong penyakit, dan dihantam depresi serta kerinduan akut pada kampung halaman, Willem ambruk.
Pada 8 Mei 1876, dalam usia yang masih teramat muda—36 tahun—Willem Iskandar mengembuskan napas terakhirnya di Amsterdam. Kematiannya di belahan bumi utara itu diselimuti kabut misteri dan kesunyian yang pekat, sebuah akhir yang tragis dari jiwa yang terlalu lelah bertarung dengan zamannya sendiri. Dia dimakamkan di Zorgvlied. Membeku di bawah tanah Eropa yang asing, sangat jauh dari kehangatan angin tropis tanah Mandailing yang dia bela sampai tarikan napas terakhir.
Kematiannya memukul telak Tano Bato. Tanpa sosoknya yang karismatik dan berani pasang badan, Kweekschool itu perlahan-lahan meredup sebelum akhirnya ditutup total pada tahun 1884 oleh Belanda yang mulai cemas melihat anak-anak Sumatra tumbuh terlalu kritis.
Secara fisik, bangunan di Tano Bato kini telah lumat menjadi tanah berganti dengan bangunan baru tanpa sedikitpun yang tersisa untuk dinapaktilasi, tapi api yang ditiupkan Willem dari “huta” kecil itu telanjur menjalar. Lulusan dari jaringan sekolahnya itulah yang di awal abad ke-20 nanti berubah menjadi jurnalis-jurnalis vokal, penggerak organisasi politik, dan pemikir yang ikut merumuskan imajinasi tentang sebuah bangsa merdeka bernama Indonesia. Kelak di situs bersejarah inilah kemudian dibangun sekolah lanjutan tingkat atas sebagai bentuk penghargaan dan penghormatan, yang saat itu diresmikan Doed Joeseof, menteri Pendidikan.
PENUTUP
Willem Iskandar sudah meletakkan batu pertama peradaban modern kita. Dan kisah sunyi dari Tano Bato ini meninggalkan sebuah pesan yang menampar kita hari ini: bahwa martabat sebuah bangsa tidak pernah diuji dari seberapa banyak mesiu yang mereka tumpuk, melainkan dari seberapa berani mereka menggoreskan pena di atas papan tulis kelas-kelas yang merdeka.
Namun, kegilaan sejarah yang paling perih justru terulang pasca ia menutup mata. Kesunyian dingin yang menjerat Willem saat menghabiskan hari demi hari dalam pergulatan pemikiran di Belanda, seolah mengutuk takdirnya kembali setelah ia berpulang meninggalkan dunia selamanya. Kisah sunyinya tidak selesai di liang lahat; ia berlanjut menjadi pembungkaman yang terencana. Pemerintah kolonial melarang namanya diperbincangkan. Buku Si Bulus-Bulus Si Rumbuk-Rumbuk disita dan dilarang beredar karena dianggap berpotensi menyulut api pemberontakan di kepala bumiputera.
Bahkan penganugerahan Piagam Seni secara anumerta oleh Pemerintah RI pada tahun 1978 hanyalah sebatas pemanis di atas kertas. Piagam itu memang menjadi bukti resmi bahwa negara mengakui kepeloporannya, tapi ironisnya setelah proklamasi berkumandang panjang, usia kemerdekaan yang sudah mencapai 80 tahun, namanya tetap tidak pernah mendapatkan tempat terhormat layaknya pahlawan nasional dari daerah lain. Di buku-buku sekolah nasional, sosoknya seakan disisihkan bahkan namanya jarang terdengar di pusat-pusat pendidikan atau kebudayaan, seakan-akan seluruh warisan peradaban yang ia tinggalkan dengan taruhan nyawa itu tidak pernah ada gunanya bagi republik ini.
Maka pada akhirnya, itulah tugasku, tugasmu, dan tugas kita bersama sebagai anak sah yang lahir dari rahim bumi Gordang Sambilan. Tugas kita jelas berbeda dengan Willem Iskander yang dulu telah selesai mewakafkan seluruh sisa hidup demi tanah “hasorangan” nya. Tugas kita hari ini adalah melunasi utang sejarah yang telanjur menumpuk—mengumpulkan kembali setiap pertinggal sejarah yang terserak, serta menunaikan kerja-kerja pengabdian lainnya. Sebuah ikhtiar bersama untuk merebut kembali kursi terhormat yang sengaja disisihkan; kursi yang seharusnya sejak lama bertuliskan namanya di panggung patriotis nama-nama pahlawan nasional kita.
Wallahu A’lam bish-Shawab…
*Penulis adalah Divisi Data dan Kajian Komunitas Pengusul Willem Iskander Pahlawan Nasional
- Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

