Sabtu, 5 Sep 2026
light_mode

Serial HUT Madina : Desa Hutapuli Tak Punya Sekolah, Pelajar Harus Jalan Kaki 2,5 Km

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Sabtu, 3 Mar 2018
  • print Cetak

Pelajar dari Desa Hutapuli, Kotanopan menempuh hutan menuju sekolah sejauh 2,5 Km (foto : Lokot Husda Lubis)

KOTANOPAN (Mandailing Online) – Tanggal 9 Maret 2018 nanti, Kabupaten Mandailing Natal akan memperingati Hari Jadi-nya yang ke-19. Tetapi, nun di pelosok Kecamatan Kotanopan masih ada rombongan pelajar menuju sekolah jalan kaki sejauh 5 kilo meter.

Pagi itu jarum jam masih menunjukkan pukul 06.00 Wib, Jum’at (2/3/2018).  Udara di sekitar desa Hutapuli Kecamatan  Kotanopan, Mandailing Natal (Madina) masih cukup dingin.  Dedaunan yang terdapat di kiri kanan jalan menuju desa masih basah, menandakan embun pagi masih turun. Saat itu,  jarak pandang  hanya sekitar 100 meter.

Di tengah kondisi seperti ini,  sekitar 21 orang usia anak sekolah,  mulai tingkat SD hingga SLTP dari desa tersebut perlahan melangkah menapaki jalan desa menuju sekolah mereka yang terletak di Desa Simpang Tolang Julu.

Jarak dari rumah mereka di desa Hutapuli menuju sekolah di Desa Simpang Tolang Julu sekitar 2,5 Km.  Berarti setiap harinya,  anak anak harapan bangsa ini harus berjalan sepanjang 5 Km. Hal ini mereka lakukan karena di desanya tidak pernah berdiri sekolah,  baik tingkat SD maupun SLTP.

Perlahan demi perlahan,  mereka harus melalui jalan bebatuan bercampur kerikil dan tanah, menempuh kawasan hutan dan perladangan.  Tidak jarang,  baju mereka basah karena hujan tiba tiba turun di tengah jalan.  Kalau hal ini terjadi,  mereka harus mengambil daun pisang untuk sekedar payung menghindari basah. Bukan itu saja,  selain jalan tanjakan mereka juga harus melewati hutan yang berada di kiri kanan jalan yang terkadang rawan dengan binatang buas.

Itulah segelintir potret anak anak usia sekolah dari desa Hutapuli. Tidak adanya sekolah di kampungnya,  membuat mereka harus berjalan kaki sepanjang 5 Km setiap harinya. Tidak terbayangkan,  usia anak SD ini berjalan secara berrombongan tiga atau empat orang yang mana di kiri kanan jalan masih di nominasi hutan. Sikap pantang menyerah  dalam menuntut ilmu ini  patut di ajungkan jempol untuk anak usia sekolah dari di desa Hutapuli ini. Ini tentunya sangat berbanding terbalik dengan kondisi pendidikan di kota.

Riski, salah satu dari mereka, ia duduk di kelas III SD Simpang Tolang Julu.  Setiap hari ia bersama siswa lainnya dari desa Hutapuli harus menguras tenaga berjalan 5 Km menuju sekolah.  Rasa capek yang mereka alami setiap harinya harus mereka tahankan untuk mendapatkan ilmu. Perjuangan yang luar biasa dari anak bangsa untuk memperoleh pendidikan.

Kondisi ini tentunya tidak boleh dibiarkan terus menerus.  Untuk memperoleh ilmu,  anak harus mendapat fasilitas yang memadai dari negara.  Negara bertanggung jawab mencerdaskan anak bangsa.  Secara psikologis,  berjalan sejauh 5 km setiap harinya tentunya berdampak pada si anak.  Sebelum pelajaran di mulai di pagi hari,  fisik anak sudah capek,  belum lagi kegiatan sekolah mulai dari upacara, olah raga dan kegiatan lainnya.  Pemerintah harus punya solusi untuk itu.

Sedangkan Abdul Rahim, salah satu orangtua yang di jumpai mengakui sangat berat mengiklaskan anaknya harus berjalan 5 Km untuk mencapai sekolah.  Apalagi usia mereka cukup belia,  antara 7- 15 tahun.  Namun apa hendak di kata,  kondisinya sudah begitu.  Sejak desa ini berdiri mulai zaman Belanda,   tidak pernah berdiri sekolah.

Dambaan untuk bisa berdiri sekolah di desa yang di huni 42 KK ini memang cukup besar.  Walaupun sebatas kelas jauh,  itu sudah lebih dari cukup.  Namun,  untuk saat ini keinginan warga desa sepertinya masih sebatas angan angan. Kenyataannya,  Indonesia sudah 73 tahun merdeka,  jangankan untuk mendirikan sekolah jalan ke desa ini masih kupak kapik.  Dari panjang jalan sekitar 2.5 Km,  baru sekitar 700 meter yang di rabat beton.

Kepala desa Hutapuli,  Sahruddin yang di jumpai, Jumat (2/3/2018) membenarkan bahwa usia anak sekolah di desanya harus berjalan 5 Km menuju sekolah setiap harinya.  Kondisi ini  sudah berlangsung mulai sejak desa ini ada.  Mereka harus berjuang cukup berat untuk mendapatkan ilmu. Bayangkan saja,  usia SD harus berjalan cukup jauh untuk mendapatkan ilmu.

