Minggu, 11 Okt 2026
light_mode

PARRODANG: BERTAHAN SEPANJANG ZAMAN

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Senin, 12 Okt 2015
  • print Cetak

Catatan : Holik Nasution

Parrodang, begitu ia disebut. Pekerjaan ini identik dengan para pencari ikan di kawasan Rodang Tinapor, hamparan rawa besar.

Rodang ini membentang mulai dari Desa Huraba, Siabu, Bonandolok, Simangambat, Hutapuli dan batas muara Batang Gadis di sebelah barat (Mandailing Natal) hingga ke batas Sayur Matinggi di sebelah utara (Tapanuli Selatan).

Selain menjadi sarang nyamuk malaria, sebagaian kawasan Rodang ini juga menjadi lahan pertanian yang subur serta menjadi sumber resapan air. Pertemuan dua sungai besar, yakni Sungai Batang Gadis dan Sungai Batang Angkola,  membentuk  kawasan  rawa yang sangat luas. Karena itu juga menjadi sumber ikan rawa yang khas. Tak banyak yang tahu bahwa suplai ikan sungai untuk wilayah Siabu, Panyabungan, dan Padangsidimpuan, berasal dari kawasan ini.

Berbagai jenis ikan rawa mudah ditemukan di sini, misalnya Aruting, Tingkalang, Limbat, Inggit-inggit, Tawes, Capet dan Tunggu Lubuk. Kadang-kadang ada juga ikan air tawar yang berasal dari ekosistem sungai, misalnya Ikan Mas,  Siruan, Aporas, dan Sulum. Ikan jenis ini diduga berasal dari kedua sungai besar tadi.  Kawasan ini, karena sedemikian pentingnya, ada di peta kolonial. Tapi tentu tak ada di peta daerah Mandailing Natal.

Ratusan keluarga dari desa-desa sekitar memperoleh rezeki di Rodang, baik sebagai petani sawah, palawija, kebun (di daratan yang tak tergenang) dan tentu sebagai pencari ikan (yang tergenang). Lahan-lahan non rawa yang membentang ratusan hektar merupakan lahan yang subur karena kekayaan unsur hara yang dibawa banjir kedua sungai utama.

Banjir memang menjadi musuh utama petani. Masa akhir tahun ketika curah hujan sangat tinggi, celah sempit di Lumpatan Harimau tidak mampu lagi menampung debit air untuk disalurkan ke hilir. Air Sungai yang meluap melimpah di kawasan ini, membentuk genangan besar ratusan hektar. Banjir ini yang membuat panen gagal dan hanyut terbawa banjir. Sudah menjadi tradisi tahunan seperti itu.

Tetapi bersamaan dengan datangnya banjir, beberapa ikan melimpah dari kedua sungai. Dan saat banjir kering, petani ikan akan membawa tangkapan yang banyak.  Perahu nelayan rawa ini akan berseliweran menyusuri celah-celah rawa yang sempit sambil membawa alat penangkap ikan yang berbagai rupa: jaring, keramba, lobu-lobu, dan sebagainya.

Semakin surut air, semakin mudah menangkap ikan, karena ikan terperangkap dalam genangan-genangan rawa. Hanya dalam satu kubangan kecil bisa ditemukan berkilo-kilo ikan dalam berbagai ukuran. Ikan aruting misalnya ada yang sampai seberat 5 – 10 kilogram per ekor. Ikan tangkapan ini yang dijual di desa-desa sekitar Kecamatan Siabu setiap pagi dan sore, atau oleh pedagang tertentu dijual  di  pasar  Panyabungan hingga Padangsidimpuan.

Pekerjaan menangkap ikan ada yang dilakukan malam hari. Ketika hari telah gelap, nelayan mendayung perahunya menyusuri rawa, sambil membawa lampu teplok, bubuh, kail, dan alat penangkap ikan lainnya.  Rawa yang penuh ular berbisa dan binatang buas lainnya, tentu bukan hal yang jarang lagi.

Para nelayan harus melintas di bawah rindangnya pohon yang dahannya tepat di atas lintasan perahu, acapkali berpapasan dengan ular paling berbisa. Bahkan beberapa jenis ular yang menyukai cahaya, segera berlari ke lampu teplok di depan perahu, atau melintas di atas perahu. Dalam kondisi begitu, nelayan sering harus melompat dari atas perahu, berenang tanpa alat penerang, atau menghabiskan malam di atas pohon menunggu pagi. Tapi ada kalanya, kalau rezeki sedang baik, para nelayan bisa membawa tangkapan berkilo-kilo, cukup untuk menutupi biaya kebutuhan hidup dua-tiga hari.

Pagi mereka pulang, mendayung perahu ke pangkalan, lalu minum kopi dan makan lontong di bawah rumpun bambu yang menjadi tambatan perahu. Senda gurau di kedai kopi itu seolah tak ada kesan baru saja menjalani pekerjaan yang bertarung nyawa.  Belasan nelayan duduk di sana sambil menunggu matahari terbit, yang lain di kedai yang ada di sisi lain. Tangkapan pagi hari itu yang dijual di pasar-pasar kecamatan mulai dari Sihepeng, Simangambat, Siabu, Sinonoan, Malintang, Mompang, dan Panyabungan. Beberapa ditampung untuk di jual di Padangsidimpuan.

