Jumat, 5 Jun 2026
light_mode

KEBUDAYAAN MANDAILING (Bagian I)

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Kamis, 21 Mar 2019
  • print Cetak

Askolani Nasution dan peta Sumatera 514 Masehi

 

 

Oleh : ASKOLANI NASUTION

 

 

PENGANTAR

Harus diakui, amat sedikit referensi tentang kebudayaan Mandailing secara utuh. Beberapa sumber antropologi yang ada selama ini lebih menekankan Mandailing dari pendekatan ilmuan Barat yang memposisikan kebudayaan Mandailing sebagai sub kebudayaan Batak. Antropolog Kuntjoroningrat misalnya masih juga menyebut Mandailing dalam pendekatan orientalis seperti itu. Juga artikel-artikel lain yang menulis tentang Mandailing. Hal itu karena:

  1. Tidak ada yang sungguh-sungguh melakukan penelitian tentang kebudayaan Mandailing yang secara utuh membedakan pola-pola kebudayaan yang berbeda dengan kebudayaan sub-Batak lainnya.
  2. Kajian tentang Mandailing baru muncul setelah penelitian atropolgi Barat yang tragisnya hanya berpola kepada kepentingan hegemoni politik kolonial.
  3. Kajian tentang kebudayaan Mandailing yang berkembang kemudian di universitas-universitas, dalam dan luar negeri, juga mengandalkan referensi yang telah ada sebelumnya.
  4. Sosiolog dan antropolog asal Mandailing pun nyaris tidak ada.

Akibatnya, berbagai kajian yang dipublikasikan selama ini, baik dalam bentuk buku maupun artikel ilmiah, tidak secara mendalam menelaah pola-pola kebudayaan Mandailing. Jadi, tidak heran banyak pendapat yang masih saja memposisikan Mandailing sebatas luhak, sebatas wilayah geografis di kawasan Tapanuli Selatan, sebagai bagian dari kebudayaan Batak.

 

KEBUDAYAAN

Penelitian pertama yang lebih komprehensif tentang Sumatera adalah buku yang ditulis Anthony Reid, “Sumatera Tempo Doeloe, dari Marcopolo sampai Tan Malaka”, Jakarta: Komunitas Bambu, 2010. Buku itu terjemahan dari buku “Witneses to Sumatera, A Traveller Antology”, New York: Oxford University Press, 1995). Bahkan dalam buku itu hanya ada satu kata tentang Mandailing, “Informasi yang kami peroleh tentang provinsi yang lebih luas seperti Angkola dan Mandailing… sangatlah terbatas.” (Hal. 217). Disebutkan bahwa kunjungan pertama ke kawasan Batak dilakukan pada tanggal 30 April 1824, setelah Inggris mengalihkan kekuasaan mereka di Sumatera kepada Belanda.

Buku yang lebih mendalam tentang Kebudayaan Mandailing patut disebut buku yang ditulis Tim Balai Arkeologi, “Sumatera Utara: Catatan Sejarah dan Arkeologi”. Yogyakarta: Ombak, 2014. Dalam buku itu disebutkan bahwa sejak abad I masehi terdapat delapan jalur perdagangan penting di Sumatera. Salah satu rute itu adalah rute Natal – Pedalaman Mandailing. Dalam buku ini, Mandailing sudah diposisikan sebagai satu kebudayaan yang utuh, tanpa mengaitkannya dengan kebudayaan Batak.

Peta Sumtera 514 Masehi

Dalam buku “History of Sumatera” yang terbit petengahan abad ke 18, muncul peta pertama tentang Mandailing. Dalam peta itu, tahun 514 masehi, muncul kawasan Mandailing. Mandailing merupakan kawasan yang tampaknya menempati seluruh bekas kabupaten Tapanuli Selatan, bertetangga dengan kawasan Batak Tua, Nagur, Rokan, dan Pariaman. Peta itu tidak membedan kawasan Angkola dan Padang Lawas, juga Natal. Dengan demikian:

  • Pada tahun 514 masehi, yang ada hanya kebudayaan Mandailing, tidak ditunjukkan adanya kebudayaan Angkola.
  • Kawasan Batak yang dinamai Batak Tua, membentang di sekitar Danau Toba dan sama sekali merupakan bagian yang terpisah dengan Mandailing.

