Rabu, 12 Agu 2026
light_mode

KEBUDAYAAN MANDAILING (Bagian I)

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Kamis, 21 Mar 2019
  • print Cetak

Askolani Nasution dan peta Sumatera 514 Masehi

 

 

Oleh : ASKOLANI NASUTION

 

 

PENGANTAR

Harus diakui, amat sedikit referensi tentang kebudayaan Mandailing secara utuh. Beberapa sumber antropologi yang ada selama ini lebih menekankan Mandailing dari pendekatan ilmuan Barat yang memposisikan kebudayaan Mandailing sebagai sub kebudayaan Batak. Antropolog Kuntjoroningrat misalnya masih juga menyebut Mandailing dalam pendekatan orientalis seperti itu. Juga artikel-artikel lain yang menulis tentang Mandailing. Hal itu karena:

  1. Tidak ada yang sungguh-sungguh melakukan penelitian tentang kebudayaan Mandailing yang secara utuh membedakan pola-pola kebudayaan yang berbeda dengan kebudayaan sub-Batak lainnya.
  2. Kajian tentang Mandailing baru muncul setelah penelitian atropolgi Barat yang tragisnya hanya berpola kepada kepentingan hegemoni politik kolonial.
  3. Kajian tentang kebudayaan Mandailing yang berkembang kemudian di universitas-universitas, dalam dan luar negeri, juga mengandalkan referensi yang telah ada sebelumnya.
  4. Sosiolog dan antropolog asal Mandailing pun nyaris tidak ada.

Akibatnya, berbagai kajian yang dipublikasikan selama ini, baik dalam bentuk buku maupun artikel ilmiah, tidak secara mendalam menelaah pola-pola kebudayaan Mandailing. Jadi, tidak heran banyak pendapat yang masih saja memposisikan Mandailing sebatas luhak, sebatas wilayah geografis di kawasan Tapanuli Selatan, sebagai bagian dari kebudayaan Batak.

 

KEBUDAYAAN

Penelitian pertama yang lebih komprehensif tentang Sumatera adalah buku yang ditulis Anthony Reid, “Sumatera Tempo Doeloe, dari Marcopolo sampai Tan Malaka”, Jakarta: Komunitas Bambu, 2010. Buku itu terjemahan dari buku “Witneses to Sumatera, A Traveller Antology”, New York: Oxford University Press, 1995). Bahkan dalam buku itu hanya ada satu kata tentang Mandailing, “Informasi yang kami peroleh tentang provinsi yang lebih luas seperti Angkola dan Mandailing… sangatlah terbatas.” (Hal. 217). Disebutkan bahwa kunjungan pertama ke kawasan Batak dilakukan pada tanggal 30 April 1824, setelah Inggris mengalihkan kekuasaan mereka di Sumatera kepada Belanda.

Buku yang lebih mendalam tentang Kebudayaan Mandailing patut disebut buku yang ditulis Tim Balai Arkeologi, “Sumatera Utara: Catatan Sejarah dan Arkeologi”. Yogyakarta: Ombak, 2014. Dalam buku itu disebutkan bahwa sejak abad I masehi terdapat delapan jalur perdagangan penting di Sumatera. Salah satu rute itu adalah rute Natal – Pedalaman Mandailing. Dalam buku ini, Mandailing sudah diposisikan sebagai satu kebudayaan yang utuh, tanpa mengaitkannya dengan kebudayaan Batak.

Peta Sumtera 514 Masehi

Dalam buku “History of Sumatera” yang terbit petengahan abad ke 18, muncul peta pertama tentang Mandailing. Dalam peta itu, tahun 514 masehi, muncul kawasan Mandailing. Mandailing merupakan kawasan yang tampaknya menempati seluruh bekas kabupaten Tapanuli Selatan, bertetangga dengan kawasan Batak Tua, Nagur, Rokan, dan Pariaman. Peta itu tidak membedan kawasan Angkola dan Padang Lawas, juga Natal. Dengan demikian:

  • Pada tahun 514 masehi, yang ada hanya kebudayaan Mandailing, tidak ditunjukkan adanya kebudayaan Angkola.
  • Kawasan Batak yang dinamai Batak Tua, membentang di sekitar Danau Toba dan sama sekali merupakan bagian yang terpisah dengan Mandailing.

