Sabtu, 5 Sep 2026
light_mode

KEBUDAYAAN MANDAILING (Bagian I)

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Kamis, 21 Mar 2019
  • print Cetak

Askolani Nasution dan peta Sumatera 514 Masehi

 

 

Oleh : ASKOLANI NASUTION

 

 

PENGANTAR

Harus diakui, amat sedikit referensi tentang kebudayaan Mandailing secara utuh. Beberapa sumber antropologi yang ada selama ini lebih menekankan Mandailing dari pendekatan ilmuan Barat yang memposisikan kebudayaan Mandailing sebagai sub kebudayaan Batak. Antropolog Kuntjoroningrat misalnya masih juga menyebut Mandailing dalam pendekatan orientalis seperti itu. Juga artikel-artikel lain yang menulis tentang Mandailing. Hal itu karena:

  1. Tidak ada yang sungguh-sungguh melakukan penelitian tentang kebudayaan Mandailing yang secara utuh membedakan pola-pola kebudayaan yang berbeda dengan kebudayaan sub-Batak lainnya.
  2. Kajian tentang Mandailing baru muncul setelah penelitian atropolgi Barat yang tragisnya hanya berpola kepada kepentingan hegemoni politik kolonial.
  3. Kajian tentang kebudayaan Mandailing yang berkembang kemudian di universitas-universitas, dalam dan luar negeri, juga mengandalkan referensi yang telah ada sebelumnya.
  4. Sosiolog dan antropolog asal Mandailing pun nyaris tidak ada.

Akibatnya, berbagai kajian yang dipublikasikan selama ini, baik dalam bentuk buku maupun artikel ilmiah, tidak secara mendalam menelaah pola-pola kebudayaan Mandailing. Jadi, tidak heran banyak pendapat yang masih saja memposisikan Mandailing sebatas luhak, sebatas wilayah geografis di kawasan Tapanuli Selatan, sebagai bagian dari kebudayaan Batak.

 

KEBUDAYAAN

Penelitian pertama yang lebih komprehensif tentang Sumatera adalah buku yang ditulis Anthony Reid, “Sumatera Tempo Doeloe, dari Marcopolo sampai Tan Malaka”, Jakarta: Komunitas Bambu, 2010. Buku itu terjemahan dari buku “Witneses to Sumatera, A Traveller Antology”, New York: Oxford University Press, 1995). Bahkan dalam buku itu hanya ada satu kata tentang Mandailing, “Informasi yang kami peroleh tentang provinsi yang lebih luas seperti Angkola dan Mandailing… sangatlah terbatas.” (Hal. 217). Disebutkan bahwa kunjungan pertama ke kawasan Batak dilakukan pada tanggal 30 April 1824, setelah Inggris mengalihkan kekuasaan mereka di Sumatera kepada Belanda.

Buku yang lebih mendalam tentang Kebudayaan Mandailing patut disebut buku yang ditulis Tim Balai Arkeologi, “Sumatera Utara: Catatan Sejarah dan Arkeologi”. Yogyakarta: Ombak, 2014. Dalam buku itu disebutkan bahwa sejak abad I masehi terdapat delapan jalur perdagangan penting di Sumatera. Salah satu rute itu adalah rute Natal – Pedalaman Mandailing. Dalam buku ini, Mandailing sudah diposisikan sebagai satu kebudayaan yang utuh, tanpa mengaitkannya dengan kebudayaan Batak.

Peta Sumtera 514 Masehi

Dalam buku “History of Sumatera” yang terbit petengahan abad ke 18, muncul peta pertama tentang Mandailing. Dalam peta itu, tahun 514 masehi, muncul kawasan Mandailing. Mandailing merupakan kawasan yang tampaknya menempati seluruh bekas kabupaten Tapanuli Selatan, bertetangga dengan kawasan Batak Tua, Nagur, Rokan, dan Pariaman. Peta itu tidak membedan kawasan Angkola dan Padang Lawas, juga Natal. Dengan demikian:

  • Pada tahun 514 masehi, yang ada hanya kebudayaan Mandailing, tidak ditunjukkan adanya kebudayaan Angkola.
  • Kawasan Batak yang dinamai Batak Tua, membentang di sekitar Danau Toba dan sama sekali merupakan bagian yang terpisah dengan Mandailing.