Sebutan tentang Batak Tua tentu juga menjadi pointer yang harus diurai benang merahnya. Dalam seminar yang digagas Balai Arkeologi Medan pada bulan Mei 2018, disampaikan temuan penelitian yang dilaksanakan Balai Arkeologi di kawasan Sianjur Mula-mula, yang disebut-sebut sebagai asal mula orang Batak. Temuan mereka menunjukkan bahwa peradaban Batak baru ditemukan pada lapisan tanah yang berusia 600 tahun yang lalu, bersamaan dengan temuan botol bir Swedia. Sekalipun ada peradaban yang diyakini sudah berusia sekitar seribu tahun, tapi kebudayaan di Sianjur Mula-mula dimaksud belum dapat didefenisikan. Padahal, jika dibandingkan dengan kawasan Mandailing, pada abad sembilan pun sudah ditemukan peradaban Hindu Budha klasik, misalnya reruntuhan Candi Simangambat di Kecamatan Siabu, candi Saba Biara di Pidoli, dan lain-lain.

Lalu, kebudayaan apa yang disebut sebagai Batak Tua dalam peta itu? Rangkaian tentang lentusan Gunung Toba patut memiliki benang merah tentang manusia kebudayaan Batak. Tiga kali letusan Gunung Toba yang membentuk beberapa kaldera hingga menjadi Danau Toba yang sekarang disebut dalam seminar telah memusnahkan penduduk Sumatera. Saya cenderung pada asumsi bahwa Batak Tua dalam peta dimaksud adalah penghuni kawasan Danau Toba sebelum letusan terakhir.

Selain itu, dalam seminar itu juga disampaikan bahwa manusia Batak dan Mandailing memang bukan berasal dari migrasi yang sama. Sekalipun sama-sama datang dari kebudayaan Dong Song di Taiwan, sebelum migrasi ke kawasan Toba, mereka ratusan tahun lamanya menempati kawasan peradaban tua di Kalimantan dan Sulawesi, baru menempati kawasan Toba. Mandailing yang juga berasal dari kebudayaan Dong Song, disebut-sebut langsung ke Sumatera. Dengan demikian manusia Toba dan Mandailing menempati jeda waktu ratusan atau bahkan ribuan tahun sebelum memasuki Sumatera. Untuk itu, sebutan-sebutan yang menyamakan Batak (Toba dan sub Batak lainnya) dengan Mandailing adalah pengambilan kesimpulan yang amat prematur.

Sumber penting lainnya adalah catatan-catatan perjalanan China di kawasan Asia Tenggara. Anthony Reid menulis buku tentang masa perdagangan itu sebelum abad 18. Dalam catatan itu, pedalaman Mandailing sudah merupakan pusat jalur perdagangan penting sejak abad pertama masehi. Itu berlangsung hingga abad ke 14. Pedagang Cina, India, dan Arab, menjadikan sutra, tembikar, dan emas sebagai komiditas utama dari pedalaman Mandailing yang diekspor ke luar negeri melalui Pelabuhan Natal.

Dalam ekspolarsi fragmen candi Aek Milas awal tahun 2016 yang lalu, saya mendampingi tim Balai Arkeologi dan menemukan ragaman serpihan keramik yang diyakini ada pada masa itu. Serpihan keramik itu kami temukan tak jauh dari Aek Milas Siabu yang berada persis di lereng Bukit Barisan dan di tepian sungai Aek Siancing.

Askolani dan tim Balai Arkeolog mengamati serpihan kramik di tepian sungai Aek Siancing, Siabu, Mandailing Godang

Bukit Barisan merupakan gugusan peradaban yang bertahun-tahun menghubungkan kawasan Candi Simangambat dan Candi Bahal. Jaraknya tak lebih dari 53 km. Kawasan ini yang puluhan abad menjadi jalur transportasi penting. Menjadi jalur transportasi penting, karena hulu Sungai Barumun merupakan pusat penambangan emas utama yang diekspor menuju pantai Timur Sumatera. Karena itu juga, sepanjang DAS Barumun menjadi pusat peradaban Hindu Budha Klasik.

