Jumat, 13 Mar 2026
light_mode

MARSIDAO-DAO (episode 44)

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Selasa, 6 Sep 2016
  • print Cetak

Novel Mandailing

Nanisuratkon : Dahlan Batubara

Marsidao dao grafis

Marsidao dao grafis

“Itu rumah kakek kalian, Nak. Paman kalian sekarang yang tinggal di sini. Namanya Hamzah. Dia adik ayahmu,” ning dadaboru i tu Si Poso.

Inotnoti Si Poso bagas i. “Onma najolo bagas ni ayangku,” ning roana. Bagas i ngada saru godang, hum sa bagas ni alai na i Mandailing i do pargodangna.

Mullop sada bayo i tingkap ni bagas i manaili tu alai. Tompana suang songon amang ni Si Poso. Tai, hum poso umpado amangna. Dosar taroktok ni Si Poso boti Si Pikek mangida bayo i.

Itiop dadaboru i tangan ni Si Poso dohot anggina salaos mangadopkonna tu tingkap i. “Hamzah…!! Kau konal anak-anak ni..?,” ning dadaboru i.

Na kacongang do bayo i manganotnotisa. “Hamzah..!!, ini anak-anak Imkhan datang dakhi Mandailing,” ning dadaboru i salaos tangis mandokonsa.

“Apa…!!, ya Alloh…!!,” ning Si Hamzah ompot marlojong tingon tingkap i, ilojongsa haruar sian  pintu i manjombai Si Poso dohot Si Pikek. Ialuksa daganak na dua i. “Alhamdulillah ya Alloh,” ningna laing mangaluk pompar ni angkang nia i.

“Apa Imran itu ayah kalian,” ningna salaos palua pangkalukanna. Abara ni daganak na dua i itiopsa sareto mamanati tompa ni daganak i.

“Iya, Udak. Ayah kami Imran, ibu kami Siti,” ning Si Poso.

“Oh…saya paman kalian. Kalian tinggal di mana selama ini,” ningna.

“Di Panyabungan, Udak,” ningna.

“Mana ayah kalian, Nak” ning amanguda nai.

“Ayah kami sudah meninggal, Udak,” ning Si Poso salaos bingkas tangisna, tangis na gogo maribo tondi mambaen tangis Si Pikek bingkas ngada tarantai be. Ialuk amanguda nai daganak i, matunguknguk manaonkon ate-ate na manyat-nyat mambege angkangna na madung jumolo i luat na dao. Marbolas taon parsarakan, saonok i ma inte-inte taili sanga adong dope parsuoan, manaonkon lungun tu angkangna naso muda-muda ro. Tai, goritna ngada jabat adong parsuoan laluna. Pomparna doma na ro manjalai sisolkotna tu huta ni amangna.

“Mari ke rumah, Nak. Ini rumah kita, rumah ayah kalian,” ning amanguda nai salaos maniop tangan ni daganak na dua i marobanna tu bagas.

Ngada sajia onok, ro dadaboru ni amanguda nai dohot pomparna. Idokon amanguda nai tu dadaboru i daganak na dua i pinompar ni mandiang Imran na ro tingon luat na dao. Namatunguknguk muse ma dadaboru i salaos mangapus-apus ulu Si Poso dohot Si Pikek.

“Arjun, panggilkan undemu, bilangkan copat kamakhi, katokan anak-anak si Imkhan sudah datang,” ningna tu daganakna na margorar Arjun. Marlojong daganak nai aruar tingon bagas i na kehe marlojong mamio bouna.

Adong do tolu halak bou ni Si Poso. Dua laing mariganan i huta i, ima bouna na margorar Mazidah dohot Waddah. Sada nai margorar Marwah, ngada i huta i igananna, i pandaraman do mangihutkon alaklaina i Jakarta.

Baen na ro i pompar ni mandiang Imran i, na i bagas i do bou-bou nai sabagas mardahan. Marlagut maroban tondi tu pompar ni iboto ni alai i.

“Ini foto-foto ayah kalian waktu muda,” ning Hamzah salaos mangalehensa tu Si Poso. Inotnotisa dohot anggina gambar-gambar ni amangna. Adong do jabat 9 bahatna gambar ni amangna. Na dohot inangna adong tar 5 gambar.

