Rabu, 22 Jul 2026
light_mode

Serial HUT Madina : Desa Hutapuli Tak Punya Sekolah, Pelajar Harus Jalan Kaki 2,5 Km

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Sabtu, 3 Mar 2018
  • print Cetak

Pelajar dari Desa Hutapuli, Kotanopan menempuh hutan menuju sekolah sejauh 2,5 Km (foto : Lokot Husda Lubis)

KOTANOPAN (Mandailing Online) – Tanggal 9 Maret 2018 nanti, Kabupaten Mandailing Natal akan memperingati Hari Jadi-nya yang ke-19. Tetapi, nun di pelosok Kecamatan Kotanopan masih ada rombongan pelajar menuju sekolah jalan kaki sejauh 5 kilo meter.

Pagi itu jarum jam masih menunjukkan pukul 06.00 Wib, Jum’at (2/3/2018).  Udara di sekitar desa Hutapuli Kecamatan  Kotanopan, Mandailing Natal (Madina) masih cukup dingin.  Dedaunan yang terdapat di kiri kanan jalan menuju desa masih basah, menandakan embun pagi masih turun. Saat itu,  jarak pandang  hanya sekitar 100 meter.

Di tengah kondisi seperti ini,  sekitar 21 orang usia anak sekolah,  mulai tingkat SD hingga SLTP dari desa tersebut perlahan melangkah menapaki jalan desa menuju sekolah mereka yang terletak di Desa Simpang Tolang Julu.

Jarak dari rumah mereka di desa Hutapuli menuju sekolah di Desa Simpang Tolang Julu sekitar 2,5 Km.  Berarti setiap harinya,  anak anak harapan bangsa ini harus berjalan sepanjang 5 Km. Hal ini mereka lakukan karena di desanya tidak pernah berdiri sekolah,  baik tingkat SD maupun SLTP.

Perlahan demi perlahan,  mereka harus melalui jalan bebatuan bercampur kerikil dan tanah, menempuh kawasan hutan dan perladangan.  Tidak jarang,  baju mereka basah karena hujan tiba tiba turun di tengah jalan.  Kalau hal ini terjadi,  mereka harus mengambil daun pisang untuk sekedar payung menghindari basah. Bukan itu saja,  selain jalan tanjakan mereka juga harus melewati hutan yang berada di kiri kanan jalan yang terkadang rawan dengan binatang buas.

Itulah segelintir potret anak anak usia sekolah dari desa Hutapuli. Tidak adanya sekolah di kampungnya,  membuat mereka harus berjalan kaki sepanjang 5 Km setiap harinya. Tidak terbayangkan,  usia anak SD ini berjalan secara berrombongan tiga atau empat orang yang mana di kiri kanan jalan masih di nominasi hutan. Sikap pantang menyerah  dalam menuntut ilmu ini  patut di ajungkan jempol untuk anak usia sekolah dari di desa Hutapuli ini. Ini tentunya sangat berbanding terbalik dengan kondisi pendidikan di kota.

Riski, salah satu dari mereka, ia duduk di kelas III SD Simpang Tolang Julu.  Setiap hari ia bersama siswa lainnya dari desa Hutapuli harus menguras tenaga berjalan 5 Km menuju sekolah.  Rasa capek yang mereka alami setiap harinya harus mereka tahankan untuk mendapatkan ilmu. Perjuangan yang luar biasa dari anak bangsa untuk memperoleh pendidikan.

Kondisi ini tentunya tidak boleh dibiarkan terus menerus.  Untuk memperoleh ilmu,  anak harus mendapat fasilitas yang memadai dari negara.  Negara bertanggung jawab mencerdaskan anak bangsa.  Secara psikologis,  berjalan sejauh 5 km setiap harinya tentunya berdampak pada si anak.  Sebelum pelajaran di mulai di pagi hari,  fisik anak sudah capek,  belum lagi kegiatan sekolah mulai dari upacara, olah raga dan kegiatan lainnya.  Pemerintah harus punya solusi untuk itu.

Sedangkan Abdul Rahim, salah satu orangtua yang di jumpai mengakui sangat berat mengiklaskan anaknya harus berjalan 5 Km untuk mencapai sekolah.  Apalagi usia mereka cukup belia,  antara 7- 15 tahun.  Namun apa hendak di kata,  kondisinya sudah begitu.  Sejak desa ini berdiri mulai zaman Belanda,   tidak pernah berdiri sekolah.

Dambaan untuk bisa berdiri sekolah di desa yang di huni 42 KK ini memang cukup besar.  Walaupun sebatas kelas jauh,  itu sudah lebih dari cukup.  Namun,  untuk saat ini keinginan warga desa sepertinya masih sebatas angan angan. Kenyataannya,  Indonesia sudah 73 tahun merdeka,  jangankan untuk mendirikan sekolah jalan ke desa ini masih kupak kapik.  Dari panjang jalan sekitar 2.5 Km,  baru sekitar 700 meter yang di rabat beton.

Kepala desa Hutapuli,  Sahruddin yang di jumpai, Jumat (2/3/2018) membenarkan bahwa usia anak sekolah di desanya harus berjalan 5 Km menuju sekolah setiap harinya.  Kondisi ini  sudah berlangsung mulai sejak desa ini ada.  Mereka harus berjuang cukup berat untuk mendapatkan ilmu. Bayangkan saja,  usia SD harus berjalan cukup jauh untuk mendapatkan ilmu.