Selain itu, pusat percandian di Siabu dan Simangambat juga memanjang di DAS Batang Angkola yang bermuara ke sungai Batang Gadis di desa Muara Batang Angkola. Muara Batang Angkola pada masa itu juga menjadi pusat penambangan emas yang diekspor menyusuri Sungai Batang Gadis menuju pantai Barat Sumatera. Karena itu tidak diragukan, pedalaman Mandailing yang memanjang di lereng gugusan Bukit Barisan menjadi jalur perdagangan utama di Sumatera. (bersambung)

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Fitrah Suryani Nasution Utusan Madina OSN Tingkat Sumut

    Fitrah Suryani Nasution Utusan Madina OSN Tingkat Sumut

    • calendar_month Jumat, 8 Apr 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    KOTANOPAN (Mandailing Online) – Fitrah Suryani Nasution siswa SMP Negeri I Kotanopan menjadi utusan Kabupaten Mandailing Natal pada Olimpiade Sains Nasional (OSN) tingkat Provinsi Sumatra Utara. OSN itu akan akan dilaksanakan pada Sabtu 9 April 2016 di Medan. Kepala Sekolah SMP Negeri 1 Kotanopan, Irsan Hasibuan, S.pd kepada Mandailing Online, Jumat, (8/4)  menyampaikan rasa bangga atas perestasi […]

  • Meninjau Kembali “Eksperimentasi” Pilkada Langsung Di Indonesia

    Meninjau Kembali “Eksperimentasi” Pilkada Langsung Di Indonesia

    • calendar_month Rabu, 22 Jan 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Pilkada melalui perwakilan DPRD menurut saya merupakan pilihan rasional di tengah-tengah situasi yang ”berisik’ akibat dari ’politik sebagai panglima’ yang mengakibatkan terbengkelainya pembangunan ekonomi sekarang ini. Oleh: Tri Ratnawati Di era ‘kapitalisasi pilkada’ saat ini, figur-figur berduit atau yang dipasoki dana oleh pihak lain, peluang mereka untuk memenangi pilkada langsung cenderung besar dengan cara money […]

  • Teman Sekelas Harun di SMA N 1 Panyabungan Siap Bersaksi Soal Laporan Henri Husein

    Teman Sekelas Harun di SMA N 1 Panyabungan Siap Bersaksi Soal Laporan Henri Husein

    • calendar_month Kamis, 7 Nov 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    Panyabungan (Mandailing Online) – Terkait pengaduan Henri Husein Nasution ke Bawaslu dan Gakumdu soal dugaan menggunakan surat keterangan palsu dan ijazah palsu saat mendaftarkan diri sebagai Calon Bupati Mandailing Natal (Madina). Teman sekelas Cabup Harun Mustafa Nasution bersuara. Nis’at Sidik Ketua DPD Partai Amanat Nasional (PAN) Madina pun siap bersaksi bahwa Harun Mustafa Nasution merupakan […]

  • Bapel Jembatan Selat Sunda Masih Tahap Desain

    Bapel Jembatan Selat Sunda Masih Tahap Desain

    • calendar_month Selasa, 10 Jan 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Jakarta. Pemerintah masih mendesain badan pelaksana jembatan Selat Sunda yang menurut Peraturan Presiden (Perpres) No 86 Tahun 2011 tentang Pengembangan Kawasan Strategis dan Infrastruktur Selat Sunda harus terbentuk pada 2012. Menteri Pekerjaan Umum, Djoko Kirmanto, di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin kemarin, mengatakan, desain badan tersebut tidak bisa sembarangan karena masalah yang dihadapi lebih kompleks. “Badan […]

  • Bupati Simalungun Bantah Suap Hakim MK

    Bupati Simalungun Bantah Suap Hakim MK

    • calendar_month Senin, 13 Des 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    SIMALUNGUN : Jopinus Ramli (JR) Saragih yang terpilih sebagai Bupati Simalungun periode 2010-2015, membantah telah melakukan penyuapan terhadap hakim di Mahkamah Konstitusi (MK) terkait gugatan Pemilukada Kabupaten Simalungun beberapa waktu lalu. Sebelumnya, JR Saragih diduga telah menyuap hakim di MK, Akil Mochtar sebesar RP 1 miliar dalam bentuk dolar yang diberikan melalui supir pribadinya, Purwanto. […]

  • 273 Juta Perjalanan Dinas Anggota DPRD Madina Fiktif

    273 Juta Perjalanan Dinas Anggota DPRD Madina Fiktif

    • calendar_month Jumat, 30 Agt 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 6Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menemukan sekitar Rp.273 juta perjalanan dinas 15 anggota DPRD Mandailing Natal (Madina) tahun 2012 salah gunakan alias fiktif. Dan, Bupati Madina Hidayat Batubara telah meminta kepada 15 anggota DPRD Madina yang terlibat segera mengembalikannya ke kas daerah. “Sesuai surat Bupati kepada DPRD Madina agar segera mengembalikan uang […]

expand_less