Sabtu, 30 Mei 2026
light_mode

MARSIDAO-DAO (episode 44)

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Selasa, 6 Sep 2016
  • print Cetak

Novel Mandailing

Nanisuratkon : Dahlan Batubara

Marsidao dao grafis

Marsidao dao grafis

“Itu rumah kakek kalian, Nak. Paman kalian sekarang yang tinggal di sini. Namanya Hamzah. Dia adik ayahmu,” ning dadaboru i tu Si Poso.

Inotnoti Si Poso bagas i. “Onma najolo bagas ni ayangku,” ning roana. Bagas i ngada saru godang, hum sa bagas ni alai na i Mandailing i do pargodangna.

Mullop sada bayo i tingkap ni bagas i manaili tu alai. Tompana suang songon amang ni Si Poso. Tai, hum poso umpado amangna. Dosar taroktok ni Si Poso boti Si Pikek mangida bayo i.

Itiop dadaboru i tangan ni Si Poso dohot anggina salaos mangadopkonna tu tingkap i. “Hamzah…!! Kau konal anak-anak ni..?,” ning dadaboru i.

Na kacongang do bayo i manganotnotisa. “Hamzah..!!, ini anak-anak Imkhan datang dakhi Mandailing,” ning dadaboru i salaos tangis mandokonsa.

“Apa…!!, ya Alloh…!!,” ning Si Hamzah ompot marlojong tingon tingkap i, ilojongsa haruar sian  pintu i manjombai Si Poso dohot Si Pikek. Ialuksa daganak na dua i. “Alhamdulillah ya Alloh,” ningna laing mangaluk pompar ni angkang nia i.

“Apa Imran itu ayah kalian,” ningna salaos palua pangkalukanna. Abara ni daganak na dua i itiopsa sareto mamanati tompa ni daganak i.

“Iya, Udak. Ayah kami Imran, ibu kami Siti,” ning Si Poso.

“Oh…saya paman kalian. Kalian tinggal di mana selama ini,” ningna.

“Di Panyabungan, Udak,” ningna.

“Mana ayah kalian, Nak” ning amanguda nai.

“Ayah kami sudah meninggal, Udak,” ning Si Poso salaos bingkas tangisna, tangis na gogo maribo tondi mambaen tangis Si Pikek bingkas ngada tarantai be. Ialuk amanguda nai daganak i, matunguknguk manaonkon ate-ate na manyat-nyat mambege angkangna na madung jumolo i luat na dao. Marbolas taon parsarakan, saonok i ma inte-inte taili sanga adong dope parsuoan, manaonkon lungun tu angkangna naso muda-muda ro. Tai, goritna ngada jabat adong parsuoan laluna. Pomparna doma na ro manjalai sisolkotna tu huta ni amangna.

“Mari ke rumah, Nak. Ini rumah kita, rumah ayah kalian,” ning amanguda nai salaos maniop tangan ni daganak na dua i marobanna tu bagas.

Ngada sajia onok, ro dadaboru ni amanguda nai dohot pomparna. Idokon amanguda nai tu dadaboru i daganak na dua i pinompar ni mandiang Imran na ro tingon luat na dao. Namatunguknguk muse ma dadaboru i salaos mangapus-apus ulu Si Poso dohot Si Pikek.

“Arjun, panggilkan undemu, bilangkan copat kamakhi, katokan anak-anak si Imkhan sudah datang,” ningna tu daganakna na margorar Arjun. Marlojong daganak nai aruar tingon bagas i na kehe marlojong mamio bouna.

Adong do tolu halak bou ni Si Poso. Dua laing mariganan i huta i, ima bouna na margorar Mazidah dohot Waddah. Sada nai margorar Marwah, ngada i huta i igananna, i pandaraman do mangihutkon alaklaina i Jakarta.

Baen na ro i pompar ni mandiang Imran i, na i bagas i do bou-bou nai sabagas mardahan. Marlagut maroban tondi tu pompar ni iboto ni alai i.

“Ini foto-foto ayah kalian waktu muda,” ning Hamzah salaos mangalehensa tu Si Poso. Inotnotisa dohot anggina gambar-gambar ni amangna. Adong do jabat 9 bahatna gambar ni amangna. Na dohot inangna adong tar 5 gambar.

