Kamis, 15 Okt 2026
light_mode

PARRODANG: BERTAHAN SEPANJANG ZAMAN

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Senin, 12 Okt 2015
  • print Cetak

Catatan : Holik Nasution

Parrodang, begitu ia disebut. Pekerjaan ini identik dengan para pencari ikan di kawasan Rodang Tinapor, hamparan rawa besar.

Rodang ini membentang mulai dari Desa Huraba, Siabu, Bonandolok, Simangambat, Hutapuli dan batas muara Batang Gadis di sebelah barat (Mandailing Natal) hingga ke batas Sayur Matinggi di sebelah utara (Tapanuli Selatan).

Selain menjadi sarang nyamuk malaria, sebagaian kawasan Rodang ini juga menjadi lahan pertanian yang subur serta menjadi sumber resapan air. Pertemuan dua sungai besar, yakni Sungai Batang Gadis dan Sungai Batang Angkola,  membentuk  kawasan  rawa yang sangat luas. Karena itu juga menjadi sumber ikan rawa yang khas. Tak banyak yang tahu bahwa suplai ikan sungai untuk wilayah Siabu, Panyabungan, dan Padangsidimpuan, berasal dari kawasan ini.

Berbagai jenis ikan rawa mudah ditemukan di sini, misalnya Aruting, Tingkalang, Limbat, Inggit-inggit, Tawes, Capet dan Tunggu Lubuk. Kadang-kadang ada juga ikan air tawar yang berasal dari ekosistem sungai, misalnya Ikan Mas,  Siruan, Aporas, dan Sulum. Ikan jenis ini diduga berasal dari kedua sungai besar tadi.  Kawasan ini, karena sedemikian pentingnya, ada di peta kolonial. Tapi tentu tak ada di peta daerah Mandailing Natal.

Ratusan keluarga dari desa-desa sekitar memperoleh rezeki di Rodang, baik sebagai petani sawah, palawija, kebun (di daratan yang tak tergenang) dan tentu sebagai pencari ikan (yang tergenang). Lahan-lahan non rawa yang membentang ratusan hektar merupakan lahan yang subur karena kekayaan unsur hara yang dibawa banjir kedua sungai utama.

Banjir memang menjadi musuh utama petani. Masa akhir tahun ketika curah hujan sangat tinggi, celah sempit di Lumpatan Harimau tidak mampu lagi menampung debit air untuk disalurkan ke hilir. Air Sungai yang meluap melimpah di kawasan ini, membentuk genangan besar ratusan hektar. Banjir ini yang membuat panen gagal dan hanyut terbawa banjir. Sudah menjadi tradisi tahunan seperti itu.

Tetapi bersamaan dengan datangnya banjir, beberapa ikan melimpah dari kedua sungai. Dan saat banjir kering, petani ikan akan membawa tangkapan yang banyak.  Perahu nelayan rawa ini akan berseliweran menyusuri celah-celah rawa yang sempit sambil membawa alat penangkap ikan yang berbagai rupa: jaring, keramba, lobu-lobu, dan sebagainya.

Semakin surut air, semakin mudah menangkap ikan, karena ikan terperangkap dalam genangan-genangan rawa. Hanya dalam satu kubangan kecil bisa ditemukan berkilo-kilo ikan dalam berbagai ukuran. Ikan aruting misalnya ada yang sampai seberat 5 – 10 kilogram per ekor. Ikan tangkapan ini yang dijual di desa-desa sekitar Kecamatan Siabu setiap pagi dan sore, atau oleh pedagang tertentu dijual  di  pasar  Panyabungan hingga Padangsidimpuan.

Pekerjaan menangkap ikan ada yang dilakukan malam hari. Ketika hari telah gelap, nelayan mendayung perahunya menyusuri rawa, sambil membawa lampu teplok, bubuh, kail, dan alat penangkap ikan lainnya.  Rawa yang penuh ular berbisa dan binatang buas lainnya, tentu bukan hal yang jarang lagi.

Para nelayan harus melintas di bawah rindangnya pohon yang dahannya tepat di atas lintasan perahu, acapkali berpapasan dengan ular paling berbisa. Bahkan beberapa jenis ular yang menyukai cahaya, segera berlari ke lampu teplok di depan perahu, atau melintas di atas perahu. Dalam kondisi begitu, nelayan sering harus melompat dari atas perahu, berenang tanpa alat penerang, atau menghabiskan malam di atas pohon menunggu pagi. Tapi ada kalanya, kalau rezeki sedang baik, para nelayan bisa membawa tangkapan berkilo-kilo, cukup untuk menutupi biaya kebutuhan hidup dua-tiga hari.

Pagi mereka pulang, mendayung perahu ke pangkalan, lalu minum kopi dan makan lontong di bawah rumpun bambu yang menjadi tambatan perahu. Senda gurau di kedai kopi itu seolah tak ada kesan baru saja menjalani pekerjaan yang bertarung nyawa.  Belasan nelayan duduk di sana sambil menunggu matahari terbit, yang lain di kedai yang ada di sisi lain. Tangkapan pagi hari itu yang dijual di pasar-pasar kecamatan mulai dari Sihepeng, Simangambat, Siabu, Sinonoan, Malintang, Mompang, dan Panyabungan. Beberapa ditampung untuk di jual di Padangsidimpuan.

