Senin, 5 Okt 2026
light_mode

MENCARI RUH MERDEKA YANG HILANG DI USIA 81

  • account_circle Moechtar Nasution
  • calendar_month Senin, 17 Agt 2026
  • print Cetak

Oleh : Moechtar Nasution*

 

 

…

Hari ini, Indonesia genap berusia 81 tahun. Di bawah langit Agustus yang cerah, pekik “Merdeka!” kembali terdengar di mana-mana. Dari halaman Istana Merdeka, panggung kehormatan para pejabat Provinsi/ Kabupaten/Kota, lapangan upacara sekolah, di ketinggian gunung, di kedalaman laut, sampai acara lomba di gang-gang sempit di kampung, kata itu diteriakkan dengan keras. Namun, jujurlah,  dengarkan dengan hati yang tenang akan ada yang terasa aneh. Pekik Merdeka hari ini terasa kosong di tengah segala keramaiannya. Kata itu terasa sangat berbeda dengan getaran kata yang sama, delapan puluh satu tahun yang lalu.

Tepat hari ini pula, seluruh lapisan masyarakat diminta untuk menghentikan sejenak apa pun aktivitas yang sedang digeluti. Selama tiga menit dari pukul 10.17 hingga 10.20 WIB, kita diimbau berdiri tegap saat lagu kebangsaan Indonesia Raya berkumandang, bersamaan dengan detik-detik pengibaran Bendera Merah Putih di Halaman Istana Merdeka. Di jalan raya mesin kendaraan dimatikan. Di ruang kerja, jemari berhenti mengetik. Namun, apakah tiga menit keheningan itu benar-benar sebuah bentuk takzim yang lahir dari relung jiwa, atau jangan-jangan hanyalah sebuah kepatuhan mekanis karena instruksi resmi? Merenung dalam sikap sempurna selama beberapa menit menjadi terasa hambar, jika setelah sirine berhenti kita langsung kembali disibukkan dengan urusan masing-masing tanpa membawa pulang arti dari keheningan itu ke dalam laku hidup sehari-hari.

Mari kita putar ingatan kita ke bulan November 1945. Di sebuah ruangan siaran radio yang sempit dan sederhana di Surabaya, seorang pemuda bernama Bung Tomo membakar semangat orang-orang lewat suaranya yang serak. Waktu Bung Tomo meneriakkan kata “Merdeka!”, kata itu tidak berdiri sendiri. Kata itu disambung dengan kalimat “Merdeka atau Mati!”. Di tangan Bung Tomo, merdeka adalah sebuah sumpah taruhan nyawa yang nyata. Ada aroma darah, keringat, dan debu medan perang di setiap ucapannya. Itu adalah teriakan dari manusia-manusia yang sudah membuang rasa takut mereka. Mereka memilih mati dan hancur jadi abu, daripada harus menjilat kaki penjajah lagi.

Kita juga pasti ingat Bung Karno. Saat Sang Proklamator mengepalkan dan mengangkat tangannya setinggi bahu, pekik “Merdeka!” yang keluar dari mulutnya adalah sebuah janji yang besar. Bagi Bung Karno, kata itu adalah tanda runtuhnya tembok penjajahan yang berabad-abad merusak mental bangsa. Pekik Merdeka Bung Karno adalah pengumuman harga diri bahwa manusia Indonesia tidak boleh lagi disetir atau diatur-atur oleh bangsa asing. Itu adalah salam kebersamaan yang mengikat rasa persaudaraan dari ujung barat sampai ujung timur Indonesia dalam satu nasib.

Di samping Bung Karno, ada Bung Hatta yang mengucapkan kata yang sama dengan cara yang sangat tenang namun mendalam. Hatta bukan tipe orang yang suka berpidato sambil berteriak-teriak. Tapi waktu dia meneriakkan “Merdeka”, kata itu keluar dari isi kepala seorang pemikir yang matang. Bagi Bung Hatta, merdeka secara politik itu baru pintu gerbang. Arti merdeka yang sesungguhnya adalah rakyat harus berdaulat secara ekonomi. Artinya, rakyat tidak boleh lagi diperas oleh sistem yang serakah. Mereka harus bisa berdiri di atas kaki sendiri lewat kerja sama dan gotong royong. Bagi Hatta, merdeka berarti memastikan perut rakyat kecil tidak kelaparan dan dapur mereka tetap mengepul tanpa harus mengemis pada penguasa.

