Selasa, 21 Apr 2026
light_mode

Cahaya Islam di Timor Leste

  • account_circle Redaksi Abdul Holik
  • calendar_month Senin, 6 Jan 2014
  • print Cetak

Dakwah pada masa sekarang justru lebih mudah dibandingkan dulu.

Timor Leste pernah menjadi bagian dari Indonesia. Meski dari dulu di daerah ini umat IsLam menjadi minoritas, saat masih menjadi bagian Indonesia, banyak perhatian dan peningkatan aktivitas dakwah di sana.

Timor Leste, dulu bernama Timor Timur,  juga sebagian daerah Nusa Tenggara Timur lainnya mayoritas penduduknya adalah Nasrani. Sebab utamanya adalah daerah ini lama dikuasai Portugis.

Padahal, kedatangan Islam di daerah ini lebih dulu tiba. Namun, sayang Islam banyak terkikis oleh agama Nasrani yang dibawa Portugis dengan semboyan gospelnya, yaitu menyebarkan agama Nasrani di wilayah kolonialnya.

Dalam buku Islam di Timor Timur karya Ambarak A Bazher, dijelaskan, Islam sudah ada di Dilli, ibu kota Timor Timur, sebelum kedatangan Portugis pada 1512.

Pasukan Portugis terusir dari Gowa, Sulawesi Selatan, mereka tiba di Dili dan disambut oleh pemimpin masyarakat setempat yang bernama Abdullah Afif,” tulisnya.

Dari nama masyarakat yang menyambut tersebut, bisa dinilai masyarakat setempat telah mengenal Islam dan ada orang Arab yang tinggal di sana. Banyak perbedaan teori yang mengatakan tentang kapan datangnya Islam di Timor Leste ini.

Ada yang mengatakan datangnya bersamaan dengan penyebaran Islam oleh para pedagang Arab yang berlayar hingga ke pulau-pulau dekat dengan Maluku melalui jalur laut di selatan Sulawesi.

Ada pula yang mengatakan penyebaran Islam ini dilakukan oleh para ulama dari kerajaan-kerajaan Islam di sekitarnya, seperti Gowa-Tallo, juga Ternate, bahkan Samudra Pasai.

Ketika Portugis berlabuh di sini, wajah Islam menjadi berubah. Peran kolonialis yang punya kekuatan yang lebih besar akhirnya perlahan-lahan mematikan budaya serta pengikut Islam. Bahkan, di daerah-daerah yang belum terjamah oleh Islam, Portugis dengan gencar melakukan Kristenisasi.

Karena hal tersebut, hingga sekarang pun jumlah Muslim di daerah ini sangat sedikit. Saat masih menjadi bagian dari Indonesia, tercatat hingga 1990, jumlah penduduk Muslim di sana mencapai lebih dari 31 ribu jiwa. Terdapat juga 13 buah masjid, 30 mushala, 21 madrasah, 20 lembaga Islam, dan 116 dai yang tinggal di Timor Timur.

Saat ini, jumlah Muslim yang tinggal di Timor Leste hanya sekitar 5.000 jiwa. Ini berarti hanya memenuhi tiga persen dari total penduduk Timor Leste.

Penyebab utamanya adalah karena banyak Muslim yang tadinya tinggal di sini adalah warga hasil program transmigrasi dari Pulau Jawa. Kemudian, setelah negara ini berdiri sendiri, mereka pun kembali pulang ke tempat asalnya.

Dalam pemerintahan barunya, penduduk mayoritasnya adalah Nasrani. Muslim hanya mendapatkan sedikit porsi eksistensi. Dalam konstitusi Republik Demokrasi Timor Leste, dalam Pasal 12 dan 45, tercantum negara ini menjamin kebebasan beragama.

Hari-hari besar Islam pun dijadikan hari libur nasional, seperti Idul Fitri dan Idul Adha. Namun, hari besar lainnya, seperti besar Maulid Nabi, Isra Mi’raj, dan tahun baru Hijriyah, belum menjadi hari libur nasional.

Di Timor Leste juga belum ditemukan aturan untuk memberikan dispensasi waktu bagi Muslim yang sedang bekerja untuk menjalankan shalat wajib atau shalat Jumat.

Meski Islam mengalami penurunan drastis dalam segi jumlah, semangat untuk tetap beribadah dan berdakwah di sini tetap terjaga.

Kini, umat Islam di Timor Leste telah membentuk lembaga Islam Timor Leste yang bernama CENCISTIL (Centro da Comunidade Islamica de Timor Leste) atau Pusat Komunikasi Islam Timor Leste.

Dalam akun Facebook-nya, dijelaskan lembaga ini berdiri sejak 10 Desember 2000. Tujuan pendiriannya adalah sebagai wadah pengayom umat, corong suara Komunitas Islam Timor-Leste, sebagai lembaga yang berusaha menjawab kesulitan umat pascamelepaskan diri, serta untuk menjawab kebutuhan umat Islam ketika itu, kini, dan akan datang.

“Keberadaan CENCISTIL sampai saat ini adalah sebagai mitra pemerintah dalam pengurusan mengenai kepentingan umat Islam di Timor Leste,” tulisnya.

Salah satu ikon lain yang menunjukkan eksistensi Muslim di Timor Leste adalah Masjid An Nur. Masjid ini punya nilai sejarah yang sangat tinggi.

Berdiri sejak sebelum Indonesia merdeka dan pernah dihancurkan oleh tembakan bom oleh tentara Jepang. Namun, demi menegakkan Islam di wilayah ini, Masjid An Nur kembali dibangun dan dibesarkan lagi.

Hingga pada 1976, masjid ini kegiatannya semakin meluas. Dibangun pula lembaga dakwah juga madrasah diniyah di dalam kompleksnya. Para dai dari Jawa pun banyak didatangkan untuk berdakwah dan membina Muslim di sini.

