Senin, 20 Apr 2026
light_mode

PARRODANG: BERTAHAN SEPANJANG ZAMAN

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Senin, 12 Okt 2015
  • print Cetak

Catatan : Holik Nasution

Parrodang, begitu ia disebut. Pekerjaan ini identik dengan para pencari ikan di kawasan Rodang Tinapor, hamparan rawa besar.

Rodang ini membentang mulai dari Desa Huraba, Siabu, Bonandolok, Simangambat, Hutapuli dan batas muara Batang Gadis di sebelah barat (Mandailing Natal) hingga ke batas Sayur Matinggi di sebelah utara (Tapanuli Selatan).

Selain menjadi sarang nyamuk malaria, sebagaian kawasan Rodang ini juga menjadi lahan pertanian yang subur serta menjadi sumber resapan air. Pertemuan dua sungai besar, yakni Sungai Batang Gadis dan Sungai Batang Angkola,  membentuk  kawasan  rawa yang sangat luas. Karena itu juga menjadi sumber ikan rawa yang khas. Tak banyak yang tahu bahwa suplai ikan sungai untuk wilayah Siabu, Panyabungan, dan Padangsidimpuan, berasal dari kawasan ini.

Berbagai jenis ikan rawa mudah ditemukan di sini, misalnya Aruting, Tingkalang, Limbat, Inggit-inggit, Tawes, Capet dan Tunggu Lubuk. Kadang-kadang ada juga ikan air tawar yang berasal dari ekosistem sungai, misalnya Ikan Mas,  Siruan, Aporas, dan Sulum. Ikan jenis ini diduga berasal dari kedua sungai besar tadi.  Kawasan ini, karena sedemikian pentingnya, ada di peta kolonial. Tapi tentu tak ada di peta daerah Mandailing Natal.

Ratusan keluarga dari desa-desa sekitar memperoleh rezeki di Rodang, baik sebagai petani sawah, palawija, kebun (di daratan yang tak tergenang) dan tentu sebagai pencari ikan (yang tergenang). Lahan-lahan non rawa yang membentang ratusan hektar merupakan lahan yang subur karena kekayaan unsur hara yang dibawa banjir kedua sungai utama.

Banjir memang menjadi musuh utama petani. Masa akhir tahun ketika curah hujan sangat tinggi, celah sempit di Lumpatan Harimau tidak mampu lagi menampung debit air untuk disalurkan ke hilir. Air Sungai yang meluap melimpah di kawasan ini, membentuk genangan besar ratusan hektar. Banjir ini yang membuat panen gagal dan hanyut terbawa banjir. Sudah menjadi tradisi tahunan seperti itu.

Tetapi bersamaan dengan datangnya banjir, beberapa ikan melimpah dari kedua sungai. Dan saat banjir kering, petani ikan akan membawa tangkapan yang banyak.  Perahu nelayan rawa ini akan berseliweran menyusuri celah-celah rawa yang sempit sambil membawa alat penangkap ikan yang berbagai rupa: jaring, keramba, lobu-lobu, dan sebagainya.

Semakin surut air, semakin mudah menangkap ikan, karena ikan terperangkap dalam genangan-genangan rawa. Hanya dalam satu kubangan kecil bisa ditemukan berkilo-kilo ikan dalam berbagai ukuran. Ikan aruting misalnya ada yang sampai seberat 5 – 10 kilogram per ekor. Ikan tangkapan ini yang dijual di desa-desa sekitar Kecamatan Siabu setiap pagi dan sore, atau oleh pedagang tertentu dijual  di  pasar  Panyabungan hingga Padangsidimpuan.

Pekerjaan menangkap ikan ada yang dilakukan malam hari. Ketika hari telah gelap, nelayan mendayung perahunya menyusuri rawa, sambil membawa lampu teplok, bubuh, kail, dan alat penangkap ikan lainnya.  Rawa yang penuh ular berbisa dan binatang buas lainnya, tentu bukan hal yang jarang lagi.

Para nelayan harus melintas di bawah rindangnya pohon yang dahannya tepat di atas lintasan perahu, acapkali berpapasan dengan ular paling berbisa. Bahkan beberapa jenis ular yang menyukai cahaya, segera berlari ke lampu teplok di depan perahu, atau melintas di atas perahu. Dalam kondisi begitu, nelayan sering harus melompat dari atas perahu, berenang tanpa alat penerang, atau menghabiskan malam di atas pohon menunggu pagi. Tapi ada kalanya, kalau rezeki sedang baik, para nelayan bisa membawa tangkapan berkilo-kilo, cukup untuk menutupi biaya kebutuhan hidup dua-tiga hari.