Lalu, lihat juga bagaimana Bung Sjahrir mengucapkan kata yang sama. Sebagai seorang diplomat yang cerdas dan tenang, Sjahrir mengucapkan “Merdeka” dengan bahasa yang tertata, masuk akal, tapi tetap tajam. Bagi Sjahrir, kemerdekaan sejati bukan cuma soal mengusir tentara asing atau menurunkan bendera musuh. Kemerdekaan adalah bebasnya manusia Indonesia dari kebodohan dan kemiskinan. Pekik Merdeka Sjahrir adalah impian tentang bagaimana membangun masyarakat yang adil, menghargai sesama manusia, dan memperlakukan semua orang dengan setara.

Dan narasi sejarah kita tidak cuma ditulis di atas panggung pidato atau di meja perundingan. Ketika malam yang gelap  di Yogyakarta pada akhir tahun 1948 dan ibu kota itu jatuh ke tangan musuh, kata “Merdeka” berubah menjadi tarikan napas yang bertaruh dengan maut. Bayangkan Jenderal Soedirman dengan tubuhnya lemah dan digerogoti penyakit paru-paru yang parah. Dia harus digotong menggunakan tandu menembus hutan lebat, naik-turun gunung, dan membelah rimbunnya pedalaman Jawa dalam perang gerilya. Bagi Sang Jenderal, pekik Merdeka bukanlah obralan kata-kata di lapangan yang nyaman. Pekik Merdeka Soedirman adalah kesetiaan yang sunyi di tengah rintik hujan hutan belantara. Itu adalah sumpah luhur yang dibisikkan kepada para prajuritnya di bawah ancaman senjata musuh. Ketika para pemimpin politik ditawan, pekik Merdeka dari atas tandu Soedirman adalah bukti nyata bahwa negara ini masih hidup dan menolak menyerah. Merdeka bagi Soedirman adalah pengorbanan habis-habisan. Raga boleh rusak, tapi harga diri bangsa harus tetap berdiri tegak.

Sekarang, di manakah posisi pekik Merdeka itu hari ini, waktu umur negara kita sudah menginjak angka 81?

Hari ini, makna pekik Merdeka sudah menyusut jauh. Kata itu sudah bergeser dari sebuah janji perjuangan yang tulus menjadi sekadar rutinitas upacara tahunan. Hari ini, kata itu diteriakkan lewat pengeras suara di panggung-panggung mewah yang menghabiskan banyak uang, tapi sering kali kosong dari penghayatan batin orang yang mengucapkannya. Kata itu diucapkan dengan bibir yang lancar, tapi jarang lahir dari hati yang tulus.

Terlebih lagi, kita hari ini hidup di tengah zaman disrupsi yang bergerak begitu cepat. Segalanya berubah dalam hitungan detik akibat kecerdasan buatan, digitalisasi, dan banjir informasi. Di era seperti ini, makna “Merdeka” menghadapi tantangan baru yang tidak kalah menjajah. Kemerdekaan hari ini sering kali diringkas dalam bingkai video vertikal di layar telepon selular pintar agar tampak estetik, lengkap dengan tagar viral demi mengejar jumlah like. Kita dijajah oleh algoritma, disetir oleh tren yang dangkal, dan diperbudak oleh hoaks yang memecah belah nurani. Merdeka di zaman disrupsi seharusnya berarti merdeka dalam berpikir—ketika jemari kita tidak mudah terprovokasi, ketika otak  mampu menyaring mana informasi yang benar dan mana yang palsu, serta ketika mental tidak hanyut menjadi penonton yang pasif di tanah air sendiri. Jika kita masih gampang diadu domba oleh ketikan di media sosial, maka sejatinya pikiran kita belum sepenuhnya merdeka.

Di tengah riuhnya disrupsi digital ini, kita juga perlu bertanya secara filosofis pada diri sendiri apakah dengan membuat flyer digital bertuliskan “Selamat Hari Kemerdekaan” yang diunggah ke berbagai platform media sosial, kita lantas bisa langsung mengklaim telah memiliki semangat dari kata Merdeka itu? Apakah dengan berfoto menggunakan pakaian bernuansa merah putih, yang pipinya ditempeli stiker bendera kecil, seseorang sudah otomatis bisa dipersepsikan paham apa makna terdalam dari kata Merdeka? Dan apakah sekadar menonton iring-iringan défilé  atau karnaval budaya di jalanan bisa langsung membuat seseorang memahami arti kemerdekaan yang sesungguhnya?