Dikatakannya,  sebenarnya inti dari permasalahan ini semua adalah buruknya  infrastruktur jalan  kedesa ini.  Coba bayangkan,  kalau jalan ini bagus anak anak ini bisa di antar jemput orangtuanya naik sepeda motor kesekolahnya. Tentunya anak anak ini akan lebih fokus belajar  tanpa merasakan capeknya badan dengan berjalan kaki.

Langkah awal,   memang sudah di lakukan dengan membangun jalan ini dengan rabat beton sekitar 700 meter.  Sedangkan sisanya sekitar 1800 meter masih bebatuan dan tanah.  Rencananya tahun depan,  akan kita lanjutkan pembangunannya dengan dana desa. Namun  anggaran Dana Desa ini tentunya masih terbatas.  Masih diharapkan dana bantuan dari Pemkab Madina.

“Kemudian, kita juga berharap adanya kepeduliaan  Pemkab Mandailing  Natal untuk membangun jalan ini.  Begitu juga dengan anggota DPRD Madina yang berasal dari dapem II agar ikut memperjuangkannya.  Buruknya infrastruktur jalan ini tentunya berdampak  kepada semua sektor.

 

Penulis : Lokot Husda Lubis

Editor : Dahlan Batubara

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Nelayan Madina Tidak Melaut Akibat Cuaca Badai

    Nelayan Madina Tidak Melaut Akibat Cuaca Badai

    • calendar_month Kamis, 17 Okt 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 3Komentar

    MUARA BATANG GADIS (Mandailing Online) – Sudah lebih dari sepekan para nelayan di wilayah Pantai Barat Mandailing Natal (Madina) tidak melaut akibat cuaca buruk dan musim badai. “Sehingga banyak nelayan yang menggangur,” ungkap Hasmar, seorang nelayan di Kecamatan Muara Batang Gadis kepada waratawan, Minggu lalu (13/10/2013). Hasmar mengatakan, akibat situasi cuaca badai atau angin barat, […]

  • Tuntutan Pendemo ke Pj Bupati & DPRD

    Tuntutan Pendemo ke Pj Bupati & DPRD

    • calendar_month Jumat, 29 Okt 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MADINA-; Aliansi Mahasiswa dan Pemuda Peduli Mandailing Natal (AMP2M) bersama Satuan Mahasiswa Pemuda Pancasila (Satma PP) berdemonstrasi ke kantor Pemkab dan DPRD Madina, Kamis (28/10). Mereka meminta pejabat terkait bertanggung jawab atas defisit anggaran tahun 2010 yang berjumlah Rp19,7 miliar, dan mendesak Pejabat (Pj) Bupati Aspan Batubara dan DPRD membentuk tim auditor defisit anggaran tersebut. […]

  • FKDT Madina: Agar Lebih Religius, Madina Butuh Perda Wajib ‘Sikola Maktab’

    FKDT Madina: Agar Lebih Religius, Madina Butuh Perda Wajib ‘Sikola Maktab’

    • calendar_month Selasa, 23 Des 2014
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    Panyabungan (Mandailing Online) – Agenda utama pembangunan Madina di 2015 adalah menciptakan kehidupan masyarakat yang lebih religius. Karena itu, Pemkab Madina harus visioner memperhatikan kegiatan religius, seperti dengan mewujudkan program wajib pendidikan diniyah. Sekretaris Umum Dewan Pengurus Cabang Forum Kominikasi Diniyah Takmiliyah Kabupaten Mandailing Natal (DPC FKDT Madina), Muhammad Ludfan Nasution, SSos mengutip pidato Bupati […]

  • Gawat! Menteri Malaysia Perkosa TKW

    Gawat! Menteri Malaysia Perkosa TKW

    • calendar_month Rabu, 5 Jan 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    KUALA LUMPUR : Perwakilan pemerintah Indonesia di Malaysia tengah memonitor beredarnya kabar tentang seorang pembantu rumah tangga Indonesia yang diperkosa seorang menteri Malaysia pada 2007 lampau. Meski demikian, isu itu dinilai sulit diusut lebih jauh. Demikian dinyatakan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kuala Lumpur.Kepala Penerangan KBRI Suryana Sastradipraja mengatakan kasus itu mengemuka belakangan ini […]

  • Realisasi Anggaran Pemkab Madina Mencapai 92,96 Persen

    Realisasi Anggaran Pemkab Madina Mencapai 92,96 Persen

    • calendar_month Sabtu, 8 Jan 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan, Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal (Madina) mengakui hingga Selasa (27/12) realisasi anggaran APBD Tahun Anggaran 2010 sudah terserap 92.96 persen dari total anggaran Rp.629,9 miliar. Demikian disampaiakan Kadis Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Rasit Ritonga AP melalui Sekretaris Jhon Amriadi kepada wartawan, Rabu (29/12) kemarin. Dikatakan, melihat pagu anggaran APBD murni mencapai Rp.629,9 miliar yang […]

  • Ekonomi Dunia Masih Pengaruhi Harga Karet Alam

    Ekonomi Dunia Masih Pengaruhi Harga Karet Alam

    • calendar_month Kamis, 20 Jun 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    SUMUT (Mandailing Online) – Harga karet di pasar ekspor terus melemah dalam dua bulan terakhir. Ini terjadi akibat perlambatan ekonomi dunia yang mengakibatkan permintaan karet ikut berkurang. Sehingga, pabrikan juga mengikuti perkembangan pasar dengan menurunkan harga beli dan harga jual. Sekretaris Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) Sumatra Utara Edy Irwansyah menggambarkan, pada akhir Mei lalu […]

expand_less