“Baru-baru menikah itu ayah dan ibu kalian tinggal di rumah ini, Nak. Tapi hanya sekitar sebulan, mereka pergi merantau. Paman dan bunde kalian tak tau kemana tanah rantau mereka. Tak ada kabar sampai kalian datang,” ning Hamzah.

“Iya, ibu kalian sangat baik. Orangnya lembut dan suka menolong orang,” ning bou nai.

“Sudah berapa lama ibunya yang sakit itu, Kahang,” ning Hamzah tu Si Isrot.

“Sudah hampir dua bulan, Kahang. Kalau yang parah itu sekitar dua pekan lah,” ning Si Isrot.

“Oh…besok pagi kita ke rumah nenek mereka. Setelah kakeknya meninggal dunia sembilan tahun lalu, neneknya pindah ke Bilah Hulu dan menjual rumah yang di sini,” ning Hamzah.

“Tinggal dengan siapa nantulang itu di sana,” ning Isrot.

“Sama putrinya, adik kak Siti, bibi anak-anak ini. Sebenarnya mertua itu orang sana. Karena tak ada yang merawat sawit, makanya di sanalah mereka tinggal. Putrinya itu sudah cerai, makanya mertua itu membawa putrinya sekalian. Jadi mertua itu pulang kampunglah boleh dibilang. Saya pernah sekali ke sana menemui mereka. Kalau mertua laki-laki itu asli orang sini,” ning Hamzah.

“Iya, Udak. Ibu pernah cerita, katanya kami punya etek di sini. Namanya etek Laila. Katanya mirip dengan ibu,” ning Si Poso.

“Betul, nak. Etek kalian itu sangat mirip dengan ibu kalian. Besok paman bawa kalian ke sana ya biar kalian jumpa sama etek kalian juga ya, Nak,” ning Hamzah.

“Iya, Udak,” ning Si Poso.

“Ayah kami juga pernah cerita, katanya ayah mirip sama udak,” ning Si Pikek.

“Iya, Nak. Betul kan, ayah kalian mirip sama udakmu ini,” ning bou nai.

“Iya, Bou,” ning Si Pikek.

“Sama bou kalian yang di Jakarta itu juga mirip,” ning bou nai salaos patidaon gambar ni Marwah tu Si Pikek.

“Mendiang bang Imran itu orang yang sangat baik, Kahang. Orangnya santun dan rajin. Kami sudah merasa seperti saudara saja. Saling bantu di masa sulit. Waktu dia dan istrinya datang ke kampung kami itu, dia datang ke keluarga kami supaya dijadikan kahanggi. Istilah Mandailingnya manopot kahanggi,” ning Isrot.

“Iya, Kahang. Kami sanggat sayang sama abang kami itu. Tapi, kami tak tau di mana dia tinggal. Dia juga tak pernah kirim surat. Tapi, kami faham kondisinya, dia harus sembunyi, karena mertua laki-laki sangat galak,” ning Hamzah.

“Ayah kami sudah mau bawa kami ke sini itu, Udak. Katanya uang ongkos sudah hampir cukup. Tapi, ayah kami kena malaria, Udak,” ning Si Poso.

“Oh..,” ning Hamzah.

“Iya, Kahang. Bang Imran sempat menyampaikan rencananya membawa anak istrinya berkunjung ke Bilah ini. Kami satu kahanggi pun sudah musyawarah waktu itu supaya ada beberapa orang kahanggi mendampingi mereka ke Bilah ini. Tapi, sebelum sempat ke mari itulah wabah malaria datang di kampung kami, banyak yang wafat saat itu,” ning Isrot.

“Oh..baya..akibat sakit malaria rupanya baya,” ning bou nai.

“Iya, Bou,” ning Si Poso. Iapus bou nai ulu si Poso dohot Si Pikek. “Bou dan udak kalian nanti akan datag ke sana, biar kita ziarah ya, Nak,” ningna.

“Iya, Bou,” ning Si Pikek.