Kita juga patut merenungkan hal yang sama pada tradisi tahunan kita. Apakah dengan memenangkan berbagai macam perlombaan seru untuk merayakan hari kemerdekaan, seseorang sudah bisa dibilang benar-benar memahami makna Merdeka itu? Atau dengan sekadar disiplin mengikuti upacara penaikan dan atau penurunan bendera di bawah terik matahari, kita lantas otomatis paham arti Merdeka yang sesungguhnya?

Tentu tidak semudah itu. Aksesori, gambar digital, tontonan, piala lomba, bahkan selembar absensi upacara hanyalah kulit luar dari sebuah perayaan. Kebudayaan kita hari ini terjebak pada visualisasi bungkus yang sering kali menipu nurani. Mengurangi arti kemerdekaan hanya sebatas rutinitas fisik dan estetika penampilan luar adalah sebuah ironi budaya yang sangat dangkal. Merdeka bukanlah tentang seberapa merah pakaian kita, seberapa sering kita berdiri menghadap tiang, atau seberapa rapi desain grafis flyer kita. Merdeka adalah sebuah laku batin yang menuntut kesadaran penuh akan tanggung jawab sosial.

Kedangkalan budaya ini diperparah oleh bergesernya nilai gotong royong yang dulunya merupakan roh dari kemerdekaan itu sendiri. Kemerdekaan bangsa ini dirajut di atas fondasi kolektivisme, di mana ratusan suku, agama, ras dan golongan bahu-membahu tanpa pamrih karena senasib sepenanggungan. Ada tentara pelajar, ada ibu-ibu yang memanggul senjata, ada kurir, ada tukang masak dapur umum, ada gadis palang merah, ada laskar rakyat dan seterusnya.

Namun hari ini, gotong royong di tengah masyarakat kita sering kali berubah menjadi kepedulian yang bersyarat, atau ekstremnya, bergeser menjadi individualisme digital. Rasa kebersamaan kita kerap baru muncul kalau ada isu besar yang viral, atau justru disempitkan menjadi “gotong royong siber” untuk membela kelompok sendiri sambil merundung kelompok lain yang berbeda pandangan. Kita melupakan bahwa pilar dari kata Merdeka adalah tindakan nyata yang tulus untuk sesama di dunia riil, bukan sekadar klik tombol berbagi di layar kaca.

Ironisnya, sejarah perjuangan bangsa pun kini sering kali diperlakukan sebatas deretan angka tahun dan nama pahlawan yang harus dihafal demi lulus ujian sekolah, atau sekadar materi tebak-tebakan untuk kuis berhadiah Agustus-an. Generasi muda kita dibiasakan merayakan hasil akhir kemerdekaan tanpa pernah benar-benar diajak menyelami esensi dan pergulatan pemikiran para pendiri bangsa yang penuh air mata. Padahal, merdeka bagi generasi hari ini seharusnya adalah keberanian untuk mewarisi api kegelisahan para pahlawan untuk memperbaiki bangsa, bukan sekadar memandangi abu pembakarannya dalam upacara seremoni yang kering akan makna. Kehilangan akar sejarah inilah yang pada akhirnya membuat fondasi kebangsaan kita rapuh dan mudah diombang-ambingkan.

Kehidupan sosial kita hari ini justru memperlihatkan pemandangan yang terpecah-belah akibat arus digital dan hilangnya pemahaman nilai tersebut. Pekik Merdeka dahulu menyatukan kita dengan semangat yang sama, berjuang Bersama, berkorban Bersama untuk tujuan yang sama. Kata itu seperti magnet raksasa yang meruntuhkan segala ego kelompok, merangkul ragam agama, dan menghapus batas golongan menjadi satu wadah besar bernama Indonesia. Pekik Merdeka masa lalu adalah ruang terbuka di mana semua orang merasa dihargai dan memiliki tanah air ini bersama-sama.

Namun sekarang, pekik Merdeka nyatanya tidak mampu mempersatukan lagi. Ironisnya, di usia ke-81 tahun ini, kita justru melihat bagaimana kata yang suci ini sengaja dikecilkan maknanya untuk diklaim sepihak oleh kelompok tertentu seolah-olah cuma mereka yang benar. Kita tentu belum lupa, beberapa tahun yang lalu sempat muncul istilah “Saya NKRI” yang ramai digemakan di mana-mana. Slogan itu terdengar gagah, tapi di sisi lain memuat ironi yang halus bahwa seolah-olah siapa saja yang tidak ikut berteriak dengan lantang, atau mereka yang memilih berseberangan pendapat, dicap bukan NKRI. Nasionalisme mendadak punya standar baku yang kaku, yang dengan gampang dipakai untuk memilah siapa kawan dan siapa lawan.