Laman Dewan Dakwah menyebutkan, pengiriman dai ke Timor Leste terus berlangsung hingga sekarang. Salah satu dai yang dikirim ke sana, yaitu Ustaz Anwar.

Ia berharap, pengembangan Islam di Timor Leste terus tumbuh. “Bahkan, saya merasa dakwah pada masa sekarang justru lebih mudah dibandingkan dulu,” ujarnya.

Anwar mengatakan, akhir-akhir ini, banyak warga Timor Leste yang memilih Islam dan masuk menjadi Muslim. “Jumlah mualaf baru di sana hingga 2011 saja sudah mencapai 500 orang,” katanya.

Meski sedikit, umat Islam di Timor Leste ini tidak boleh dipandang sebelah mata. Mereka terus berdakwah dan menegakkan syariat Islam meski menjadi minoritas.

Walaupun menghadapi tantangan berat karena fasilitas dan jumlah Muslim yang semakin berkurang, semangat untuk menjalankan syariat Islam tidak pernah pudar.(rmol)

  • Penulis: Redaksi Abdul Holik

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sapma PP Madina Bantu Ringankan Beban Nenek Ana

    Sapma PP Madina Bantu Ringankan Beban Nenek Ana

    • calendar_month Senin, 20 Jun 2022
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    LONGAT (Mandailing Natal) – Ketua Sapma PP Madina Ahmad Sarqawi menyambangi kediaman Nenek Ana (72 tahun) yang merawat 3 anak yatim piatu di Kelurahan Longat, Panyabungan Barat. Kedatangan Sarqawi yang didampingi Adian Ricky Nugraha pada Senin (20/6) dalam rangka meringankan beban Nenek Ana dengan menyerahkan bantuan atau tali asih berupa sembako dan uang tunai. Sarqawi […]

  • Hidayat Batubara-Dahlan Nasution Siap Rangkul Pasangan yang Kalah

    Hidayat Batubara-Dahlan Nasution Siap Rangkul Pasangan yang Kalah

    • calendar_month Sabtu, 30 Apr 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Pasangan nomor urut 6, Hidayat Batubara dan Dahlan Nasution, telah ditetapkan sebagai Bupati dan Wakil Bupati Madina periode 2011-2016, Jumat (29/4). Menyusul penetapan itu, pasangan yang unggul dengan 72 persen suara ini, mengaku siap merangkul pasangan yang kalah dalam kabinet mereka nantinya. Selain itu, Hidayat Batubara-Dahlan Hasan Nasution juga menjanjikan pendidikan dan kesehatan gratis. Itu […]

  • Tingkatkan SDM, Bupati Madina Salurkan Bansos untuk Mahasiswa

    Tingkatkan SDM, Bupati Madina Salurkan Bansos untuk Mahasiswa

    • calendar_month Selasa, 19 Okt 2021
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Peningkatan sumber daya manusi (SDM) sangat dibutuhkan dalam membangun satu daerah. Pemerintah sebagai fasilitator harus bisa membangun infrastruktur peningkatan SDM. Salah satunya kelanjutan pendidikan masyarakatnya. Dalam rangka peningkatan SDM di Mandailing Natal (Madina), Bupati Madina H. M. Ja’far Sukhairi Nasution pada Selasa (19/10) menyalurkan bantuan sosial kepada 50 mahasiswa kurang mampu-berprestasi-yang […]

  • Anggota DPRD Madina Jalani Hukuman Penjara Pekan Depan

    Anggota DPRD Madina Jalani Hukuman Penjara Pekan Depan

    • calendar_month Kamis, 16 Jan 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan (Mandailing Online) – Kejaksaan Negeri Panyabungan menyatakan sudah menerima salinan vonis Mahkamah Agung dari Pengadilan Negeri Panyabungan, Kamis (16/1/2014) sekira pukul 16.00 WIB. Vonis Mahkamah Agung ini menetapkan anggota DPRD Mandailing Natal (Madina), Ir. Ali Makmur Nasution alias Jaganding 2 tahun penjara, terkait delik penipuan terhadap calon bupati Madina Aswin Parinduri. Kajari Panyabungan, Satimin,SH […]

  • Sampuraga Juga Ada di Kalimantan

    Sampuraga Juga Ada di Kalimantan

    • calendar_month Selasa, 2 Jun 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Selain di Mandailing, Sumatera Utara, mitos Sampuraga juga ada di Kalimantan. Tepatnya di dalam cerita suku Dayak Tomun, Kabupaten Lamandau Provinsi Kalimantan Tengah. Hanya saja, Sampuraga versi Mandailing memiliki perbedaan dengan Sampuraga versi Lamandau. Persamaannya : kedua versi Sampuraga ini sama-sama durhaka kepada sang ibu. Sampuraga versi Lamandau diceritakan karamnya perahu Sampuraga dan perahu itu […]

  • Hilangnya Frasa “Agama”, Peta Pendidikan Semakin Kehilangan Arah?

    Hilangnya Frasa “Agama”, Peta Pendidikan Semakin Kehilangan Arah?

    • calendar_month Kamis, 11 Mar 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: Nahdoh Fikriyyah Islam Dosen dan Pengamat Politik Peta Jalan Pendidikan Nasional 2020-2035 yang diluncurkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menuai polemik.  Pasalnya, dalam draf sementara Peta Jalan Pendidikan Nasional 2020-2035, frasa ‘agama’ dihapus kemudian digantikan dengan akhlak dan budaya. Sekretaris Eksekutif Bidang Keadilan dan Perdamaian Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI), Pendeta Henrek Lokra, turut menanggapi […]

expand_less