Ada juga yang menangkap ikan pada siang hari. Begitu sampai di pangkalan perahu, mereka minum kopi sebentar sambil menunggu panas.  Lalu satu dua nelayan mulai mendayung perahu menyusuri rawa. Sore mereka kembali membawa hasil tangkapan.  Lalu kembali ke pangkalan sambil  minum kopi menunggu maghrib.   Hasil  tangkapan siang itu yang akan dijual di pajak-pajak pagi tradisional di desa-desa sekitar.

Kehidupan seperti itu yang mereka jalani sejak berpuluh atau mungkin ratusan tahun yang lalu. Mereka adalah kelompok sosial yang nyaris tak pernah digubris, padahal mereka yang sepanjang tahun mensuplai kebutuhan ikan tawar di daerah ini.  Jangan sebut bantuan,  mereka tidak pernah dicatat sebagai petani ikan.***

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pemerintah Tak Mau Rogoh Kocek untuk JSS

    Pemerintah Tak Mau Rogoh Kocek untuk JSS

    • calendar_month Jumat, 3 Feb 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Jakarta. Pembangunan Jembatan Selat Sunda (JSS) yang digadang akan memakai pola patungan swasta dan pemerintah atau public private partnership (PPP). Namun pemerintah pusat berharap tak mau keluar uang sepeser pun untuk mega proyek ini, semua akan diserahkan dana swasta. “Kita mengharapkan tidak ada uang pemerintah sepeser pun yang keluar, itu harapan kita,” kata Menteri Pekerjaan […]

  • PKB Rekomendasi 4 Calon Bupati

    PKB Rekomendasi 4 Calon Bupati

    • calendar_month Kamis, 13 Feb 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – DPC PKB Madina merekomendasikan 4 nama bakal calon bupati Madina untuk mengikuti uji kepatutan dan kelayakan di DPP PKB. Keempat nama itu adalah HM Jakfar Sukheri Nasution, Dahlan Hasan Nasution, M.Sofwad Nasution dan H.Ahmad Huzein Nasution. Rekomendasi itu diterbitkan setelah DPC PKB Madina melakukan ferifikasi administrasi berkas terhadap para bacalon bupati […]

  • Jakfar Sukhairi (memegang mikrofon) dan disebelahnya Atika Azmi Utammi Nasution dalam temu pers, Sabtu (24/4/2021)

    Sukhairi: Tidak Ada Lagi 01, 02, 03 Mari Bersama Membangun Madina

    • calendar_month Sabtu, 24 Apr 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – “Tidak ada lagi 01, 02, 03. Kita semua saudara dan kami juga sangat ingin dukungan dalam membangun Mandailing Natal ini bersama”. Itu ditegaskan HM Jakfar Sukhairi Nasution di kediamannya, Pasar Lama Panyabungan, Sabtu malam (24/4/2021) dalam temu pers. Pasangan HM Jakfar Sukhairi Nasution-Atika Azmi Utammi Nasution, B.AppFin.MFin memenangi Pilkada Madina usai […]

  • Bupati Jalur Linggabayu, Atika Jalur Batangtoru

    Bupati Jalur Linggabayu, Atika Jalur Batangtoru

    • calendar_month Senin, 20 Des 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANTAI BARAT (Mandailing Online) – Menyusul terbukanya akses jalan menuju Pantai Barat Madina, bupati dan wakil bupati langsung menuju kawasan banjir terparah, Senin (20/12/2021). Selain melakukan kordinasi langusung di lapangan, kedua pimpinan Pemkab Mandailing Natal (Madina) itu juga menyalurkan bantuan sembako dan material yang dibutuhkan warga. Bupati Madina, Ja’far Shukairi Nasution didampingi Dandim 0212, Letkol […]

  • Harga Cabe Merah di Panyabungan Masih Bertahan

    Harga Cabe Merah di Panyabungan Masih Bertahan

    • calendar_month Senin, 15 Jul 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 2Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Harga cabe merah relatif bertahan di kisaran 45.000 hingga 46.000 rupiah per kilo gram setelah terjadi kenaikan sepekan lalu. Midah Nasution (42) pedagang di pasar pagi Gunung Tua, Panyabungan, Mandailing Natal menjawab wartawan, Minggu (14/7/2013) mangatakan harga cabe merah 46.000 rupiah per kilo gram. Menurutnya, harga di daerah ini masih lumayan […]

  • Sekapursirih dari Pementasan “Multatuli” : Humanisme Douwes Dekker dan Sejarah Jalur Ekonomi Kopi

    Sekapursirih dari Pementasan “Multatuli” : Humanisme Douwes Dekker dan Sejarah Jalur Ekonomi Kopi

    • calendar_month Senin, 31 Jul 2017
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Pementasan drama “Multatuli” produksi Jeges Art di Taman Raja Batu, Panyabungan, Senin (31/7) sungguh sangat luar biasa. Plot cerita mengalir dengan sempurna, dialog-dialog yang menyentuh serta adegan-adegan yang berkarakter kuat. Askolani Nasution, sang sutradara, begitu berhasil membangun dimensi emosi yang sangat kuat pada setiap adegan. Pun, para pemain sangatlah pula piawai memerankan peran masing-masing. […]

expand_less