Polarisasi ini terasa kian meruncing ketika menjelang peringatan hari proklamasi hari ini, banyak kejadian separatis dan riak perpecahan yang terang-terangan menampakkan dirinya. Di tanah Papua, beberapa hari yang lalu terdengar ancaman dari kelompok kriminal bersenjata (KKB) nyata-nyata berembus, meneror dan mengancam siapa pun yang berani mengikuti upacara kemerdekaan akan berhadapan dengan moncong senjata mereka.

Lalu tengok pula apa yang terjadi di ujung barat negeri pada tanggal 15 Agustus kemarin. Di tengah kekhusyukan pelaksanaan zikir dan doa bersama untuk mengenang perdamaian MoU Helsinki di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, keributan besar justru pecah di pekarangan rumah ibadah. Bendera Merah Putih sempat diturunkan oleh massa yang emosional sebelum akhirnya dihentikan oleh tembakan peringatan aparat. Tidak jauh dari situ, di Pendopo Gubernur Aceh, situasi berjalan makin liar. Lambang Negara Burung Garuda dirusak, Bendera Merah Putih diturunkan paksa, lalu digantikan dengan penaikan Bendera Bulan Bintang. Ketegangan, gas air mata, dan aksi saling lempar seolah memperlihatkan betapa rapuhnya fondasi kebersamaan kita hari ini. Kemerdekaan kita saat ini telah terkotak-kotak dalam ruang kepentingan yang sempit, penuh rasa curiga, dan dibayangi oleh ego kedaerahan serta ketakutan akan pertumpahan darah antarsesama anak bangsa.

Perpecahan dan ancaman ini terasa makin menyedihkan kalau kita melihat nasib rakyat kecil di berbagai daerah. Mereka masih harus meneriakkan kata yang sama cuma untuk memperjuangkan hak-hak dasar mereka di tanah kelahiran sendiri. Ketika Bung Hatta memimpikan keadilan ekonomi dan Jenderal Soedirman rela menderita di atas tandu demi martabat bangsa, hari ini rakyat justru masih harus bertaruh nasib melawan kemiskinan. Ketika masyarakat bawah masih dijauhkan dari keadilan, sementara orang-orang di atas sibuk berdebat soal siapa yang “paling Indonesia”, maka ada yang salah dengan bangsa ini.

Ketika kata “Merdeka” cuma jadi bumbu pemanis pidato, alat politik, atau sekadar bahan jualan di media sosial, kita sebenarnya sedang menyaksikan hilangnya jiwa dari bangsa ini. Kita sangat pintar merayakan ulang tahunnya, tapi kita sering kali malas merawat isi dan maknanya.

Maka dari itu, merayakan 81 tahun Indonesia Merdeka harusnya bukan lagi soal seberapa keras kita bisa berteriak di lapangan, atau seberapa ribut kita berdebat tentang siapa yang paling mencintai tanah air. Menghentikan aktivitas selama tiga menit sesuai imbauan Mensesneg tadi harusnya menjadi generator pengingat, sebuah momen bagi kita semua untuk merenung dan mengembalikan ruh yang hilang dari kata tersebut. Kita perlu mengeja kembali makna merdeka seperti yang dicontohkan para pendiri bangs akita.

Namun di balik segala ujian, riak, dan badai yang sedang menerpa, kita harus tetap memeluk erat rasa optimisme. Sejarah panjang telah membuktikan bahwa bangsa ini terlalu tangguh untuk hancur oleh perbedaan. Apapun masalah yang sedang dihadapi negeri ini—mulai dari ketimpangan, ancaman separatisme, hingga gesekan politik—satu hal yang mutlak dan tidak bisa ditawar adalah persatuan dan kesatuan kita harus terus diperkuat. Inilah saatnya rasa nasionalisme kita ditingkatkan, bukan lagi nasionalisme yang sempit untuk membenci sesama, melainkan nasionalisme yang merangkul semua anak bangsa untuk tegak lurus menjaga keutuhan ibu pertiwi. Merdeka bukanlah akhir perjuangan, melainkan pengingat untuk terus berusaha demi cita-cita bangsa. Momen merdeka merupakan kesempatan untuk membangun bangsa yang lebih baik. Mari kita teruskan semangat para pahlawan dengan berkarya dan membanggakan Indonesia di mata dunia. Dirgahayu ….!!! Indonesia berdaulat, adil, dan makmur. SEKALI MERDEKA TETAP MERDEKA…!!!

Wallahu Aqlam Bisshawab.