“Baru-baru menikah itu ayah dan ibu kalian tinggal di rumah ini, Nak. Tapi hanya sekitar sebulan, mereka pergi merantau. Paman dan bunde kalian tak tau kemana tanah rantau mereka. Tak ada kabar sampai kalian datang,” ning Hamzah.

“Iya, ibu kalian sangat baik. Orangnya lembut dan suka menolong orang,” ning bou nai.

“Sudah berapa lama ibunya yang sakit itu, Kahang,” ning Hamzah tu Si Isrot.

“Sudah hampir dua bulan, Kahang. Kalau yang parah itu sekitar dua pekan lah,” ning Si Isrot.

“Oh…besok pagi kita ke rumah nenek mereka. Setelah kakeknya meninggal dunia sembilan tahun lalu, neneknya pindah ke Bilah Hulu dan menjual rumah yang di sini,” ning Hamzah.

“Tinggal dengan siapa nantulang itu di sana,” ning Isrot.

“Sama putrinya, adik kak Siti, bibi anak-anak ini. Sebenarnya mertua itu orang sana. Karena tak ada yang merawat sawit, makanya di sanalah mereka tinggal. Putrinya itu sudah cerai, makanya mertua itu membawa putrinya sekalian. Jadi mertua itu pulang kampunglah boleh dibilang. Saya pernah sekali ke sana menemui mereka. Kalau mertua laki-laki itu asli orang sini,” ning Hamzah.

“Iya, Udak. Ibu pernah cerita, katanya kami punya etek di sini. Namanya etek Laila. Katanya mirip dengan ibu,” ning Si Poso.

“Betul, nak. Etek kalian itu sangat mirip dengan ibu kalian. Besok paman bawa kalian ke sana ya biar kalian jumpa sama etek kalian juga ya, Nak,” ning Hamzah.

“Iya, Udak,” ning Si Poso.

“Ayah kami juga pernah cerita, katanya ayah mirip sama udak,” ning Si Pikek.

“Iya, Nak. Betul kan, ayah kalian mirip sama udakmu ini,” ning bou nai.

“Iya, Bou,” ning Si Pikek.

“Sama bou kalian yang di Jakarta itu juga mirip,” ning bou nai salaos patidaon gambar ni Marwah tu Si Pikek.

“Mendiang bang Imran itu orang yang sangat baik, Kahang. Orangnya santun dan rajin. Kami sudah merasa seperti saudara saja. Saling bantu di masa sulit. Waktu dia dan istrinya datang ke kampung kami itu, dia datang ke keluarga kami supaya dijadikan kahanggi. Istilah Mandailingnya manopot kahanggi,” ning Isrot.

“Iya, Kahang. Kami sanggat sayang sama abang kami itu. Tapi, kami tak tau di mana dia tinggal. Dia juga tak pernah kirim surat. Tapi, kami faham kondisinya, dia harus sembunyi, karena mertua laki-laki sangat galak,” ning Hamzah.

“Ayah kami sudah mau bawa kami ke sini itu, Udak. Katanya uang ongkos sudah hampir cukup. Tapi, ayah kami kena malaria, Udak,” ning Si Poso.

“Oh..,” ning Hamzah.

“Iya, Kahang. Bang Imran sempat menyampaikan rencananya membawa anak istrinya berkunjung ke Bilah ini. Kami satu kahanggi pun sudah musyawarah waktu itu supaya ada beberapa orang kahanggi mendampingi mereka ke Bilah ini. Tapi, sebelum sempat ke mari itulah wabah malaria datang di kampung kami, banyak yang wafat saat itu,” ning Isrot.

“Oh..baya..akibat sakit malaria rupanya baya,” ning bou nai.

“Iya, Bou,” ning Si Poso. Iapus bou nai ulu si Poso dohot Si Pikek. “Bou dan udak kalian nanti akan datag ke sana, biar kita ziarah ya, Nak,” ningna.

“Iya, Bou,” ning Si Pikek.