Sebutan tentang Batak Tua tentu juga menjadi pointer yang harus diurai benang merahnya. Dalam seminar yang digagas Balai Arkeologi Medan pada bulan Mei 2018, disampaikan temuan penelitian yang dilaksanakan Balai Arkeologi di kawasan Sianjur Mula-mula, yang disebut-sebut sebagai asal mula orang Batak. Temuan mereka menunjukkan bahwa peradaban Batak baru ditemukan pada lapisan tanah yang berusia 600 tahun yang lalu, bersamaan dengan temuan botol bir Swedia. Sekalipun ada peradaban yang diyakini sudah berusia sekitar seribu tahun, tapi kebudayaan di Sianjur Mula-mula dimaksud belum dapat didefenisikan. Padahal, jika dibandingkan dengan kawasan Mandailing, pada abad sembilan pun sudah ditemukan peradaban Hindu Budha klasik, misalnya reruntuhan Candi Simangambat di Kecamatan Siabu, candi Saba Biara di Pidoli, dan lain-lain.

Lalu, kebudayaan apa yang disebut sebagai Batak Tua dalam peta itu? Rangkaian tentang lentusan Gunung Toba patut memiliki benang merah tentang manusia kebudayaan Batak. Tiga kali letusan Gunung Toba yang membentuk beberapa kaldera hingga menjadi Danau Toba yang sekarang disebut dalam seminar telah memusnahkan penduduk Sumatera. Saya cenderung pada asumsi bahwa Batak Tua dalam peta dimaksud adalah penghuni kawasan Danau Toba sebelum letusan terakhir.

Selain itu, dalam seminar itu juga disampaikan bahwa manusia Batak dan Mandailing memang bukan berasal dari migrasi yang sama. Sekalipun sama-sama datang dari kebudayaan Dong Song di Taiwan, sebelum migrasi ke kawasan Toba, mereka ratusan tahun lamanya menempati kawasan peradaban tua di Kalimantan dan Sulawesi, baru menempati kawasan Toba. Mandailing yang juga berasal dari kebudayaan Dong Song, disebut-sebut langsung ke Sumatera. Dengan demikian manusia Toba dan Mandailing menempati jeda waktu ratusan atau bahkan ribuan tahun sebelum memasuki Sumatera. Untuk itu, sebutan-sebutan yang menyamakan Batak (Toba dan sub Batak lainnya) dengan Mandailing adalah pengambilan kesimpulan yang amat prematur.

Sumber penting lainnya adalah catatan-catatan perjalanan China di kawasan Asia Tenggara. Anthony Reid menulis buku tentang masa perdagangan itu sebelum abad 18. Dalam catatan itu, pedalaman Mandailing sudah merupakan pusat jalur perdagangan penting sejak abad pertama masehi. Itu berlangsung hingga abad ke 14. Pedagang Cina, India, dan Arab, menjadikan sutra, tembikar, dan emas sebagai komiditas utama dari pedalaman Mandailing yang diekspor ke luar negeri melalui Pelabuhan Natal.

Dalam ekspolarsi fragmen candi Aek Milas awal tahun 2016 yang lalu, saya mendampingi tim Balai Arkeologi dan menemukan ragaman serpihan keramik yang diyakini ada pada masa itu. Serpihan keramik itu kami temukan tak jauh dari Aek Milas Siabu yang berada persis di lereng Bukit Barisan dan di tepian sungai Aek Siancing.

Askolani dan tim Balai Arkeolog mengamati serpihan kramik di tepian sungai Aek Siancing, Siabu, Mandailing Godang

Bukit Barisan merupakan gugusan peradaban yang bertahun-tahun menghubungkan kawasan Candi Simangambat dan Candi Bahal. Jaraknya tak lebih dari 53 km. Kawasan ini yang puluhan abad menjadi jalur transportasi penting. Menjadi jalur transportasi penting, karena hulu Sungai Barumun merupakan pusat penambangan emas utama yang diekspor menuju pantai Timur Sumatera. Karena itu juga, sepanjang DAS Barumun menjadi pusat peradaban Hindu Budha Klasik.

