Kilau Emas Madina yang Habis Jadi Asap
- account_circle webmaster
- calendar_month 6 menit yang lalu
- print Cetak
Wartawan: Bang Ucok, saya perhatikan tiap sore banyak penambang turun dari bukit bawa hasil. Emas di Mandailing Natal ini kan melimpah. Logikanya, keluarga penambang sejahtera, pasar desa ramai, dan kampung ini cepat maju. Tapi kenapa kelihatannya ekonomi di sini jalan di tempat?
Ucok (Penambang Lokal): (Menyesap kopi, tersenyum pahit) Kalau hitung-hitungan di atas kertas, betul kata Abang. Sehari kami bisa pegang uang ratusan ribu sampai jutaan. Tapi uang itu menguap sebelum sampai ke meja makan rumah.
Wartawan: Menguap ke mana, Bang? Bukannya ditabung untuk modal usaha atau sekolah anak?
Ucok: Jadi asap, Bang. Ke sabu-sabu. Narkoba sudah masuk ke lubang-lubang tambang. Awalnya bandar bilang ini ‘vitamin’ biar kami kuat melek, kuat menggali lumpur berjam-jam, tidak gampang sakit pinggang. Lama-lama penambang kecanduan. Uang jutaan hasil mendulang emas hari ini, habis malam ini juga buat beli barang haram itu.
Wartawan: Berarti uangnya tidak berputar di desa?
Ucok: Sama sekali tidak. Istri di rumah cuma dapat sisa recehan, kadang malah harus berutang di warung untuk beli beras. Anak-anak terancam putus sekolah. Warung makan, toko baju, atau toko bangunan di desa ya sepi, karena uang penambang tersedot semua ke kantong bandar narkoba.
Wartawan: Bang Ucok tahu? Kisah seperti ini persis dengan sejarah kelam di tambang-tambang Amerika Selatan dan Afrika.
Ucok: Oh ya? Jauh kali. Di mana itu, Bang?
Wartawan: Di Kolombia, misalnya, atau di kawasan tambang berlian Sierra Leone, Afrika. Dulu saat emas dan berlian ditemukan melimpah, orang luar berpikir warga lokal akan kaya raya. Kenyataannya? Mafia dan kartel narkoba masuk. Para penambang dicekoki narkoba dan alkohol agar terus bekerja bagai mesin.
Ucok: Jadi mereka juga tidak kaya?
Wartawan: Uangnya diputar di lingkaran setan. Penambang dapat uang dari emas, lalu uangnya diserahkan kembali ke bos atau bandar untuk beli narkoba. Akhirnya, emas di tanah habis dikeruk, alamnya hancur beracun, tapi masyarakatnya tetap miskin, penyakitan, dan generasi mudanya hancur karena kecanduan. Yang kaya raya dan bisa membangun gedung mewah cuma para bandar di kota.
Ucok: (Terdiam sejenak memandang bukit) Astaga… Berarti kami di Madina ini sedang mengulang kebodohan yang sama ya, Bang? Kami peras keringat menggali emas, merusak alam kampung sendiri, tapi hasilnya cuma untuk memperkaya bandar narkoba.
Wartawan: Begitulah kenyataan pahitnya, Bang. Emas yang seharusnya jadi berkah untuk menyejahterakan keluarga dan membangun kemajuan desa, malah berubah jadi kutukan. Selama rantai narkoba di tambang ini tidak diputus oleh hukum yang tegas, emas Madina tidak akan pernah jadi jalan keluar dari kemiskinan.
Ucok: Abang tulis saja obrolan kita ini. Biar orang di luar sana, dan para pejabat itu tahu. Emas kami bukan membawa kami ke masa depan, tapi sedang mengubur kami pelan-pelan.
Catatan Penulis: Kisah dari Mandailing Natal ini adalah potret nyata bagaimana kekayaan alam tidak selalu berbanding lurus dengan kesejahteraan. Tanpa adanya edukasi, pemberantasan narkoba yang tegas, dan pengawasan sosial, “emas” hanya akan menjadi bahan bakar yang mempercepat hancurnya masa depan sebuah daerah.
- Penulis: webmaster