Sebutan tentang Batak Tua tentu juga menjadi pointer yang harus diurai benang merahnya. Dalam seminar yang digagas Balai Arkeologi Medan pada bulan Mei 2018, disampaikan temuan penelitian yang dilaksanakan Balai Arkeologi di kawasan Sianjur Mula-mula, yang disebut-sebut sebagai asal mula orang Batak. Temuan mereka menunjukkan bahwa peradaban Batak baru ditemukan pada lapisan tanah yang berusia 600 tahun yang lalu, bersamaan dengan temuan botol bir Swedia. Sekalipun ada peradaban yang diyakini sudah berusia sekitar seribu tahun, tapi kebudayaan di Sianjur Mula-mula dimaksud belum dapat didefenisikan. Padahal, jika dibandingkan dengan kawasan Mandailing, pada abad sembilan pun sudah ditemukan peradaban Hindu Budha klasik, misalnya reruntuhan Candi Simangambat di Kecamatan Siabu, candi Saba Biara di Pidoli, dan lain-lain.

Lalu, kebudayaan apa yang disebut sebagai Batak Tua dalam peta itu? Rangkaian tentang lentusan Gunung Toba patut memiliki benang merah tentang manusia kebudayaan Batak. Tiga kali letusan Gunung Toba yang membentuk beberapa kaldera hingga menjadi Danau Toba yang sekarang disebut dalam seminar telah memusnahkan penduduk Sumatera. Saya cenderung pada asumsi bahwa Batak Tua dalam peta dimaksud adalah penghuni kawasan Danau Toba sebelum letusan terakhir.

Selain itu, dalam seminar itu juga disampaikan bahwa manusia Batak dan Mandailing memang bukan berasal dari migrasi yang sama. Sekalipun sama-sama datang dari kebudayaan Dong Song di Taiwan, sebelum migrasi ke kawasan Toba, mereka ratusan tahun lamanya menempati kawasan peradaban tua di Kalimantan dan Sulawesi, baru menempati kawasan Toba. Mandailing yang juga berasal dari kebudayaan Dong Song, disebut-sebut langsung ke Sumatera. Dengan demikian manusia Toba dan Mandailing menempati jeda waktu ratusan atau bahkan ribuan tahun sebelum memasuki Sumatera. Untuk itu, sebutan-sebutan yang menyamakan Batak (Toba dan sub Batak lainnya) dengan Mandailing adalah pengambilan kesimpulan yang amat prematur.

Sumber penting lainnya adalah catatan-catatan perjalanan China di kawasan Asia Tenggara. Anthony Reid menulis buku tentang masa perdagangan itu sebelum abad 18. Dalam catatan itu, pedalaman Mandailing sudah merupakan pusat jalur perdagangan penting sejak abad pertama masehi. Itu berlangsung hingga abad ke 14. Pedagang Cina, India, dan Arab, menjadikan sutra, tembikar, dan emas sebagai komiditas utama dari pedalaman Mandailing yang diekspor ke luar negeri melalui Pelabuhan Natal.

Dalam ekspolarsi fragmen candi Aek Milas awal tahun 2016 yang lalu, saya mendampingi tim Balai Arkeologi dan menemukan ragaman serpihan keramik yang diyakini ada pada masa itu. Serpihan keramik itu kami temukan tak jauh dari Aek Milas Siabu yang berada persis di lereng Bukit Barisan dan di tepian sungai Aek Siancing.

Askolani dan tim Balai Arkeolog mengamati serpihan kramik di tepian sungai Aek Siancing, Siabu, Mandailing Godang

Bukit Barisan merupakan gugusan peradaban yang bertahun-tahun menghubungkan kawasan Candi Simangambat dan Candi Bahal. Jaraknya tak lebih dari 53 km. Kawasan ini yang puluhan abad menjadi jalur transportasi penting. Menjadi jalur transportasi penting, karena hulu Sungai Barumun merupakan pusat penambangan emas utama yang diekspor menuju pantai Timur Sumatera. Karena itu juga, sepanjang DAS Barumun menjadi pusat peradaban Hindu Budha Klasik.

