Senin, 11 Mei 2026
light_mode

Baru Lahir, Tanggung Utang Rp7,56 Juta

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Jumat, 3 Des 2010
  • print Cetak


KONDISI bangsa Indonesia sungguh memprihatinkan akibat utang luar negeri pemerintah yang mencapai Rp1.800 triliun. Dampaknya, setiap warga termasuk bayi yang baru dilahirkan di bumi Indonesia, sudah menanggung beban utang Rp7,56 juta.

Diperkirakan beban utang bayi yang lahir pada tahuntahun mendatang akan jauh lebih besar dibanding sekarang. Pasalnya, utang yang ‘berbungabunga’ makin mencekik leher bangsa Indonesia dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Seorang pengamat ekonomi Prof. H. Aldwin Surya, SE, MPd, PhD menyebutkan, sampai saat ini jumlah kewajiban utang pemerintah Indonesia diperkirakan mencapai Rp1.800 triliun atau AS$ 180 miliar (dengan asumsi AS$ 1 = Rp10 ribu). Kalau utang itu dibagi 238,5 juta penduduk Indonesia (sesuai data Sensus Penduduk Mei 2010), setiap orang termasuk bayi yang baru lahir menanggung beban utang Rp7,56 juta.

Apalagi, kata Rektor Universitas Dian Nusantara ini, jumlah utang Indonesia semakin besar sejak pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mulai 20042009. Bahkan, peningkatannya mencapai hampir ratusan triliun rupiah. Peran utang itu tidak bisa dielakkan pemerintah seperti kepemimpinan Presiden Indonesia sebelumnya, yang masih mengandalkan posisi utang luar negeri sebagai dana pembangunan di Indonesia.

Sungguh ironis, sampai saat ini pemerintah belum mampu memanfaatkan kekayaan sumber daya alam untuk pelaksanaan pembangunan Indonesia. Padahal Indonesia memiliki kekayaan alam yang cukup luas, namun pengelolaannya diberikan kepada investor asing, sehingga bangsa ini hanya menikmati sebagian dari kekayaan alam tersebut.

Bayu Juliandra Putra, salah seorang mahasiswa FISIP USU, mengaku heran dengan kondisi Indonesia yang kaya raya dengan sumber daya alam. Ibarat pepatah “kelaparan di lumbung padi” dan jatuh ke dalam jerat utang. Bahkan menurut informasi di media yang pernah dia baca, salah seorang pengamat menyebutkan, perputaran uang juga tidak berpihak kepada masyarakat, karena kita hanya memperebutkan 10 persen, sedangkan 90 persen perputaran uang Indonesia dikuasai asing dan nonpribumi.

Padahal Indonesia memiliki tenagatenaga ahli (sumber daya manusia) yang bisa diandalkan untuk mengelola sumber daya alam yang ada. Namun pemerintah seolaholah tidak pernah peduli dengan SDM sendiri untuk dimanfaatkan mengelola sumber daya alam dan memilih menggunakan tenaga ahli dari luar negeri.

“Seharusnya kita malu masih terus berutang kepada pihak asing untuk membangun Indonesia. Padahal kita sudah 65 tahun merdeka, tapi masih saja tetap berutang. Kalau awalawal dulu boleh lah kita mengutang dan kita belum punya tenaga ahli untuk mengelola SDA. Kalau sekarang, seharusnya kita memanfaatkan hasil SDA dengan tenaga ahli kita sendiri untuk pembangunan Indonesia lebih maju lagi,” ujar Bayu seraya menyatakan tidak setuju dengan kebijakan pemerintah menambah utang luar negeri.

Sementara itu, Faisal, mahasiswa Politeknik LP3I Medan berpendapat, sahsah saja Indonesia berutang kepada luar negeri. Namun harus dimanfaatkan dengan sebaikbaiknya untuk pembangunan Indonesia sehingga meningkatkan kesejahteraan rakyat dan meningkatkan income per capita (pendapatan ratarata setiap penduduk) Indonesia. “Utang tersebut harus dimanfaatkan untuk pembangunan Indonesia, bukan untuk jalanjalan anggota DPR ke luar negeri dengan biaya yang sangat besar seperti selama ini terjadi,” ujarnya.