Ada juga yang menangkap ikan pada siang hari. Begitu sampai di pangkalan perahu, mereka minum kopi sebentar sambil menunggu panas.  Lalu satu dua nelayan mulai mendayung perahu menyusuri rawa. Sore mereka kembali membawa hasil tangkapan.  Lalu kembali ke pangkalan sambil  minum kopi menunggu maghrib.   Hasil  tangkapan siang itu yang akan dijual di pajak-pajak pagi tradisional di desa-desa sekitar.

Kehidupan seperti itu yang mereka jalani sejak berpuluh atau mungkin ratusan tahun yang lalu. Mereka adalah kelompok sosial yang nyaris tak pernah digubris, padahal mereka yang sepanjang tahun mensuplai kebutuhan ikan tawar di daerah ini.  Jangan sebut bantuan,  mereka tidak pernah dicatat sebagai petani ikan.***

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kuasa Hukum : Foto di Medsos bukan lokasi PT. TBS

    Kuasa Hukum : Foto di Medsos bukan lokasi PT. TBS

    • calendar_month Kamis, 15 Agt 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – PT. Tri Bahtera Srikandi (TBS) sejauh ini tak pernah merusak hutan bakau (mangrove) di Pantai Barat Mandailing Natal dalam aktvitas perkebunan sawit. Itu diungkapkan kuasa hukum PT.TBS, H Ridwan Rangkuti, SH.MH dalam konferensi pers di Panyabungan, Mandailing Natal (Madina), Kamis (15/8/2019). Penjelasan itu disampaikan Ridwan Rangkuti menyusul munculnya tuduhan perusakan […]

  • Agar Keluar dari PPKM Level 4, Madina Harus Capai Target Ini

    Agar Keluar dari PPKM Level 4, Madina Harus Capai Target Ini

    • calendar_month Jumat, 17 Sep 2021
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Sejak Inmendagri Nomor 40 keluar pada tanggal 6 September 2021 yang menetapkan Mandailing Natal (Madina) PPKM Level 4 Covid-19, sekolah kembali ditutup dan pembatasan aktivitas masyarakat yang lebih ketat harus diambil pemerintah. Untuk keluar dari PPKM level 4, Pemkab Madina minimal harus mencapai 20 persen dari total target vaksinasi. Target itu […]

  • Maslin Batubara dan Pandapotan Nasution Dukung Brigjend Sofwat

    Maslin Batubara dan Pandapotan Nasution Dukung Brigjend Sofwat

    • calendar_month Kamis, 1 Agt 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      MEDAN (Mandailing Online) – Bakal Calon Bupati Madina, Brigjend TNI (Purn) M. Sofwat Nasution bersilaturrahmi dengan dua tokoh perantau Madina di Medan. Kedua tokoh Madina itu, H. Pandapotan Nasution (tokoh pemekaran Kabupaten Mandailing Natal) serta H. Maslin Batubara (pengusaha) asal Madina. Silaturrahim dengan berlangsung H. Pandapotan Nasution Rabu malam (31/7/2019) di kediaman H. Pandapotan […]

  • Mata Pribumi Garap Film “Balada Gordang Sambilan”

    Mata Pribumi Garap Film “Balada Gordang Sambilan”

    • calendar_month Senin, 4 Feb 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Satu lagi film mandailing akan beredar. Pihak Mata Pribumi saat ini sudah menyelesaikan kegiatan shoting yang dilakukan di berbagai lokasi di Mandailing Natal. Film garapan sutradara Ikhsan Lubis ini tengah memasuki tahapan penggarapan di studio, baik proses editing maupun pengisian suara. Film yang disponsori Kampoeng Kaos Madina ini dijadwal beredar pada […]

  • Proyek Jalan Usaha Tani di Desa Jambur Baru Batangnatal Mankrak. Garda Pantai Barat Akan Lapor Ke Tipikor

    Proyek Jalan Usaha Tani di Desa Jambur Baru Batangnatal Mankrak. Garda Pantai Barat Akan Lapor Ke Tipikor

    • calendar_month Selasa, 31 Mar 2026
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    MADINA||Mandailing Online-  Proyek jalan usaha tani di Desa Jambur Baru, Kecamatan Batang Natal, Kabupaten Mandailing Natal, yang bersumber dari Dana Desa Tahun Anggaran 2024 dan 2025 diduga mangkrak dan belum memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat. Erisandi Nasution, Ketua Gerakan Pemuda Pantai Barat (Garda Pantai Barat), menyatakan bahwa proyek tersebut terindikasi mangkrak setelah melakukan konfirmasi langsung […]

  • Usai Hadiri Temu Karya, Ketua KT Madina Serahkan Bantuan untuk Pesantren di Longat

    Usai Hadiri Temu Karya, Ketua KT Madina Serahkan Bantuan untuk Pesantren di Longat

    • calendar_month Senin, 20 Des 2021
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    LONGAT (Mandailing Online) – Usai menghadiri Temu Karya ke-III Karang Taruna (KT) Panyabungan Barat di SMPN 1 Panyabungan Barat pada Sabtu (19/12), Ketua KT Mandailing Natal (Madina) Zul Kifli Nasution memberikan bantuan untuk Ponpes Darul Amin, Longat. Pesantren tersebut mengalami rusak parah akibat terjangan Aek Sarir yang meluap pada Sabtu (18/12) lalu. Penyerahan bantuan didampingi […]

expand_less