Selain itu, pusat percandian di Siabu dan Simangambat juga memanjang di DAS Batang Angkola yang bermuara ke sungai Batang Gadis di desa Muara Batang Angkola. Muara Batang Angkola pada masa itu juga menjadi pusat penambangan emas yang diekspor menyusuri Sungai Batang Gadis menuju pantai Barat Sumatera. Karena itu tidak diragukan, pedalaman Mandailing yang memanjang di lereng gugusan Bukit Barisan menjadi jalur perdagangan utama di Sumatera. (bersambung)

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kadin Madina Gelar Pelatihan Enterpreneurship

    Kadin Madina Gelar Pelatihan Enterpreneurship

    • calendar_month Kamis, 14 Nov 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

        PUNCAK SORIK MARAPI (Mandailing Online) – Kadin Madina menyelenggarakan Pelatihan Intrepreneurship terhadap usia produktif. Pelatihan berlangsung di Desa Huta Lombang, Kecamatan Puncak Sorik Merapi, Mandailing Natal, Kamis (14/11/ 2019). Sobir Lubis tampil sebagai pemateri di pelatihan enterpreneurship (wirausaha) itu. Usaha yang dicanangkan saat ini masih fokus di industri penenunan sebagai upaya meningkatkan produk […]

  • BEM STAIM dan PT.SMGP Kerjasama Bagi Pemahaman Tentang Geothermal

    BEM STAIM dan PT.SMGP Kerjasama Bagi Pemahaman Tentang Geothermal

    • calendar_month Jumat, 29 Mei 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) –  Fungsi gunung serta energi panas bumi banyak diungkapkan di dalam Al-Qur’an. Dan Allah SWT menyuruh manusia untuk menganalisa dengan ilmu pengetahuan agar dimanfaatkan dan dipelihara dengan baik bagi kebutuhan umat manusia di muka bumi. Itu terungkap dalam Seminar Nasional Komitmen PT. Sorik Merapi Geothermal Power Dalam Meningkatkan Pemberdayaan Masyarakat di […]

  • Wali Kota Pekanbaru Kecam Pungutan Liar Aparatnya

    Wali Kota Pekanbaru Kecam Pungutan Liar Aparatnya

    • calendar_month Kamis, 11 Nov 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PEKANBARU-: Wali Kota Pekanbaru mengecam aparatur tingkat kecamatan dan kelurahan yang masih saja melakukan pungutan liar di luar ketentuan dalam pengurusan administrasi bagi masyarakat. “Masih adanya pungutan di luar ketentuan yang dilakukan oleh aparatur di tingkat bawah menandakan ada perilaku korupsi di bidang pelayanan publik,” ungkap Wali Kota Herman Abdullah, Kamis (11/11). Itu mendapat sorotan […]

  • DCS Dapil 4 PKPI Madina

    DCS Dapil 4 PKPI Madina

    • calendar_month Selasa, 9 Jul 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Daftar Calon Sementara Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Pemilihan Umum Tahun 2014 Dapil 4 PKP Madina

  • Hak Interpelasi Bukan Menjatuhkan Bupati

    Hak Interpelasi Bukan Menjatuhkan Bupati

    • calendar_month Rabu, 10 Des 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

        PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pengusulan hak interpelasi kepada bupati Madina bukan dalam rangka menjatuhkan sang kepala daerah, melainkan meminta penjelasan soal kondisi Madina dan pengelolaan pemerintahan yang dinilai banyak masalah dewasa ini. Dalam temu pers, Rabu (10/12) Ketua Fraksi Golkar Madina, As Imran Khaitamy Daulay menyatakan bahwa usul hak interplasi DPRD Madina bertujuan […]

  • Di Madina, Ada Guru Tiga Bulan Tidak Masuk Mengajar

    Di Madina, Ada Guru Tiga Bulan Tidak Masuk Mengajar

    • calendar_month Jumat, 11 Mar 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan, Komisi A DPRD Kabupaten Mandailing Natal (Madina) menemukan oknum guru yang tidak masuk mengajar selama 3 bulan. Hal ini ditemukan Komisi A saat inspeksi mendadak (Sidak) ke SMU Negeri 1 Panyabungan, Kamis (10/03/2011). Kehadiran Anggota dewan langsung diterima Kepala SMAN 1 Panyabungan Suaidah Lubis di ruang kerjanya. Sementara perwakilan Komisi A yang melakukan sidak […]

expand_less