Dikatakannya,  sebenarnya inti dari permasalahan ini semua adalah buruknya  infrastruktur jalan  kedesa ini.  Coba bayangkan,  kalau jalan ini bagus anak anak ini bisa di antar jemput orangtuanya naik sepeda motor kesekolahnya. Tentunya anak anak ini akan lebih fokus belajar  tanpa merasakan capeknya badan dengan berjalan kaki.

Langkah awal,   memang sudah di lakukan dengan membangun jalan ini dengan rabat beton sekitar 700 meter.  Sedangkan sisanya sekitar 1800 meter masih bebatuan dan tanah.  Rencananya tahun depan,  akan kita lanjutkan pembangunannya dengan dana desa. Namun  anggaran Dana Desa ini tentunya masih terbatas.  Masih diharapkan dana bantuan dari Pemkab Madina.

“Kemudian, kita juga berharap adanya kepeduliaan  Pemkab Mandailing  Natal untuk membangun jalan ini.  Begitu juga dengan anggota DPRD Madina yang berasal dari dapem II agar ikut memperjuangkannya.  Buruknya infrastruktur jalan ini tentunya berdampak  kepada semua sektor.

 

Penulis : Lokot Husda Lubis

Editor : Dahlan Batubara

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Harapan Baru di Selatan Sumut: IKANAS Madina dan Jalan Panjang Nasution untuk Nusantara

    Harapan Baru di Selatan Sumut: IKANAS Madina dan Jalan Panjang Nasution untuk Nusantara

    • calendar_month Rabu, 20 Mei 2026
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Oleh: Tim Mandailing Epicentrum   Ada yang perlahan bergerak dari selatan Sumatera Utara. Bukan suara ledakan politik. Bukan pula gegap-gempita proyek negara. Tetapi denyut lama yang seperti hendak dibangunkan kembali: kesadaran tentang persaudaraan, kehormatan sosial, dan tanggung jawab antargenerasi di tengah dunia yang semakin individualistik. Di Mandailing Natal, geliat itu mulai terasa melalui bangkitnya […]

  • Beasiswa Kepada 280 Mahasiswa Miskin Disalurkan

    Beasiswa Kepada 280 Mahasiswa Miskin Disalurkan

    • calendar_month Rabu, 28 Jan 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal (Madina) melalui Dinas Pendidikan, Selasa (27/1)  menyalurkan beasiswa bagi 280 orang mahasiswa miskin berperstasi asal Madina yang tersebar di berbagai perguruan tinggi negeri di Indonesia. Dana bantuan yang bersumber dari APBD tahun anggaran 2014 ini merupakan program tahunan yang sudah berjalan beberapa tahun beranjak dari visi […]

  • Mengukur Risiko Gagal “Kampung Pisang”: Antara Jargon dan Fakta Lapangan

    Mengukur Risiko Gagal “Kampung Pisang”: Antara Jargon dan Fakta Lapangan

    • calendar_month Rabu, 29 Apr 2026
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Oleh: Tim Mandailing Epicentrum*   Program “Kampung Pisang” di Mandailing Natal datang dengan bahasa yang meyakinkan: ada “general check-up” tanah, identifikasi hama dan penyakit, hingga “terapi awal” sebelum pengembangan kawasan. Sekilas, semua terdengar rapi—bahkan ilmiah. Namun pertanyaannya sederhana: seberapa jauh istilah-istilah itu benar-benar mencerminkan kondisi faktual di lapangan? Karena dalam banyak program pembangunan, kegagalan […]

  • Tujuh Kalimat Mustajab

    Tujuh Kalimat Mustajab

    • calendar_month Minggu, 26 Apr 2015
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

      JAKARTA  – Semua orang mendambakan kebahagiaan. Akan tetapi, memaknai sebuah kebahagiaan bisa berbeda antara satu dan yang lainnya. Bagi kaum materialis, bahagia adalah jika sudah terpenuhinya segala kebutuhan fisik. Hanya, kebutuhan fisik tidak akan pernah ada batasannya. Dalam agama Islam, kebahagiaan (as-sa'adah) adalah selerasnya keinginan hamba dengan taufik Allah SWT. Kebahagiaan ini akan terasa […]

  • Siswa dan Guru Diinterogasi Polisi

    Siswa dan Guru Diinterogasi Polisi

    • calendar_month Jumat, 30 Agt 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    SELUMA, – Kapolres Seluma AKPB Parhorian Lumban Gaol, S.Ik melalui Kapolsek Sukaraja Iptu Suraya, SH mengatakan, 8 siswa SMAN 6 Seluma, dan 6 diantaranya disebut menginjak Alquran akan diinterogasi di Mapolsek Sukaraja. Hal itu dilakukan guna mengetahui kejadian awal hingga akhir kejadian tersebut. Tidak hanya mereka, juga oknum guru serta saksi lainnya. Selain itu, tidak […]

  • Janda Miskin Diserang Tumor, Butuh Dermawan

    Janda Miskin Diserang Tumor, Butuh Dermawan

    • calendar_month Selasa, 30 Jun 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Nur Hamidah (38) janda miskin menderita serangan tumor ganas di perut. Apa daya, uang tak punya. Warga Desa Gunung Manaon, Kecamatan Panyabungan, Mandailing Natal, Sumut ini hanya berdoa semoga ada dermawan yang datang membantu biaya operasi. Menjawab wartawan di rumah orangtuanya, Selasa (30/6/2020) Nurhamidah menuturkan gejala tumor itu dirasakannya sejak 2 […]

expand_less