Seperti dikatakan Prof. Aldwin Surya, kalau income per capita kita baik, tentu akan semakin baik daya beli masyarakat. Artinya, peluang untuk mendapatkan pajak dari barangbarang yang dibeli masyarakat akan semakin besar. Kalau pajak semakin besar, kemampuan pemerintah untuk membiayai pembangunan dan membayar sebagian utangutangnya juga semakin besar. Tapi kalau income per capita tidak berubah, tentu ada dampaknya pada kemampuan untuk membayar utang ke luar negeri, karena daya beli masyarakat juga rendah. Karena pada prinsipnya setiap pembelian produk, kita dikenakan pajak.
Sumber :Waspada Online

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • 393 jemaah Indonesia wafat hingga hari ke-58

    393 jemaah Indonesia wafat hingga hari ke-58

    • calendar_month Minggu, 18 Nov 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Jeddah, (MO) – Hingga hari ke-58 pelaksanaan pelayanan ibadah haji sudah 393 anggota jemaah Indonesia yang meninggal dan angka itu lebih kecil dibandingkan dua tahun terakhir. Data di Siskohat Kemenag perhari Sabtu pukul 21:30 waktu Saudi atau Minggu pukul 01.30 WIB diharapkan bertahan sehingga jumlah jemaah yang wafat bisa lebih kecil hingga akhir pelaksanaan haji […]

  • DPRD Madina dan Pemerintah Daerah Harus evaluasi Bidan PTT

    DPRD Madina dan Pemerintah Daerah Harus evaluasi Bidan PTT

    • calendar_month Jumat, 8 Jul 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Keberadaan Bidan Tidak Tetap/Bidan desa, PTT di Penjuru wilayah Daerah Kabupaten Mandailing Natal diharapkan pengevaluasian kinerja, kehadiran, dari wakil Rakyat dan Pemerintah Daerah mengingat, peranan dan sumber dana dari berbagai macam kegiatan penunjang program pemerintah melalaui beberapa Program sangat banyak menyedot keuangan Negara. (MOL)

  • Kinerja Kabupaten/Kota di Sumut, Psp Peringkat 66, Tapsel 205

    Kinerja Kabupaten/Kota di Sumut, Psp Peringkat 66, Tapsel 205

    • calendar_month Selasa, 26 Apr 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    JAKARTA- Kinerja kabupaten/kota di wilayah Sumut mengecewakan. Untuk tingkat kabupaten misalnya, dari 344 kabupaten se-Indonesia, tidak satu pun kabupaten di Sumut yang masuk 10 besar. Terbaik di Sumut adalah Kabupaten Tapanuli Utara yang menduduki peringkat 48 dengan skor 2,5876. Menyusul kemudian Serdang Bedagai 63 (2,5639), Langkat 103 (2,4669), Samosir peringkat 107 (skor 2,4592), Deli Serdang […]

  • Sungai Batang Gadis Mengamuk, Jalan Menuju Rambin Muara Siambak Putus

    Sungai Batang Gadis Mengamuk, Jalan Menuju Rambin Muara Siambak Putus

    • calendar_month Sabtu, 23 Mei 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      KOTANOPAN (Mandailing Online) – Sungai Batang Gadis meluap, Jum’at (22/5) menyebabkan satu unit titi gantung di titik Desa Muara Siambak, Kotanopan, Mandailing Natal (Madina) rusak berat. Terjangan arus sungai juga menghanyutkan memutuskan badan jalan menuju titi gantung sepanjang tiga meter. Pantauan wartawan, jalan menuju titi gantung berubah menjadi aliran sungai. Sedangkan bagian tiang yang […]

  • Ivan Batubara Kunjungi Mustafa Bakri

    Ivan Batubara Kunjungi Mustafa Bakri

    • calendar_month Kamis, 30 Apr 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Bakal calon bupati Madina Ivan Iskandar Batubara dan sejumlah pimpinan partai politik melakuan kunjungan ke kediaman  H Mustafa Bakri, Kelurahan Sipolu-polu, Panyabungan, Rabu (29/4). Ini kali kedua Ivan Batubara mengunjugi pimpinan pesantern Musthafawiyah Purba Baru itu. Sebelumnya Ivan mengunjungi Bakri di komplek pesantern terbesar di Mandailing Natal (Madina) itu pada […]

  • Nomor Ujian CPNS Dibagikan Kantor Pos

    Nomor Ujian CPNS Dibagikan Kantor Pos

    • calendar_month Selasa, 29 Okt 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 2Komentar

    PANYABUNGAN (Manailing Onine) – Terkait tahapan proses penyaringan CPNS Kabupaten Mandailing Natal (Madina), pihak Kantor Pos tengah mengirim nomor ujian peserta kepada masing-masing pelamar. “Saat ini sudah membagikan nomor peserta ujian CPNS ke alamat masing-masing pelamar, disesuaikan dengan alamat pada lamaran peserta,” kata Kepala Kantor Pos Panyabungan, Ramli Siregar menjawab wartawan, Senin (28/10/2013). Dijelaskannya, ada […]

expand_less