“Dah masak nasi tu, makhi makan basamo kito sakakhang,” ning dadaboru i mamio alai so mangan. (marsambung)

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Lahan Pertanian Diserobot Ratusan Warga Madina Terancam Kehilangan Lahan

    Lahan Pertanian Diserobot Ratusan Warga Madina Terancam Kehilangan Lahan

    • calendar_month Rabu, 28 Sep 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Medan. Sekitar 500-an warga di Dusun Bulung Gadung dan Dusun Bronjong Desa Selebaru Kecamatan Batang Gadis Kabupaten Madina, terancam kehilangan tempat tinggal dan lahan pertanian akibat aksi penyerobotan tanah yang dilakukan oleh pengusaha. Kepada MedanBisnis, Selasa (27/9) di Medan, Saroha Siregar (37) salah satu perwakilan masyarakat asal Madina yang ditemui mengatakan, pihaknya sangat kecewa dengan […]

  • Cabup Saipullah Perkuat Pelajaran Muatan Lokal dan Sejuta Salawat

    Cabup Saipullah Perkuat Pelajaran Muatan Lokal dan Sejuta Salawat

    • calendar_month Jumat, 15 Nov 2024
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PALUTA (Mandailing Online) – Calon bupati Mandailing Natal (Madina) nomor urut 2, H. Saipullah Nasution menegaskan komitnya untuk mereduksi intoleransi dan pragmatisme dengan memperkuat nilai-nilai budaya lokal. “Kita akan meningkatkan pelajaran muatan lokal di sekolah-sekolah, termasuk mengedukasi anak-anak usia sekolah dengan falsafah dalihan natolu,” kata Saipullah saat debat publik Pilkada Madina di Hotel Sapadia, […]

  • Sobir Reses di Aek Mata, Warga: Kami ‘Belum Merdeka’

    Sobir Reses di Aek Mata, Warga: Kami ‘Belum Merdeka’

    • calendar_month Jumat, 27 Agt 2021
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    AEK MATA (Mandailing Online) – Jalan yang merupakan akses utama masyarakat seharusnya menjadi prioritas pembangunan infrastruktur. Namun, kondisi jalan ke Desa Aek Mata masih memprihatinkan. Padahal Aek Mata secara geografis masuk wilayah Kecamatan Panyabungan. Kondisi jalan yang buruk ini menjadi perhatian utama warga ketika Sobir Lubis, SH, anggota DPRD Madina dari Fraksi Partai Golkar menggelar […]

  • Pokok Pikiran Penguatan Kebudayaan Madina

    Pokok Pikiran Penguatan Kebudayaan Madina

    • calendar_month Kamis, 17 Jan 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Kabarnya Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal mulai menyusun kerangka pedoman pembangunan kebudayaan. Kerangka itu selaras dengan Kabupaten Mandailing Natal yang dikenal sebagai “Bumi Gordang Sambilan”, kabupaten yang bersemboyan Negeri Beradat Taat Beribadat menuju masyarakat Madina Yang Madani sebagai motto. Dan pedoman ini juga menyahuti Undang- Undang Nomor 5 Tahun 2018 tentang […]

  • Usut Dugaan Korupsi Milwan

    Usut Dugaan Korupsi Milwan

    • calendar_month Jumat, 4 Feb 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Medan, Fraksi Partai Amanat Nasional (FPAN) DPR RI diminta mendesak Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Kejaksaan Agung dan Satuan Tugas (Satgas) Pemberantasan Mafia Hukum segera menyelidiki kasus dugaan korupsi mantan Bupati Labuhan Batu T Milwan sebesar Rp 30,2 miliar yang sudah empat tahun tidak ditindaklanjuti penyidikan, penyelidikan dan pemeriksaannya. Permintaan tersebut disampaikan politisi PAN Fakhruddin Pohan […]

  • Penggundulan Hutan di Sumut Luar Biasa Parah

    Penggundulan Hutan di Sumut Luar Biasa Parah

    • calendar_month Minggu, 17 Jul 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MEDAN – Wakil Ketua DPRD Sumut, Ir H Kamaluddin Harahap MSi menilai, penggundulan atau penebangan hutan secara liar di Sumut saat ini sangat luar biasa dan makin parah. Untuk itu, aparat penegak hukum harus menindak oknum yang terbukti melakukan penebangan hutan secara liar. Dan harus proaktif mencari pelakunya. Hal itu disampaikan Kamaluddin setelah membuka dan […]

expand_less