*Penulis adalah Koordinator Daerah ‘n BASIS (Pengembangan Basis Sosial Inisiatif & Swadaya)  Mandailing Natal

 

  • Penulis: Moechtar Nasution
  • Editor: Dahlan Batubara

Rekomendasi Untuk Anda

  • Data Identitas Napi Ikut Terbakar, Perburuan Sulit

    Data Identitas Napi Ikut Terbakar, Perburuan Sulit

    • calendar_month Rabu, 17 Jul 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MEDAN, – Pihak Polda Sumut merilis data perkembangan perburuan napi yang kabur dari Lapas Tanjunggusta, Medan. Kabid Humas Polda Sumut, Kombes.Pol. R. Heru Prakoso menjelaskan, dari 2.599 orang napi yang ada di LP tersebut, yang melarikan diri adalah sebanyak 212 orang. Kemudian yang meninggal akibat terbakarnya LP tersebut adalah 5 orang.”Dua orang dari pegawai lapas, […]

  • Informasi HIV/AIDS Tak Perlu Masuk Kurikulum

    Informasi HIV/AIDS Tak Perlu Masuk Kurikulum

    • calendar_month Selasa, 4 Jan 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MEDAN-Tingginya angka penderita HIV/AIDS saat ini menimbulkan kekhawatiran bagi seluruh pihak, termasuk Kemendiknas. Hal ini disikapi Kemendiknas dengan memberikan informasi yang benar tentang HIV/AIDS melalui kampanye di sekolah. Penyampaian informasi tentang HIV/AIDS ini sangat penting, sehingga Kemendiknas saat ini sedang mengkaji kurikulum untuk disinergikan dalam mata pelajaran di sekolah. Namun, Kepala Disdik Medan Hasan Basri […]

  • Hadiri Sejuta Selawat, Atika Kembali Ingatkan Pengawasan Ponsel Anak

    Hadiri Sejuta Selawat, Atika Kembali Ingatkan Pengawasan Ponsel Anak

    • calendar_month Kamis, 31 Okt 2024
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      SIABU (Mandailing Online) – Calon wakil bupati Mandailing Natal (Madina) Atika Azmi Utammi Nasution meminta para orangtua untuk proaktif mengawasi penggunaan ponsel pada anak, terutama aplikasi yang berkaitan dengan judi online (daring) dan pornografi. Hal itu disampaikan calon wakil bupati yang berpasangan dengan Saipullah Nasution itu saat menghadiri acara sejuta selawat di Desa Lumban […]

  • Peneliti YRKI: Ada Yang Salah Dalam Tata Kelola Desa

    Peneliti YRKI: Ada Yang Salah Dalam Tata Kelola Desa

    • calendar_month Sabtu, 16 Nov 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

        PADANGSIDIMPUAN (Mandailing Online) -Yayasan Rumah Konstitusi Indonesia (YRKI) kembali menyoroti perkembangan Desa setelah 5 tahun berlangsungnya pelaksanaan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa. Peneliti YRKI, Agus Anwar Sipahutar, SH.I, MH menyebutkan bahwa salah satu pertimbangan dikeluarkannya UU Desa tersebut adalah untuk memberdayakan agar menjadikan Desa itu menjadi kuat, maju, mandiri, dan demokratis, […]

  • Keluarga Korban Akan Tuntut PT.SMGP

    Keluarga Korban Akan Tuntut PT.SMGP

    • calendar_month Minggu, 30 Sep 2018
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    SIBANGGOR (Mandailing Online) – Dua keluarga korban akan menuntut pihak PT.SMGP terkait tewasnya dua remaja di kolam pengeboran panas bumi Desa Sibanggor Jae. Usai masa berkabung, pihak keluarga bersama masyarakat Sibanggor Jae akan bermusyawarah menetapkan sikap. Kedua keluarga itu adalah keluarga almarhum Irsanul Mahya (15) dan almarhum Muhammad Musawi (15) yang tewas tengggelam di kolam […]

  • Batu Tulis dan Girp (Alat Belajar Anak Masa Lalu)

    Batu Tulis dan Girp (Alat Belajar Anak Masa Lalu)

    • calendar_month Jumat, 23 Des 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: Dr. M. Daud Batubara, MSi Pembina Forum Pendidik Madina Sada dua tolu ning na gurui Opat lima onom mangiut sipitui Roma si salapan dohot sambilan i Gonop ma bilangan so ro si sapului Ulang di tijuran batu tulis i Um denggan ma di basu dohot aek tawar i Ini bagian syair dari lagu yang […]

expand_less