Pagi mereka pulang, mendayung perahu ke pangkalan, lalu minum kopi dan makan lontong di bawah rumpun bambu yang menjadi tambatan perahu. Senda gurau di kedai kopi itu seolah tak ada kesan baru saja menjalani pekerjaan yang bertarung nyawa.  Belasan nelayan duduk di sana sambil menunggu matahari terbit, yang lain di kedai yang ada di sisi lain. Tangkapan pagi hari itu yang dijual di pasar-pasar kecamatan mulai dari Sihepeng, Simangambat, Siabu, Sinonoan, Malintang, Mompang, dan Panyabungan. Beberapa ditampung untuk di jual di Padangsidimpuan.

Ada juga yang menangkap ikan pada siang hari. Begitu sampai di pangkalan perahu, mereka minum kopi sebentar sambil menunggu panas.  Lalu satu dua nelayan mulai mendayung perahu menyusuri rawa. Sore mereka kembali membawa hasil tangkapan.  Lalu kembali ke pangkalan sambil  minum kopi menunggu maghrib.   Hasil  tangkapan siang itu yang akan dijual di pajak-pajak pagi tradisional di desa-desa sekitar.

Kehidupan seperti itu yang mereka jalani sejak berpuluh atau mungkin ratusan tahun yang lalu. Mereka adalah kelompok sosial yang nyaris tak pernah digubris, padahal mereka yang sepanjang tahun mensuplai kebutuhan ikan tawar di daerah ini.  Jangan sebut bantuan,  mereka tidak pernah dicatat sebagai petani ikan.***

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • MARSIDAO-DAO (episode 18)

    MARSIDAO-DAO (episode 18)

    • calendar_month Jumat, 15 Apr 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Novel Mandailing Nanisuratkon : Dahlan Batubara Dung kotu Isya dohot Si Poso mangiutkon amang nia tu bagas ni Si Maramis ima nangkan manaktak sibodak dohot mambongkai arambir nangkan gule markorja ancogot. Dung do mijur tingon bagas, les na tu sibodak namalamun do na adong i bagasan ni roa nia, harana dompak orja i bagas ni […]

  • Kembalilah Kepada Sang Pencipta

    Kembalilah Kepada Sang Pencipta

    • calendar_month Senin, 4 Mei 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh : Nurhabibah, S. Pd Ketika kemaksiatan merajalela. Keangkuhan tampak di mana mana. Hampir di setiap penjuru dunia kemungkaran menjadi hal yang biasa. Di saat alam sudah mulai muak. Namun Allah SWT yang Maha Kasih yang Maha Sayang, memberi peringatan melalui mahluk kecilnya yang bernama corona. Virus ini telah menyebar di 198 negara. Di China, […]

  • Madina Tolak Kebijakan Sekolah 8 Jam Sehari

    Madina Tolak Kebijakan Sekolah 8 Jam Sehari

    • calendar_month Rabu, 14 Jun 2017
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy yang akan menerapkan sekolah 8 jam sehari sangat tidak populis dan perlu dikaji ulang. Kebijakan itu sepaket dengan rencana masa 5 hari per pekan yang akan ditereapkan pada  Tahun Ajaran 2017-2018. “Durasi 8 jam sehari ini dinilai akan mematikan jam belajar di madrasah […]

  • STOP TAMBANG RAKYAT

    STOP TAMBANG RAKYAT

    • calendar_month Rabu, 6 Feb 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Ketua DPC Peradi Tabagsel Padangsidimpuan, Ridwan Rangkuti SH MH menyatakan bahwa tambang rakyat di Huta bargot dan Naga Juang harus ditutup untuk menghindari korban nyawa yang lebih banyak di kemudian hari. Hal itu dikatakannya kepada Mandailing Online, Rabu (6/2) menyikapi peristiwa runtuhnya tambang batu emas di perbukitan Sarahan, Huta Bargot Julu, […]

  • Penangkapan 13 Warga Batahan I, Polres Madina Harus Arif

    Penangkapan 13 Warga Batahan I, Polres Madina Harus Arif

    • calendar_month Senin, 21 Mar 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Penyidik Polres Madina harus bijak dan profesional dalam melakukan proses penyidikan terhadap 13 warga Batahan I yang ditangkap atas tuduhan mencuri buah sawit. 13 warga Batahan I Kecamatan Batahan, Mandailing Natal (Madina) ditangkap pelisi Kamis pekan lalu atas tuduhan mencuri ketika memanen buah sawit di lahan perkebunan yang dinyatakan status stanpass […]

  • Jadi Wakil Gubernur, Deddy Mizwar Hanya Bawa Istri ke Bandung

    Jadi Wakil Gubernur, Deddy Mizwar Hanya Bawa Istri ke Bandung

    • calendar_month Kamis, 13 Jun 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    BANDUNG – Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat terpilih Ahmad Heryawan-Deddy Mizwar secara resmi akan dilantik oleh Presiden melalui Menteri Dalam Negeri, Gamawan Fauzi di Gedung Merdeka Bandung, pagi ini (Kamis, 13/6). Disela-sela persiapan pelantikan di hotel Savoy Homan Bidakara, Bandung, pagi ini (Kamis, 13/6), istri Deddy Mizwar, Gisela Wira Negara mengaku belum membawa barang […]

expand_less