Selain itu, pusat percandian di Siabu dan Simangambat juga memanjang di DAS Batang Angkola yang bermuara ke sungai Batang Gadis di desa Muara Batang Angkola. Muara Batang Angkola pada masa itu juga menjadi pusat penambangan emas yang diekspor menyusuri Sungai Batang Gadis menuju pantai Barat Sumatera. Karena itu tidak diragukan, pedalaman Mandailing yang memanjang di lereng gugusan Bukit Barisan menjadi jalur perdagangan utama di Sumatera. (bersambung)

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Mantan Kapolres Siantar Ditahan di Tanjung Gusta

    Mantan Kapolres Siantar Ditahan di Tanjung Gusta

    • calendar_month Jumat, 17 Jan 2014
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    PEMATANGSIANTAR – Mantan Kapolres Pematangsiantar AKBP Fatori resmi ditahan setelah menerima eksekusi dari pihak Kejari Pematangsiantar. Fatori tampak memasuki ruangan Kepala Kejari Rudi H Pamenan dan kemudian memasuki ruangan Jaksa Penuntut Umum (JPU), R Nainggolan, untuk menandatangani berkas eksekusinya, Kamis, (16/1/2014). AKBP Fathori, yang saat ini menjabat sebagai Wakil Direktur Pengamanan Objek Vital (Pam. Obvit) resmi […]

  • Bamus DPRD Madina Gagal Lagi

    Bamus DPRD Madina Gagal Lagi

    • calendar_month Senin, 13 Agt 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan (MO) – Rapat Badan Musyawarah (Bamus) DPRD Madina gagal lagi, Senin (13/8) untuk menetapkan jadwal agenda pembahasan Perhitungan APBD 2011. Ini gagal kali kedua setelah pada Jum’at (10/8) gagal rapat akibat tak mencukupi quorum. Kegagalan kali kedua ini juga akibat jumlah anggota yang hadir tidak mencukupi quorum. Dari 23 total jumlah anggota Bamus plus […]

  • Saparuddin-Miswaruddin Dinilai Mampu Kelola SDA Madina Untuk Sejahterakan Rakyat

    Saparuddin-Miswaruddin Dinilai Mampu Kelola SDA Madina Untuk Sejahterakan Rakyat

    • calendar_month Minggu, 6 Des 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    ‎ PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Kabupaten Madina sungguh kaya sumber daya alam, tapi sesungguhnya belum bisa memberikan kesejahteraan bagi rakyat. Kebijakan-kebijakan pemerintah belum berpihak kepada rakyat, sehingga banyak terjadi ketimpangan yang berujung penderitaan bagi rakyat. “Melihat latar belakang pasangan Saparuddin Haji-Miswaruddin gabungan ekonom akademisi, saya yakin pasangan ini bersama DPRD akan mampu membuat langkah strategis […]

  • Atika Harap Kemenkumham Atensi Kasus Penganiaya Anak SD

    Atika Harap Kemenkumham Atensi Kasus Penganiaya Anak SD

    • calendar_month Selasa, 29 Agt 2023
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Tabiat oknum sipir LP Kelas IIB Natal juga menuai kecaman dari Wakil Bupati Mandailing Natal Atika Azmi Utammi Nasution. Perbuatan oknum sipir yang diduga melakukan kekerasan terhadap anak usia sekolah dasar jadi sorotan banyak kalangan dalam dua hari ini. Atika menyatakan perbuatan oknum itu tak bisa dibenarkan. “Tidak ada yg bisa […]

  • Tradisi Memberi Makan Anak Yatim Usai Panen di Huraba

    Tradisi Memberi Makan Anak Yatim Usai Panen di Huraba

    • calendar_month Senin, 24 Mar 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    SIABU (Mandailing Online) – Di Desa Huraba, Kecamatan Siabu, Kabupaten Mandailing Natal (Madina) ada tradisi memberi makan dan uang tunai kepada semua anak yatim setelah selesai musim panen padi di desa itu. Tradisi ini sudah bertahun-tahun berlaku dan telah menjadi kegiatan rutin sebagai salah satu ucapan syukur usai panen. Seperti kegiatan pada Minggu (23/3/2014) yang […]

  • DCS Dapil 1 PPP Madina

    DCS Dapil 1 PPP Madina

    • calendar_month Selasa, 9 Jul 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Daftar Calon Sementara Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Pemilihan Umum Tahun 2014 Dapil 1 PPP

expand_less