“Dah masak nasi tu, makhi makan basamo kito sakakhang,” ning dadaboru i mamio alai so mangan. (marsambung)

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sejumlah Proyek Jalan tahun 2025 di Madina Diduga Dikerjakan Group Perusahaan Milik Tersangka Kasus Suap Jalan di Sumut

    Sejumlah Proyek Jalan tahun 2025 di Madina Diduga Dikerjakan Group Perusahaan Milik Tersangka Kasus Suap Jalan di Sumut

    • calendar_month Selasa, 11 Nov 2025
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    Panyabungan ( Mandailing Online ): dari beberapa paket proyek pengaspalan jalan di Kabupaten Mandailing Natal ( Madina ) tahun anggaran 2025, diduga sebagian besar pekerjaan proyek tersebut dikerjakan perusahaan yang bergabung dalam PT Dalihan Natolu Group ( DNG ). PT Dalihan Natolu Group sendiri diketahui sebuah perusahaan kontruksi di Tapanuli Selatan yang sedang berurusan dengan […]

  • Terdakwa Kasus Penipuan CPNS Dituntut 30 Bulan Penjara

    Terdakwa Kasus Penipuan CPNS Dituntut 30 Bulan Penjara

    • calendar_month Jumat, 18 Mar 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Medan, Sidang kasus penipuan 51 orang pelamar CPNS Pemkab Deli Serdang Formasi Tahun 2007/2008 dengan terdakwa Ermaida Tambunan di Pengadilan Negeri (PN) Medan, Selasa (15/03/2011), kembali memanas. Dewi, anak salah seorang terpidana yang sudah diputus dalam kasus yang sama pada persidangan sebelumnya, mengamuk ketika mendengarkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Irma Hasibuan menuntut Ermaida Tambunan, pegawai […]

  • Cuaca Panas di Indonesia dan Asia

    Cuaca Panas di Indonesia dan Asia

    • calendar_month Selasa, 30 Apr 2024
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    JAKARTA (Mandailing Online) – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut cuaca panas yang akhir-akhir ini terjadi disebabkan posisi matahari yang berada tidak jauh dari ekuator yang sekarang sedang berada di belahan bumi utara (BBU). Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto mengatakan, hal tersebut menyebabkan wilayah yang berada di ekuator mendapatkan penyinaran matahari yang maksimum dan menyebabkan […]

  • Kajati Sumut ancam Waspada Online

    Kajati Sumut ancam Waspada Online

    • calendar_month Kamis, 7 Jul 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MEDAN – Penanganan kasus korupsi Tunjangan Penghasilan Aparatur Pemerintahan Desa Tapanuli Selatan (TPAPD Tapsel), yang menjadikan Walikota Medan, Rahudman Harahap sebagai tersangka, mengundang keraguan publik. Meski Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (Kejati Sumut) telah menetapkan Rahudman sebagai tersangka, penuntasan kasus ini terkesan sengaja dibiarkan. Ketidakjelasan dan lambannya proses ini karena pihak Kejati Sumut disebut-sebut telah menerima […]

  • Penjarakan Dahlan Hasan Jika Korupsi

    • calendar_month Jumat, 7 Jun 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    LEMBAH SORIK MARAPI (Mandailing Online) – Meski dengan nada berkelakar, Wakil Bupati Mandailing Natal Dahlan Hasan Nasution meminta agar dirinya diawasi bahkan dipenjarakan jika dia berbuat korupsi. Itu diungkapkannya dalam pidato sambutannya pada pelantikan santri kelas VII Angkatan VI Pesantren Roihanul Jannah, Lembah Sorik Marapi, Kamis (6/6/ 2013). Bahkan wakil bupati juga dengan nada kelakar […]

  • Kepala Desa di Madina Nihil Visi Ekonomi, Akibatnya Dana Desa Tak Berdampak Memakmurkan Rakyat

    Kepala Desa di Madina Nihil Visi Ekonomi, Akibatnya Dana Desa Tak Berdampak Memakmurkan Rakyat

    • calendar_month Selasa, 4 Okt 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Mayoritas kepala desa di Mandailing Natal (Madina) tidak memiliki visi terhadap pengembangan perekonomian desa. Hal itu dibuktikan minimnya jumlah desa yang mengarahkan Dana Desa bagi upaya pertumbuhan ekonomi desa. “Niat pemerintah Indonesia memajukan ekonomi penduduk desa melalui Dana Desa justru mentok di tangan kepala desa,” kata Maruli Borotan, warga Panyabungan […]

expand_less